Petrus Herlemus: Tidak Benar Dinkes Sikka & RS Covid-kan Pasien

medikastar.id

Di tengah pandemi covid-19 yang melanda dunia, masyarakat Kabupaten Sikka justru diresahkan oleh isu-isu miring bahwa Dinas Kesehatan dan juga RSUD TC Hillers Maumere mengcovidkan pasien.

Terkait hal ini, Juru bicara Satgas Covid-19 Sikka sekaligus Kepala Dinas Kesehatan Sikka, Petrus Herlemus secara tegas menepis isu miring tersebut dan mengatakan bahwa isu tersebut merupakan isu yang tidak benar dan hanya menyesatkan masyarakat.

“Ini merupakan berita miring dan berita yang sangat menyesatkan masyarakat, sehingga saya cukup keras untuk mempertegas bahwa kami merupakan garda terdepan, kami bekerja keras demi misi kemanusiaan dan tidak main-main dengan covid-19,” tegas Petrus kepada media ini, Kamis (31/12/20).

Dirinya mengatakan bahwa penanganan covid-19 telah dan akan terus dilaksanakan sesuai dengan pedoman yang sudah diakui dan diturunkan oleh WHO melalui Kementerian Kesehatan lalu ke Dinas dan juga rumah sakit.

Di Kabupaten Sikka, lanjut Petrus, para pelaku perjalanan yang tanpa gejala dan juga yang rapid test anti gennya reaktif akan diambil sampel swabnya dan kemudian dikirim ke RSUD Prof. Dr. WZ. Johannes Kupang. Sementara bagi pasien yang masuk di rumah sakit dengan gejala mengarah ke covid-19 maka rumah sakit lah yang mengambil swab dan melakukan pemeriksaan di laboratorium TCM yang ada di RSUD TC Hillers untuk percepatan penegakan diagnose.

Petrus menjelaskan bahwa kasus covid-19 di Kabupaten Sikka saat ini bukan hanya berasal dari pelaku perjalanan dari luar kabupaten, tetapi berasal juga dari transmisi local antar sesama warga di kabupaten Sikka. Transmisi local kasus covid-19 ini cukup berbahaya dan perlu dipahami oleh masyarakat secara baik agar tidak mudah tersesat oleh isu miring bahwa dinas Kesehatan dan RSUD mengcovidkan pasien.

Hingga saat ini, lanjut Petrus, jumlah total pasien terkonfirmasi positif covid-19 yang meninggal dunia di kabupaten Sikka sebanyak 3 orang.  3 pasien tersebut rata-rata berumur di atas 60 tahun dan memiliki penyakit bawaan.

“Jadi perlu diketahui bahwa 3 pasien yang telah meninggal dunia dan terkonfrimasi positif covid-19 memang bukan pelaku perjalanan, tetapi setelah ditelusuri, mereka kontak erat dengan keluarganya yang datang dari daerah terpapar. Itu artinya bahwa mereka yang dari daerah terpapar yang tanpa gejala telah mentransmisikan covid-19 kepada pasien yang bersangkutan,” terangnya.

Dari kondisi ini, midset yang kemudian terbentuk ialah bahwa pasien bukan merupakan pelaku perjalanan selain itu tidak adanya kejujuran dari para pelaku perjalanan, sehingga berkembanglah isu-isu miring.

“Ketika (pasien-red) masuk rumah sakit, ada yang dirujuk dari rumah sakit swasta ke IGD RSUD TC Hillers lalu dirawat di ruang rawat inap, dalam perjalanan dokter penanggung jawab pasien mempertimbangkan bahwa yang bersangkutan harus dirapid test dan diswap, sehingga para dokter memutuskan untuk melakukan rapid test. Ternyata rapid test anti gennya reactif sehingga diinstruksikan untuk dilakukan swab,” tutur Petrus.

“Setelah diswab di laboratorium TCM yang ada di RSUD TC Hillers, hasilnya mereka terkonfirmasi positif. Sementara ada yang sudah diambil swab dan hasilnya belum keluar namun pasiennya meninggal.  Ini yang kemudian membentuk opini bahwa paien meninggal bukan karena covid-19,” lanjutnya.

Petrus mengatakan bahwa ada banyak orang yang berkomentar mengenai hal ini, namun sayangnya mereka bukanlah orang yang kompeten. Yang menjadi soal ialah mereka yang tidak berkompeten ini kemudian mempublish isu-isu miring tersebut di media sosial yang diakses oleh semua masyarakat yang tingkat pemahamannya tidak sama.

“Sehingga akhirnya terbentuklah opini bahwa rumah sakit dan dinas Kesehatan mengcovidkan pasien. Ini yang kita sesalkan,” ujarnya.

Lebih jauh Petrus mengajak masyarakat Sikka untuk tidak lengah dan selalu waspada terhadap penularan Covid-19.

“Jangan lengah dan jangan pernah main-main dengan covid-19,” tegasnya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk bijak dalam menerima segala informasi yang beredar di media sosial.

“Sebaiknya dipilih informasi yang bersumber dari narasumber yang kompeten, sebaiknya juga masyarakat mengakses langsung informasi ke satgas covid-19 di setiap kabupaten. Kalau di Sikka semua nomor satgas sudah kita berikan sehingga kita jangan berpolemik dalam bentuk opini yang menyesatkan masyarakat di medsos,” lanjutnya.

Sampai saat ini, lanjutnya, pandemic covid-19 belum dinyatakan berakhir sehingga masyarakat harus selalu siaga.

“Saya selalu katakan selamatkan diri dan selamatkan orang lain. Yang pertama ialah bahwa diri sendiri harus diselamatkan dulu lalu orang lain kita bisa selamatkan. Jadi jaga jarak, pakai masker,  jauhi kerumunan, rutin cuci tangan itu harus selalu kita lakukan,” ajaknya.

Kemudian, lanjut Petrus, menjelang pergantian tahun baru ini, jauhi kerumunan karena di NTT pada umumnya dan di Sikka pada khususnya sudah terjadi transmisi local.

“Kita harus perkuat sistem imun kita, jaga kesehatan dan banyak makan makanan yang bergizi dan mengkonsumsi vitamin. Yang kita harapkan ialah  jangan sampai ada korban lebih banyak lagi ke depan karena kelengahan kita,” tutupnya. (*Red)

Video: Terima Kasih Pahlawan, Jangan Menyerah

[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=FGoPIu_RbpU[/embedyt]