Mesin Jahit Singer & Ide Pemberdayaan Ekonomi Warga

Atambua, medikastar.id

Sebuah mesin jahit yang terletak tepat di balik jendela ruang tamu rumah Mama Maria, di Desa Fohoeka, Kecamatan Nanaet Tubesi, Kabupaten Belu, sontak membawa kenangan dr. Agustinus Taolin pada masa kecil.

Ketika tiba di rumah tersebut, Jumat (24/7/2020), dokter penyakit dalam yang maju dalam Pilkada Belu 9 Desember nanti itu segera duduk di depan mesin jahit tersebut. Ia kemudian meletakan kakinya pada pedal mesin jahit bermerk Singer itu.

“Saya lihat mesin jahit ini langsung ingat masa kecil. Dulu kami punya mesin jahit seperti ini. Mama saya pakai untuk menjahit. Saya juga sering menggunakannya. Kalau ada baju atau celana saya yang robek saya sering jahit sendiri,” ujar dr. Agus sambil memperhatikan detil-detil mesin jahit yang sudah nampak tua tersebut.

“Ini dia sudah pakai dinamo tapi masih ada injakannya di sini. Jadi bisa pakai manual, bisa pakai dinamo. Ini sudah sedikit dimodernisasi,” lanjutnya sambil menunjuk dinamo dan pedal mesin jahit tersebut.

Mesin jahit Mama Maria, yang sehari-hari digunakan oleh anak laki-lakinya, Toni, untuk menjahit tersebut tak hanya membuka kembali memori dr. Agus pada masa kecilnya dulu di Halilulik. Kesetiaan Toni pada mesin jahit tua tersebut juga membawa dokter Agus pada ide pemberdayaan masyarakat sesuai kapasitas yang mereka miliki.

Kepada dr. Agus, Toni bercerita tentang rutinitasnya sebagai penjahit. Selain menjahit untuk kebutuhan di dalam rumah, ia juga melayani pesanan jahitan warga sekitar.

“Biasa jahit pakaian, jas, kalau dipesan, atau seragam untuk anak sekolah. Model apa saja saya bisa layani,” ujar Toni.

Menurutnya, beberapa orang di desa tersebut juga berminat mengembangkan usaha serupa. Namun, niat tersebut belum kesampaian karena terkendala modal untuk membeli peralatan.

“Anak-anak di sini banyak yang mau kursus tapi mesin tidak ada,” ujar.

“Kalau dari saya, saya bisa kasih kursus orang di sini,” lanjut Toni.

Menurut dr. Agus, kemampuan yang dipunyai Toni menjadi modal awal yang baik untuk pemberdayaan. Pemerintah tinggal membangun kemitraan dengannya untuk memberdayakan masyarakat sekitar demi meningkatkan ekonomi warga.

“Nanti kita akan kasih modal agar engkau bisa berdayakan masyarakat di sini. Kita akan kerja sama. Kalau ada bantuan seragam anak sekolah tinggal jahit di sini,” ujar dokter penyakit dalam yang mempunyai sub spesialis pada saluran cerna dan hati tersebut.

Ketua Bidang Kemitraan dan Kerjasama Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia tersebut juga menegaskan bahwa penguatan kapasitas warga harus menjadi perhatian pemerintah dalam pembangunan. Karena itu, identifikasi (data), kajian, pendampingan, monitoring dan evaluasi dan dukungan modal serta sarana prasarana akan mereka terapkan ketika memimpin Belu.

Dengan program kerja, startegi, pendampingan hulu-hilir, menurut dr. Agus, Belu dalam masa kepemimpinan mereka jika terpilih akan menjadi Belu yang Sehat, Berintegritas dan Kompetitif. Sehat yang dimaksud tidak hanya dalam aspek fisik, tetapi juga ekonomi (sejahtera), sosial (aman damai), dan sebagainya.

“Kerja di desa juga bisa. Tidak harus jadi pegawai untuk bisa hidup baik,” pesan dr. Agus kepada Toni di akhir pertemuan.

Video: Mengapa Harus Pakai Masker?

[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=xm0shUYhk8s[/embedyt]