Maumere, MedikaStar
Ketua Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Swadya Utama Maumere, Petrus Herlemus, meminta upaya nyata Gubernur NTT dalam mewujudkan visi NTT bangkit dan sejahtera. Salah satunya adalah dengan mendukung program sengonisasi yang telah dimulai oleh Puskopdit Swadaya Utama Maumere. Karena menurut Petrus, selain kelor, sengon juga dapat menjadi “emas hijau” di NTT.
Petrus yang saat ini memipin Puskopdit Swadaya Utama Maumere yang telah membawahi 39 koperasi kredit di pulau Flores dan Lembata ini menegaskan bahwa seluruh anggota Koperasi mendukung agar upaya NTT bangkit NTT sejahtera dapat terwujud.
Diungkapkan oleh Petrus bahwa saat ini koperasi kredit di NTT telah menyiapkan 3.200.000 bibit sengon. Bibit ini siap didistribusikan ke seluruh anggota koperasi dan juga rakyat NTT.
Menurutnya, pemasaran sengon tidak perlu diragukan. Melalui koperasi, pabrik pengolahan plywood berbahan baku sengon akan ada di NTT. Melalui koperasi pula, bibit sengon sudah tersebar ke daerah-daerah dan siap ditanam tahun ini.
Untuk pasaran sengon dewasa, koperasi telah bermitra langsung dengan pabrik, yakni PT. Mustika Group Lumajang, Jawa Timur. Koperasi telah berulang kali memfasilitasi petani sengon untuk mengantar langsung ke pabrik. Pemberangkatan dengan puluhan kontener sengon dewasa langsung dari petani dengan harga terjangkau tanpa biaya pengantaran.
“Untuk itu, kebijakan pemerintah sangat dibutuhkan saat ini oleh rakyat, yakni subsidi jalur laut untuk masyarakat, sebab pasar terbuka lebar. Pemerintah tidak perlu melakukan intervensi pasar, namun pemerintah diminta memfasilitasi menemukan pasar, selanjutnya masyarakat bersama lembaga yang dibentuknya dapat berproses secara mandiri,” ujar Petrus.
“Koperasi siap mendukung pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Koperasi mempunyai data, koperasi juga mempunyai massa. Mari bersama-sama membangun NTT, NTT bangkit, NTT sejahtera,” lanjutnya.
Tak hanya untuk petani dan anggota koperasi, Petrus juga mengharapkan agar gerakan memasyarakatkan sengon ini juga harus menjadi gerakan semua komponen masyarakat, termasuk para ASN.
“ASN perlu diubah mindset-nya ke pola wirausaha yang siap mendatangkan passive income. Selain itu, ASN juga diharapkan dapat menjadi motor penggerak ekonomi NTT,” tutur Petrus.
“Jika setiap ASN diwajibkan menanam 20 pohon sengon atau jika setiap desa menanam 1000 anakan pohon, maka berapa banyak sengon yang ada di NTT? Sedangkan lahan tidur di NTT banyak. Jika ada kebijakan pemerintah yag mewajibkan ASN dan warga menaman minimal 20 pohon sengon, bisa dibayangkan NTT 3, 4 atau 5 tahun ke depan,” sambung ketua koperasi Mitan Gita ini. (*)

