Labuan Bajo, medikastar.id
Puncak peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) yang digelar di Labuan Bajo Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi ajang pembuktian membaurnya para pejabat, artis dan masyarakat sipil dalam memerangi masalah sampah.
Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Kawasan Kampung Ujung, Kelurahan Labuan, Kecamatan Komodo, Kabupaten Mabar menjadi saksi bisu membaurnya para pejabat, artis dan masyarakat. Di kalangan pejabat nampak hadir Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman dan Investasi RI, Luhut Binsar Panjaitan; Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) RI, Siti Nurbaya Bakkar; Menteri Kelautan dan Perikanan RI diwakili pelaksana tugas (Plt) Dirjen Pengelolaan Ruang Laut, Aryo Hanggono; Menteri PUPR RI diwakili Nuzulina Ilmiaty.
Juga nampak hadir Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan B2 Kementerian LHK RI, Rosa Vivien Ratnawati. Dari provinsi hadir Wakil Gubernur NTT, Josef A. Nae Soi. Di level pejabat kabupaten ada Bupati Manggarai Barat, Agustinus Ch. Dulla bersama Wakil Bupati Manggarai Barat, drh. Maria, Geong, P.hD; juga hadir Wakil Bupati Manggarai, Viktor Madur; Wakil Bupati Manggarai Timur, Jaghur Stefanus; Wakil Bupati Nagekeo, Marianus Waja dan para pimpinan DPRD kabupaten se daratan Flores.
Yang menarik mantan Menteri Lingkungan Hidup dan Kependudukan di era Presiden Soeharto, Sarwono Kusumaadmadja pun hadir; para tokoh agama, tokoh peduli lingkungan, aktivis pemerhati lingkungan. Nampak seluruh undangan yang berbaur dengan 10.000 warga yang ada di Labuan Bajo; yang terdiri dari orang dewasa, para pelajar. SD, SMP, SMA/SMK, SLB dan para mahasiswa yang berkumpul sejak pukul 05.30 wita di TPI Labuan Bajo dengan menggunakan kaos putih lengan panjang bertuliskan HPSN 2020.
Terpantau rombongan Menko Luhut yang didampingi Wagub Nae Soi, Bupati dan Wakil Bupati Manggarai Barat tiba di lokasi kegiatan pukul 07.00 wita. Mereka disambut dengan pemakaian selendang dan sarung khas Kabupaten Mabar kepada Menko Luhut; Menteri LHK oleh Bupati Mabar Agustinus Ch. Dulla.
Usai mengenakan selendang dan sarung selanjutnya rombongan disambut dengan persembahan tarian Lampah yakni, tarian Pilah Sampah yang dipergakan tiga pelajar SD Negeri Dinoyo 3 Malang. Tiga pelajar ini yang berhasil menjadi juara nasional Dancow Kreasi Anak Indonesia (DKAI) tahun 2019.
Tari Lampah dalam bahasa Jawa berarti berjalan. Maknanya ialah berjalan menuju sukses menjadi pegiat untuk menjaga lingkungan. Atas keunikan dan tema tarian yang sesuai dengan HPSN 2020 maka tarian Lampah (pilah sampah) dipilih sebagai tarian pembuka pada kegiatan puncak HPSN ini. Tiga siswa SDN 3 Dinoyo Malang tersebut berbaur dengan 60 pelajar SD di Labuan Bajo. Setelah tari Lampah Menko Luhut bersama rombongan diarak menuju tenda acara dengan menikmati persembahan lagu perangi sampah yang dipentaskan para siswa SLB di Labuan Bajo yang berkolaborasi dengan artis Jakarta opi Anderesta. (France Tiran, S.Si/Kasubag Pelmas dan Hubungan Kelembagaan Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT)
Dalam kesempatan itu Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman dan Investasi RI, Luhut Binsar Panjaitan mengingatkan agar HPSN tidak boleh sebatas seremoni saja.
“HPSN 2020 ini tidak boleh hanya sebatas seremoni sehari saja. Harus berlangsung terus- menerus dalan kehidupan keseharian kita,” kata Luhut.
