medikastar.id – Semua orang pasti ingin memasuki bulan Maret dengan semangat baru. Diharapkan, bulan ini dapat dijalani dengan penuh keberhasilan. Awal bulan ini, tepatnya tanggal 1 Maret, diperingati sebagai Hari Peringatan Melukai Diri Sendiri atau Self-Injury Awareness Day. Peringatan tersebut dilatar belakangi oleh meningkatnya kejadian melukai diri setiap tahunnya.
Seseorang yang melukai diri tentu memiliki penyebab atau alasan. Namun, apapun alasannya, tindakan ini pasti akan mendatangkan bahaya bagi diri sendiri maupun orang sekitar. Oleh karena itu, kita semua perlu memahami alasan dan akibat dari melukai diri. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya kejadian tersebut terhadap diri kita maupun orang di sekitar kita.
Self-Injury merupakan sebuah ekspresi terhadap sesuatu yang tidak menyenangkan, tanpa maksud bunuh diri. Perilaku ini dilakukan dengan cara menyakiti diri untuk mendapatkan rasa sakit atau luka dengan sengaja.
Berdasarkan survey pada beberapa tempat di dunia, setiap tahun, 1 dari 5 wanita dan 1 dari 7 pria melakukan tindakan melukai diri. Sebanyak 90% perilaku ini dimulai sejak masa remaja.
Penyebab Munculnya Perilaku Melukai Diri Sendiri
Terdapat berbagai macam penyebab kejadian melukai diri sendiri. Penyebab umum yang sering ditemui adalah tekanan di sekolah atau tempat kerja, bullying, masalah keuangan, hingga mengalami kekerasan seksual. Putus hubungan percintaan, kehilangan pekerjaan, menderita penyakit yang parah, dan rendahnya harga diri juga menjadi pemicu terjadinya self-harm.
Selain penyebab umum tersebut, masalah mental juga bisa menjadi pendorong utama seseorang dalam melukai diri. Gangguan mental seperti depresi, gangguan kecemasan (anxiety disorder), kemarahan, penyalahgunaan obat, gangguan makan, dan lain sebagainya adalah contoh penyebab kejadian ini.
Cara Mengidentifikasi Orang dengan Perilaku Melukai Diri Sendiri
Mungkin saja ada orang terdekat atau bahkan diri kita sendiri memiliki perilaku Self-Injury. Terdapat beberapa cara untuk mengidentifikasi orang dengan perilaku tersebut. Cara mengidentifikasinya adalah dengan melihat faktor perilaku, fisik, kognitif, dan psikososial seseorang. Cara ini direkomendasikan oleh Valley Behavioral Health System.
Baca juga: 29 Februari, Tanggal Langka untuk Hari Penyakit Langka Sedunia
Tanda atau gejala yang dapat muncul dari perilaku seseorang antara lain sangat sering menghabiskan waktu sendiri, memiliki masalah dalam pertemanan atau hubungan pacaran, dan senang menyimpan benda tajam. Selain itu, berhenti tiba-tiba dari kegiatan yang disukai tanpa alasan jelas dan melakukan tindakan-tindakan di luar dugaan juga sering ditunjukkan oleh orang tersebut.
Jika dilihat dari segi fisik, biasanya terdapat bekas luka, goresan baru, memar, patah tulang, sampai menggunting rambut sendiri. Tanda fisik ini biasanya terlihat jelas dan jika ditanya, orang yang melukai diri akan mengatakan bahwa hal tersebut adalah kecelakaan.
Berdasarkan faktor kognitif, seseorang yang senang melukai diri cenderung terus mempertanyakan tentang identitas pribadinya. Hal lain yang juga akan terlihat adalah perasaan tidak berdaya, hilang harapan, dan merasa tidak berharga.
Hal yang juga akan terlihat jelas adalah aspek psikososialnya. Biasanya orang tersebut akan mengalami mati rasa pada emosinya atau memiliki emosi dan mood yang tidak stabil. Depresi, selalu merasa cemas, selalu merasa bersalah, dan merasa diri memalukan atau menjijikkan juga akan terlihat.
