Angka kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator penting dalam menentukan derajat kesehatan masyarakat. Sayangnya, di Indonesia AKI masing tergolong tinggi. Menurut SDGs, target AKI 70 per 100.000 KH, AKB 25 per 1.000 KH, dan angka kematian neonatus 12 per 1.000 KH pada tahun 2030 (Kemenkes RI, 2020).
Secara khusus di NTT, jumlah kematian ibu di NTT pada tahun 2022 antara lain sebanyak 171 kasus. Sementara itu kasus kematian bayi berada di angka 1.139 kasus. Per Agustus 2023 telah terjadi 74 kasus.
Penyebab kematiannya antara lain karena perdarahan, eklamsi, infeksi, dan penyebab lain seperti jantung, gangguan darah dan gangguan metabolik. Penyebab tidak langsung, yaitu faktor sosial termasuk dukungan suami dan keluarga, faktor ekonomi, geografi, akses termasuk persalinan di rumah yang ditolong dukun. Jika dipersentasekan, penyebab utama kematian bayi antara lain asfiksia sebesar 27%, BBLR 18%, kelainan bawaan 8%, pneumonia 7%, gangguan lainnya sebesar 6%. Sedangkan masalah sosial, budaya dan ekonomi masyarakat berada di angka 34%.

Penelitian berkaitan dengan penyebab kematian ibu secara tidak langsung khususnya salah satu faktor sosial yaitu dukungan suami menggambarkan bahwa memang ada hubungan antara dukungan suami yang diberikan dalam persalinan terhadap lamanya proses persalinan (Bakoil dan Diaz, 2019). Selain itu, suami juga memberikan dukungan lain seperti dukungan emosional, transportasi, dan biaya, dukungan terkait dengan pemanfaatan Rumah Tunggu Persalinan dan tempat persalinan (Bakoil, Supriyanto & Koesbardiati, 2017). Dalam hal ini tentunya suami tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan istri selama proses persalinan, tetapi juga membuat ibu merasa lebih nyaman (Lestari, Mufdlilah, Ernawati, 2019).
Seiring perkembangan zaman, khususnya perkembangan dunia digital saat ini dan mengingat pentingnya dukungan suami bagi ibu, maka pemberian dukungan suami ini harus terus berinovasi dan dikemas secara menarik sesuai dengan perkembangan yang ada. Ini tentunya sangat penting mengingat suami adalah orang atau keluarga yang paling dekat dengan ibu. Untuk itulah dilaksanakan pengabdian masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan pemberdayaan masyarakat melalui implementasi Aplikasi Elektronik Suami Siaga Support bagi Ibu (S3I’THA) oleh Suami dan Kader Posyandu.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Desa Oelnasi Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang. Desa tersebut merupakan daerah binaan Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Kupang. Jarak tempuh dari Kota Kupang ke desa tersebut ialah 21,5 km dan dapat ditempuh selama 47 menit. Secara administratif, desa Oelnasi merupakan salah satu desa dari 7 desa di Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang.
Dalam prosesnya, kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada hari Kamis (10/08/2023) oleh tim pengabdian kepada masyarakat, bertempat di Pendopo Dusun IV. Acara pembukaan oleh Kepala Dusun IV Desa Oelnasi. Jumlah peserta, terdiri dari suami dan kader yang hadir sebanyak 24 orang.

Kegiatan dimulai dengan para suami dan kader melakukan proses penginstalan aplikasi pada HP android masing-masing. Selanjutnya peserta mengisi aplikasi S3I’THA terkait dengan dukungan suami yang telah diberikan kepada ibu meliputi dukungan fisik, emosional, informasional, dan advokasi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat berjalan lancar dan baik, serta akhirnya mendapatkan hasil kesimpulan dari proses pengisian aplikasi yaitu bahwa mayoritas suami termasuk kategori baik dalam pemberian dukungan kepada ibu.
Melalui kegiatan ini dapat dilihat bahwa pemberdayaan masyarakat melalui implementasi aplikasi S3I’THA memberikan manfaat yang baik khususnya bagi peserta. Hal ini karena peserta secara langsung mengetahui bentuk dukungan yang telah suami berikan kepada ibu, apakah termasuk dalam kategori baik, cukup atau kurang. Selain itu ini juga ikut menumbuhkan interaksi yang baik antara suami dan istri (Bakoil et al., 2023).

Dari sisi teknis aplikasi, baik tampilan maupun proses, aplikasi tersebut dinilai baik oleh suami dan kader. Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa aplikasi ini terbukti bermanfaat dalam proses penilaian dukungan suami bagi ibu.
Lebih jauh, melalui aplikasi S3I’THA dapat dilihat bahwa dukungan suami sangat penting untuk meningkatkan kesehatan ibu maupun keluarga. Oleh karena itu maka edukasi dan motivasi harus terus diberikan kepada suami untuk selalu memberikan dukungan kepada istri maupun ibu-ibu atau kelompok ibu yang ada di sekitar tempat tinggal. (*)