Menurutnya, kehidupan keseharian Bupati dan Wabup Mabar harus menjadi contoh pertama bagi warganya untuk mengatasi sampah. Esok dan seterusnya, kata dia, semua masyarakat di tempat ini harus hidup bersih; perangi sampah; jangan membuang sampah sembarangan apalagi membuang sampah plastik di laut.
“Ingat, kebersihan itu bukti iman kita yang sungguh kepada Tuhan. Para rohaniwan dari berbagai pemeluk agama, khususnya dari Kristen cukup sudah bicara tentang Betlehem, Yerusalem dan lain-lain. Tema khotbahnya haruslah membahas tentang bagaimana mengatasi masalah sampah,” tutur Luhut.
Ditandaskan, setelah HPSN 2020 di Labuan Bajo ini maka masalah sampah harus selesai. Pemerintah Pusat sdebut Menko Luhut, telah mmberikan banyak fasilitas penanganan sampah dan telah mengedukasi masyarkat termasuk di Labuan BAjo ini.
“Sekarang tinggal kesadaran masyarakat setempat untuk membudayakan hidup bersih. Itu yang paling utama,” kata Luhut.
Menurut dia, stunting yang sebenarnya adalah kuntet itu berasal dari perilaku hidup tidak bersih dari manusia itu sendiri saat membuang sampah plastik ke laut.
“Nah, saat ikan-ikan memakan sampah plastik, isi daging ikan itu sudah terkontaminasi oleh sampah plastik yang telah dimakan oleh ikan tersebut. Selanjutnya daging ikan dikonsumsi lagi oleh manusia, khususnya oleh ibu hamil. Ibu hamil yang memakan ikan yang sudah terkontaminasi racun sampah plastik akan melahirkan generasi kuntet. Karena itu, stopp buang sampah plastik dan sampah-sampah lainnya di sembarang tempat apalagi buang ke dalam laut,” tandas Luhut.
Dia menambahkan bahwa apa yang dilakukan pada hari ini sangatlah berdampak pada bagaimana menciptakan generasi Indonesia hebat di masa datang.
“Perbaiki kualitas pendidikan dan kesehatan maka mimpi untuk mewujudkan Indonesia maju pasti terwujud,” tegasnya.
Di kesempatan itu Luhut juga meminta agar Pemerintah Provinsi NTT segera mengambil langkah cepat menyelesaikan masalah garam.
“Pemprov NTT segera ambil langkah cepat menyelesaikan masalah garam, khususnya menyangkut pembebasan lahan yang produktif untuk dikembangkan sebagai lahan garam. Saya minta Bapak Wakil Gubernur segera menyelesaikannya,” kata Luhut.
Sementara itu Wakil Gubernur NTT, Josef A. Nae Soi dalam sekapur sirihnya memberi apresiasi yang tinggi kepada jajaran Kementerian LHK RI dan sejumlah kementerian terkait yang telah memilih Labuan.Bajo sebagai salah satu tuan rumah penyelanggara HPSN 2020.
“Ini bukti bahwa kami semakin dipercaya untuk berbuat baik demi kemajuan masyarakat dan daerah ini,” tandas Nae Soi.
Menurut Nae Soi, masalah sampah merupakan pilihan antara membenci dan atau mencintai.
“Karena di saat kita melihat sampah maka akan timbul rasa benci untuk kita bisa membuang ke tempat yang pantas. Tapi di saat yang sama kita pula bisa mencintai sampah; saat kita melakukan 3R (reduce, reuse dan recycle) terhadap sampah. Agar sampah dapat bernilai ekonomis; karena kreativitas kita untuk mengelola sampai,” kata Nae Soi.
Ia menambahkan, sampah bukan sekadar sampah yang kelihatan di mata berupa sampah materi organik ataupun anorganik saja.
“Lebih dari itu sampah juga bisa hadir dalam batin hati kita; seperti menyebarkan hoax, fitnah, hidup penuh dendam. kebencian. Itulah sampah dalam hidup kita yang sebenarnya; yang harus kita bersihkan dari dalam diri kita. Jika kita buang sampah sembarangan maka kita juga akan menjadi sampah di dunia dan sampah di akhirat,” kata Nae Soi. (*/France Tiran_ Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT/red)
Baca Juga: Seruan Anti Narkoba dalam Peringatan Hari Perempuan Internasional di Kupang