Terkadang, beberapa orang juga akan mulai melukai diri dengan minum minuman keras dan menggunakan obat-obatan. Ada juga waktu-waktu tertentu yang digunakan untuk melukai diri. Contohnya adalah saat sedang sendirian atau pada malam hari.
Jika tanda dan gejala tersebut tidak diindentifikasi dan tidak dicegah, maka orang yang melukai diri akan membahayakan dirinya sendiri. Bahaya yang biasa ditimbulkan antara lain patah tulang, menjadi anti-sosial, ketakutan permanen, cidera serius pada tubuh, infeksi penyakit, keracunan, hingga bunuh diri atau kecelakaan lain.
Cara untuk Mencegah Perilaku Melukai Diri Sendiri
Jika kita sedang mengalami tanda dan gejala tersebut, kita perlu memikirkan cara untuk keluar dari gangguan tersebut atau mencari pertolongan. Sedangkan, jika kita mengetahui ada orang di sekitar kita yang mengalaminya, kita dapat memberikan bantuan.
Terdapat beberapa cara yang dapat kita lakukan terhadap diri sendiri untuk mencegah perilaku Self-Injury ini. Cara pencegahan tersebut seperti mengganti suasana atau tidak berada di tempat yang mendukung tindakan melukai diri. Contohnya adalah sendirian dan berada di dekat benda-benda tajam. Jika muncul keinginan melukai diri, kita bisa keluar dari tempat tersebut dan pergi ke tempat yang dirasa aman.
Menangis atau mendengarkan lagu yang memberi semangat juga dapat membantu. Dengan melakukan keduanya, hati kita bisa merasa lebih nyaman. Berbicara dengan orang lain dan menceritakan apa yang dirasakan juga bisa membantu mencegah perilaku melukai diri. Dengan memberitahu orang lain yang dipercaya, beban yang dirasakan dapat berkurang.
Yang menjadi poin penting dari pencegahan Self-Injury adalah mencari pertolongan atau mengambil tindakan secepat mungkin sebelum perilaku tersebut dilakukan. Selain itu, kita perlu memahami pemicu perilaku ini, serta mengubah pola pikir negatif yang selama ini kita miliki. Cara melakukannya adalah dengan memperlajari dan menjalankan pola hidup yang positif dan kelilingi diri kita dengan orang-orang yang memiliki kehidupan yang positif.
Jika kita menemui atau merasa bahwa ada orang terdekat kita yang memiliki kecenderungan tersebut, kita dapat melakukan beberapa hal berikut untuk mencegah mereka melukai diri. Berilah perhatian dan rasa nyaman, berusaha untuk menerima pendapatnya meski hal tersebut kurang disetujui, dan menjadi pendengar yang baik bagi mereka.
Hindari menunjukkan rasa panik pada mereka, jangan mengancam atau memarahi mereka untuk berhenti melakukannya, dan bila perlu carilah bantuan dari orang-orang yang ahli di bidang kesehatan mental.
Mitos Tentang Perilaku Melukai Diri Sendiri
Meski melukai diri sendiri berhubungan dengan psikologis yang terganggu, namun orang yang melakukannya tidak termasuk kategori orang dengan kelainan mental atau gila. Hal ini adalah sebuah mitos yang sering beredar di masyarakat.
Selain itu, mitos lain juga mengatakan bahwa orang yang melukai diri melakukannya untuk mencari sensasi atau perhatian. Kejadian ini juga sering dianggap tidak terlalu penting. Padahal, orang-orang yang mengalami gangguan ini sedang berada dalam kondisi yang membutuhkan pertolongan.
Oleh karena itu, dengan mengetahui penyebab dan akibat yang ditimbulkan, diharapkan kita dapat lebih memiliki kesadaran tentang perilaku melukai diri. Dengan adanya kesadaran tersebut, kita bisa mencegah orang di sekitar kita atau mungkin diri kita sendiri untuk melakukannya. (har)
Baca juga: Jokowi Umumkan 2 Orang Positif Virus Corona di Indonesia

