POGI NTT akan Gelar “Kupang Obstetri Ginekologi Update” Ketiga!

Kota Kupang, medikastar.id

Dalam rangka meningkatkan dan mengupdate ilmu pengetahuan, khususnya di bidang obstetri ginekologi para dokter spesialis obstetri ginekologi, dokter umum, dan juga bidan, maka Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Provinsi NTT akan menggelar kegiatan ilmiah, “Kupang Obstetri Ginekologi Update” (KOU) Ketiga. Kegiatan ini akan berlangsung pada Sabtu (15/06/19) mendatang di Millenium Ballroom, Kota Kupang.

Mengangkat tema, “Through Better Competency, Bring Better Services” KOU Ketiga ini menghadirkan sejumlah pakar di bidang obstetri ginekologi, termasuk pakar dari Australia, yakni Kathleen Wilson, M.D dan Jenna McDuff, M.D. Selain itu, pada KOU Ketiga ini, POGI NTT juga akan menggelar Round Table Discussion (RTD), khusus untuk para dokter spesialis obstetri ginekologi seluruh NTT di Aston Hotel Kupang, Sabtu (15/06/19).

Ketua POGI NTT, dr. Laurens David Paulus Sp.OG (K), Kamis (13/06/19) menjelaskan bahwa KOU yang akan dilaksanakan tersebut merupakan salah satu program rutin POGI NTT yang dilaksanakan untuk terus mengupdate ilmu para dokter spesialis obstetri ginekologi, dokter umum, dan juga bidan di bidang obstetri ginekologi.

Ia mengatakan bahwa KOU yang dilaksanakan oleh POGI NTT ini berhubungan erat dengan masih tingginya angka kematian ibu (AKI) di Indonesia umumnya dan di NTT khususnya; di mana data menunjukan bahwa di tahun 2015, AKI di Indonesia ialah 305 per 100.000 kelahiran, jauh dari target Millenium development goal (MDG) yakni 102 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015.

Ketua POGI NTT, dr. Laurens David Paulus Sp.OG (K)

“Angka kematian ibu yang ada sangat tinggi, sehingga program-program yang dilakukan ke daerah oleh dokter spesialis obstetri ginekologi ialah bagaimana caranya agar bisa menurunkan angka kematian ibu tersebut, salah satunya ialah dengan update ilmu secara rutin karena memang ilmu terus berkembang dari waktu ke waktu,” ungkap dr. Laurens.

Terkait kasus kematian ibu, dr. Laurens memaparkan bahwa 3 penyebab utama kematian ibu yakni perdarahan, hipertensi dalam kehamilan, dan infeksi. Di NTT, kematian ibu akibat pendarahan masih sangat tinggi, tetapi di daerah-daerah lain di Indonesia, penyebab kematian ibu sudah mulai bergeser ke arah hipertensi dalam kehamilan dan infeksi.

Ingin Belajar Langsung di Rumah? Klik untuk Terhubung dengan Branded Home Private

“Di daerah lain, saat ini sudah mulai berubah, karena orang sudah mulai melahirkan di Puskesmas, Rumas Sakit, dan fasilitas kesehatan lainya, sehingga tingkat pendarahan bisa dicegah. Akan tetapi untuk hipertensi sulit untuk dicegah; siapa pun bisa terkena hipertensi, bahkan orang yang selama ini melakukan kontrol teratur dengan dokter SpOG pun bisa terkena hipretensi saat kehamilan,” ungkapnya.

Oleh karena itu, lanjut dr. Laurens, di dalam KOU ini akan dibahas dan dikupas secara tuntas mengenai hipertensi dalam kehamilan, sehingga para peserta nantinya dapat memahami apakah hipertensi dalam kehamilan ini bisa dicegah atau tidak.

Senada, Ketua Panitia Kegiatan, dr. Agus Sunatha, Sp.OG, menjelaskan bahwa jika dilihat dari angka, persentase 3 penyebab utama kematian ibu tersebut antara lain perdarahan sebesar 30 persen, hipertensi dalam kehamilan sebesar 25 persen, dan infeksi sebesar 12 persen.

