Pentingnya Edukasi Kesehatan Reproduksi pada Anak dan Remaja Sejak Dini

ilustrasi tolak kekerasan seksual

Oleh: Harry Andrean Dethan, S.KM – Mahasiswa Pascasarjana Peminatan PPK, Program Studi IKM, Universitas Gadjah Mada

Saat ini kekerasan seksual menjadi salah satu masalah yang sangat mendesak untuk segera ditangani. Anak-anak dan remaja merupakan target yang rentan bagi para pelaku yang berkeliaran. Bahkan, pelaku kekerasan seksual pada bisa saja berasal dari orang-orang terdekat yang seharusnya menjadi pelindung. Karena itu, orang tua dan pengasuh perlu memberi perhatian khusus pada masalah ini sejak dini.

Salah satu bentuk perhatian dan pengawasan yang penting dari orang tua pada anak dan remaja mereka adalah pemberian edukasi seputar kesehatan reproduksi. Adanya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi yang baik sejak dini bisa membuat mereka dapat memiliki kesadaran dan kemampuan lebih untuk menjaga diri dari risiko terjadinya kekerasan seksual.

Berdasarkan data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (KemenPPPA RI), sepanjang tahun 2021 lalu terdapat 8.730 anak yang mengalami kekerasan seksual. Sedangkan sepanjang tahun 2022 ini, sudah lebih dari 700 anak menjadi korban kekerasan seksual.

Data ini dapat terus meningkat, bahkan bisa saja terjadi di sekitar lingkungan keseharian masyarakat. Bahkan menurut Unicef, sekitar 1 dari 10 anak perempuan di dunia dengan usia di bawah 20 tahun telah dipaksa untuk melakukan hubungan seks atau tindakan seksual lainnya.

Terdapat berbagai bentuk kekerasan seksual yang perlu diketahui. Bentuknya antara lain pelecehan seksual, pemerkosaan, intimidasi seksual, pemaksaan perkawinan, aborsi secara paksa, hingga kontrol seksual yang bersifat diskriminatif. Kekerasan seksual yang dialami oleh anak dan remaja dapat berakibat buruk pada fisik maupun mental.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), terdapat beberapa akibat dari kekerasan seksual pada fisik dan mental korban. Pada fisik, korban bisa mengalami infeksi menular seksual, cidera, serta penyakit kronis pada masa mendatang seperti penyakit jantung, obesitas, hingga kanker. Pada mental, korban dapat mengalami depresi berkepanjangan, hingga mengidap posttraumatic stress disorder (PTSD).

Kesehatan reproduksi sangat diperlukan agar hak-hak reproduksi dan kehidupan seksual pada seseorang dapat ditingkatkan kemandiriannya, khususnya dalam mengatur fungsi dan proses reproduksinya, terlebih memiliki kemampuan untuk menghindari terjadinya kekerasan seksual. Dengan memiliki kesehatan reproduksi yang baik, kualitas kehidupannya dapat ditingkatkan.

Untuk dapat mencapai kondisi kesehatan reproduksi yang baik maka diperlukan adanya edukasi yang baik pula. Namun sayangnya, masih terdapat berbagai macam tantangan dalam pelaksanaan edukasi mengenai hal ini.

Masih terdapat banyak orang di kalangan masyarakat yang menganggap perbincangan mengenai kesehatan reproduksi sebagai hal yang tabu. Akibatnya, anak-anak dan remaja yang perlu mengetahui tentang pengenalan diri terkait kesehatan reproduksi sama sekali tidak mendapatkan pengetahuan tersebut.

Adanya stigma “omongan orang dewasa” menghadirkan halangan bagi para orang tua untuk menjelaskan tentang pengenalan organ reproduksi pada anak mereka. Anak dan remaja lantas menjadi abai pada batasan-batasan dalam tindakan seksual, rasa kepemilikan terhadap tubuh, dan potensi bentuk kekerasan seksual yang bisa dialami.

Kurangnya edukasi terkait kesehatan reproduksi juga diperparah dengan terdapatnya berbagai faktor yang bisa mendorong terjadinya kekerasan seksual. Contohnya seperti masih abainya kepedulian dari masyarakat terkait isu ini, serta kurangnya pengawasan dari orang tua terhadap anak-anak mereka.

Lalu, bagaimana cara memberikan edukasi kesehatan reproduksi secara baik bagi anak dan remaja? Terdapat beberapa pemahaman yang dapat diberikan pada anak dan remaja sejak dini.

Pertama, pentingnya memahami tentang alat reproduksi pada perempuan dan laki-laki. Mereka perlu mengetahui bahwa masa pubertas dapat menjadi tanda bahwa organ reproduksi mereka sudah mulai berfungsi. Karena itu, mereka perlu menjaga kesehatannya agar tidak berisiko terkena penyakit.

Selain itu, mereka perlu mengetahui organ-organ atau bagian tubuh mana saja yang perlu dilindungi dari sentuhan orang lain. Anak dan remaja juga perlu dibekali dengan metode perlindungan diri secara sederaha.

Contohnya seperti pada saat ada orang yang hendak memegang organ vital, secepatnya lari atau berteriak. Atau, jangan percaya dengan ajakan dari orang asing bahkan orang terdekat yang mengajak pergi ke tempat tertutup sendirian, dan masih banyak lagi.

Kedua, perlunya pengetahuan mengenai bentuk-bentuk kekerasan seksual yang dapat dialami dan cara menghindarinya. Contohnya seperti membuka pakaian di depan anak dan menunjukan alat kelamin hingga masturbasi atau melakukan penetrasi pada organ intim. Selain itu, ada pula meraba-raba alat kelamin, dada, paha, bokong anak atau remaja.

Mereka perlu memiliki kesadaran bahwa hal-hal tersebut tidak boleh dilakukan. Dengan begitu, mereka harus menghindar, lari, atau mencari bantuan ketika hal-hal tersebut akan terjadi.

Ketiga, pemahaman mengenai kesetaraan gender pada anak dan remaja adalah hal yang bisa menjadi tambahan bekal hidup. Mengapa pengetahuan tentang kesetaraan gender perlu dimiliki oleh anak dan remaja sedari dini? Agar mereka dapat memiliki pandangan yang luas dan rasa saling melindungi yang tinggi antar sesama.

Anak dan remaja dapat diajak untuk berbagi pengalaman mengenai aktivitas sehari-hari yang berhubungan dengan tugas-tugas laki-laki dan perempuan. Mereka perlu diberitahu tentang peran masing-masing individu antara laki-laki dan perempuan yang perlu dipersiapkan sejak dini, serta dijalani secara baik.

Edukasi Kesehatan reproduksi merupakan salah satu kebutuhan penting dari anak dan remaja sejak dini. Dengan pengetahuan tentang Kesehatan reproduksi yang cukup, anak dan remaja bisa memiliki risiko yang lebih kecil mengalami kekerasan seksual. Mereka bisa memiliki kemampuan untuk menghindari, melindungi diri, atau mencari bantuan ketika diharapkan pada kondisi buruk tersebut. (*)

Baca juga: Mengapa Kita Mudah Sakit Saat Musim Hujan?