Oleh: Flavianus Riantiarno
Pandemi Virus Corona (Covid-19) yang terjadi pada awal tahun 2020 memberikan dampak yang luas dalam kehidupan masyarakat. Pandemi Covid-19 merupakan satu kejadian luar biasa dalam satu dekade ini, sehingga efek yang ditimbulkan juga besar dan mencakup berbagai aspek. Dampak yang timbul akibat pandemi ini muncul satu-satu dalam berbagai aspek kehidupan. Pandemi berpengaruh pada kesehatan, ekonomi, sosial dan sebagainya. Dampak pada aspeek kesehatan paling nyata terlihat. Data menunjukan begitu banyaknya orang yang tertular dan meninggal akibat virus ini. Banyaknya orang tertular, dan besarnya resiko dari virus ini menimbulkan permasalahan baru yaitu terganggunya kesehatan mental seseorang. Stres, depresi dan sebagainya muncul di tengah masyarakat. Sehingga bukan hanya masalah fisik yang terjadi, tetapi juga masalah mental yang terjadi dan hal ini menjadi sangat serius.
Kesehatan Mental Di Masa Pandemi
Menurut badan kesehatan dunia (WHO), ketidakpastian, kebingungan, dan keterdesakan merupakan tanda dari pandemi. Pada awal pandemi ini, masyarakat masih bersikap acuh atau masa bodoh, karena tidak terlalu memikirkannya. Namun dengan begitu banyak kasus dan kematian, maka mulai muncul rasa cemas, kepanikan ataupun ketakutan. Apalagi dengan berbagai berita miring, hoax dan penggunaan media sosial yang keliru. Lalu kemudian dengan ketidakpastian soal pencegahan, pengobatannya, maka menimbulkan ketakutan yaang tinggi dari masyarakat. Maka muncul sikap penolakan pasien Covid di tengah masyarakat, menolak tenaga kesehatan yang menangai pasien Covid. Ini semua bentuk daripada ketakutan, kepanikan dan kecemasan.
Berbagai kondisi yang terjadi selama pandemi ini memberikan efek psikologis kepada masyarakat. COVID-19 menjadi pemicu timbulnya masalah kesehatan jiwa. Gelisah, stres, khawatir, merasa takut atau cemas akan yang terjadi, terlalu memikirkan atau memikirkan secara terus menerus, dan sulit berkonsentrasi merupakan akibat dari pada pandemi. Hal ini merupakan bukti adanya masalah kesehatan jiwa pada masa pandemi. Hasil penelitian Rinaldi & Yuniasanti, 2020 mengatakan bahwa selama pandemi COVID-19, pada sampel masyarakat Indonesia menunjukkan 7,6% mengalami kecemasan yang tinggi. Maka memang, pandemi ini membawa dampak bagi kesehatan mental. Perlu penanganan baik melalui pencegahan ataupun kuratif dalam mengatasi permasalahan kesehatan jiwa, sehingga tidak melonjak angak kejadian di masa mendatang.
Menyesuaikan Diri, Sebuah Masker Sehat Jiwa
Meski demikian, pada dasarnya pandemi tidak terlalu berpengaruh pada kesehatan mental jika kita menggunakan masker untuk mencegahnya. Kalau pemerintah menyarankan mencegah penularan covid dengan mencuci tangan, menggunakan masker dan jaga jarak, maka untuk menjaga kesehatan jiwa di masa pandemi juga perlu menggunakan masker yaitu dengan menyesuaikan diri. Masker adalah alat menutup muka, topeng (KBBI). Masker merupakan sebuah bahan yang digunakan untuk mencegah terjadinya penularan, terutama penyakit menular seperti halnya Corona Virus ini. Bagaimana mencegah munculnya masalah kesehatan jiwa di masa pandemi? Masker kesehatan jiwa masa pandemi adalah menyesuaikan diri. Mengapa demikian?
Adanya pandemi ini telah menghadirkan kebiasan-kebiasaan baru. Banyak hal yang dulu dengan leluasa kita lakukan, saat ini sudah tidak dapat lagi kita lakukan. Kebiasaan baru tersebut merupakan cara agar kita terhindar dari penularan. Adanya kebiasaan baru mengharuskan kita untuk beradaptasi dengan hal-hal baru tersebut. Rajin mencuci tangan, menggunakan masker, menjaga jarak adalah kebiasan baru yang sudah mulai kita lakukan. Bekerja, belajar,dan beribadah dilakukan di rumah. Hal ini menunjukkan bahwa Covid-19 telah mengubah cara hidup kita. Ini merupakan bentuk beradaptasi dengan cara hidup baru sehingga dapat melewati pandemi yang telah menyebar secara global.
Kebiasan-kebiasan ini merupakan realita yang terjadi dan masyarakat harus mampu menjalankan itu. Kemampuan masyarakat menjalan kebiasan-kebiasan tersebut dapat mengarah kepada penyesuain diri yang berdampak baik terhadap kesehatan mental. Sikap dan cara individu bereaksi terhadap manusia dan lingkungan sosial dan kejadian sekitar yang membentuk realitas, juga merupakan aspek yang besar pengaruhnya terhadap proses penyesuaian diri untuk kebahagiaan dan kesejahteraan jiwa.
Penyesuaian diri merupakan salah satu cara terbaik untuk menjaga kesehatan mental yang baik. Menyesuaikan diri dengan kebiasasan-kebiasaan baru ditengah pandemi adalah cara mencegah munculnya masalah kesehatan jiwa. Banyak penelitian yeng menunjukan ada hubungan penyesuaian diri dengan kesehatan mental. Penyesuaian diri yang baik akan berpengaruh terhadap kesehatan mental seseorang.
Bagaimana cara menyesuaikan diri di tengah pandemi? Beberapa literatur menunjukan cara agar seseorang mampu menyesuaikan diri. Misalnya dengan berdamai dengan keadaan, tidak perlu memikirkan situasi yang akan mendatang, fokus pada masa kini, tetap berhubungan dengan orang lain dan lingkungan, dan terus berpikir positif. Kesehatan mental yang baik akan berpengaruh juga pada kualitas hidup seseorang, oleh karenanya untuk tetap sehat jiwa maka menyesuaikan diri di tengah pandemi adalah maskernya.
Bersamaan dengan semangat hari kesehatan jiwa sedunia 2020, dengan tema Mental health for all: Greater Investment-Greater Accses (Kesehatan Jiwa Untuk Semua, inventasi lebih besar, akses lebih luas), maka kita harus menyadari kesehatan jiwa untuk kita semua, dengan menjadikan diri kita sendiri sebagai pelopor sehat jiwa, maka kita telah berinvestasi dan peluang untuk menyebarkan secara luas akan terbuka lebar. Jaga kesehatan fisik, jaga juga kesehatan jiwa. Salam sehat jiwa.
Video: Ini Marketing Terbaik bagi Usaha/Produk Anda
[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=iaZCgJZYngQ[/embedyt]