“Ditengarai, hipertensi dalam kehamilan jauh lebih tinggi kasusnya di Negara berkembang, sekitar 7 kali lebih tinggi dari Negara maju. Oleh karena itu, di seminar ini, kita fokus membahas soal penyebab kematian ibu, khususnya mengenai hipertensi dalam kehamilan,” jelasnya.

Dikatakan oleh dr. Agus bahwa dalam KOU nanti, peserta dapat melihat bahwa ternyata kasus hipertensi dalam kehamilan sebenarnya tidak hanya bisa ditangani, tetapi juga bisa dicegah.

Ia juga menjelaskan bahwa KOU Ketiga tersebut bertujuan untuk meningkatkan dan mengupdate ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh para dokter spesialis obstetri ginekologi, dokter umum, dan juga bidan, khususnya mengenai bagaimana pencegahan Pre-eklampsia, perencanaan kehamilan yang sehat dan ANC terfokus, serta mengenai apakah USG perlu dalam ANC dan akan ada live demo USG dari para pakar yang berasal dari Australia.

Ketua Panitia Kegiatan, dr. Agus Sunatha, Sp.OG

Selain materi-materi yang sangat penting dan bermanfaat, dr. Agus menambahkan bahwa para dokter yang menjadi peserta di kegiatan ini juga akan memperoleh 8 SKP IDI, sementara untuk para bidan akan memperoleh 2 SKP IDI.

“KOU ini rencananya akan dibuka oleh Wakil Wali Kota Kupang, yang sekaligus akan melaunching program ‘POGI Lebih Dekat’. Sementara pesertanya ialah para dokter spesialis obstetri ginekologi, dokter umum, dan juga bidan. Mahasiswa juga diperbolehkan untuk mengikuti kegiatan ini sebab ini sangat bermanfaat untuk peningkatakan pengetahuan,” tuturnya.

Sementara itu pendaftaran peserta KOU ini sendiri akan dibuka hingga hari Sabtu (15/06/19) nanti. Para dokter, bidan ataupun mahasiswa yang ingin mendaftarkan diri dapat menghubungi nomor telpon: 0822 6692 0066.

POGI NTT akan turun ke daerah

Masih dalam rangka meningkatkan dan mengupdate ilmu pengetahuan, khususnya di bidang obstetri ginekologi, dr. Laurens menambahkan bahwa POGI NTT telah membagi wilayah NTT ke dalam 3 kelompok besar, yakni Timor, Sumba, dan Flores. Di wilayah-wilayah ini akan dilaksanakan berbagai kegiatan seperti seminar, symposium, dan sebagainya untuk update keilmuan para dokter dan terutama para bidan.

“Untuk Timor ini sudah kami lakukan beberapa bulan lalu di mana kami mengumpulkan semua bidan dan kami mencoba mentransfer knowledge dalam satu kongres. Untuk bidan yang ada di Flores, Sumba dan sekitarnya kami akan turun ke sana. 2 wilayah ini yang akan menjadi pekerjaan besar kami yang akan kami selesaikan dalam tahun ini,” tegasnya.

Berkaitan dengan update keilmuan para bidan ini, dr. Laurens mengakui bahwa POGI dan IBI selama ini selalu berjalan beriringan.

“Jujur kalau dilihat dari sisi pelayanan, bidan merupakan ujung tombak utama kami. Tidak mungkin dokter obgyn bertugas sampai ke desa-desa, tetapi para bidanlah yang bertugas sampai ke desa-desa,” tuturnya.

“Yang penting sekarang ini ialah bahwa kita harus berkolaborasi, seakan-akan bahwa perpanjangan tangan dari dokter-dokter obgyn sebenarnya adalah bidan; artinya bahwa kita juga harus memiliki tanggung jawab bagaimana membuat tangan tersebut menjadi lebih tajam dalam pelayanan. Ini adalah tanggung jawab kita dan mestinya harus berkesinambungan,” sambungnya. (*/red)

Baca Juga: Pendaftaran Nusantara Sehat Periode II 2019 Dibuka, Ini Syarat Pendaftarannya!

Video:

24 Dokter Ikuti Program Intersip Dokter Muda Indonesia di NTT

[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=9ZuCNt-hNkk[/embedyt]