Potensi Timbunan Sampah Per Hari di NTT Sekitar 2.108,62 Ton, Pemerintah Komitmen Tangani Sampah!

Kupang, medikastar.id

Setiap orang menghasilkan setidaknya 0,4 kilogram sampah setiap harinya. Jika jumlah penduduk NTT sebanyak 5.271.550 orang, maka terdapat 2.108,62 ton potensi timbunan sampah setiap harinya.

Hal di atas diungkapkan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan NTT, Ir.Ferdi Jefta Kapitan,M.Si dalam Forum Badan Koordinasi Kehumasan (Bakohumas) di lingkungan Pemerintah Provinsi NTT yang diselenggarakan oleh Biro Humas dan Protokol NTT di Hotel Ima Kupang, Selasa (26/3/2019).

Ir.Ferdi Jefta Kapitan,M.Si hadir sebagai narasumber dalam Forum Bakohumas perdana di tahun 2019 tersebut. Selain itu, hadir juga Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Kupang, Yeri Padji Kana,S.Sos,MM. Keduanya memaparkan materi mengenai peran pemerintah dalam penanganan sampah.

Terkait potensi timbunan sampah tersebut, Kapitan menjelaskan, “Secara administratif, kita telah memiliki Peraturan Gubernur nomor 55 Tahun 2018 tentang kebijakan strategis pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga. Ketentuan ini menjadi pedoman bagi kabupaten/kota untuk menyusun Perda sampah, kebijakan strategis dan ketentuan pegelolaan sampah,” jelas Kapitan.

Lebih lanjut, disebutkannya juga komitmen Pemerintah Provinsi NTT untuk mengejar target nasional pengurangan sampah 30%  dan 70% penangan sampah pada tahun 2025.

Baca Juga: 2 Hari Usai Dibersihkan, Sampah Kembali Menumpuk di Sekitar Bukit Cinta Penfui


Klik untuk terhubung dengan dr. Teacher Florist Kupang

“Untuk menciptakan kantor ramah lingkungan, baik di lingkup kantor pemerintah, BUMN, BUMD dan swasta juga telah ditetapkan Peraturan Gubernur Nomor 51 Tahun 2018 tentang Eco Office. Kami juga sudah mengusulkan pembangunan UPT Pengelolaan Sampah dan limbah B3 pada tiga kawasan, yaitu Timor, Flores dan Sumba,” tambahnya mengurai pentingnya pengelolaann sampah terintegrasi dari hulu hingga ke hilir.

Dengan model pengelolaan sampah berbasis masyarakat, Ia menyebutkan Program CSR bersama Pertamina Tahun 2018 telah menetapkan lokasi TDM 4 sebagai daerah percontohan (pilot project). Untuk Tahun 2019, melalui ABD Provinsi NTT direncanakan untuk kembali dibangun pilot project pengelolaan sampah di Kelurahan Nefonai, Kota Kupang.

Dalam acara yang sama, Yeri Padji Kana menggugah para peserta akan pentingnya usaha penanganan sampah secara bersama-sama. Ia memulai materinya dengan pertanyaan reflektif tentang sampah.

“Sampah tidak pernah beristirahat. Dengan jumlah penduduk Kota Kupang saat ini, setiap harinya kita memproduksi lebih dari 226 ribu ton sampah,” begitu gugahnya sambil menyebutkan terbatasnya sarana prasarana untuk mengolah sampah dari 751 titik buang.

”Kami berharap masyarakat bisa memanfaatkan waktu yang tepat untuk membuang sampah. Jam 5 pagi dan jam 6 sore. Sering terjadi penimbulan (penumpukan) sampah di luar jam, sehingga seolah-olah tidak diangkut,” begitu katanya sambil menyebut rencana mereka untuk melakukan sosialisasi yang lebih gencar lagi.

Dalam sesi diskusi mencuat beberapa usulan menarik. Imanuel Jemkari, salah-satu peserta forum mengusulkan untuk mengapresaisi kerja mulia para tenaga pemungut sampah atau yang biasa disebut sebagai pemulung. Menurutnya, sebagai pahlawan kebersihan, para pemulung perlu diorganisir dan diberikan perhatian yang pantas. Peserta lainnya menyebutkan pentingnya edukasi tentang pemanfaatan sampah sejak usia dini.

Kegiatan yang dihadiri 100 orang peserta dari unsur Forkopimda NTT, karyawan Humas BUMN/BUMD, ASN perangkat daerah provinsi dan Kota Kupang bersama para wartawan itu didasari kesadaran untuk mengatasi masalah persampahan. Secara umum, seluruh peserta Bakohumas sepakat melihat sampah sebagai sahabat, bukan sebagai musuh. Tidak perlu saling menuding, karena kita semua adalah produsen sampah.

Kepala Bagian Pelayanan Masyarakat Biro Humas dan Protokol NTT, Dra.Elisabeth Lenggu,M.Si selaku moderator menyimpulkan pentingnya tanggung jawab dan sinergi mengatasi masalah sampah. Harapannya agar dapat segera terhapus predikat sebagai kota terkotor, menjadi kota bersih bahkan terbersih di Indonesia.

“Semua anggota masyarakat diajak untuk terlibat dalam penanganan masalah sampah. Semua dituntut untuk memulainya dengan memberi keteladanan, mulai dari diri sendiri, demikian salah satu kesimpulan dalam diskusi tersebut. (*)

Baca Juga: Terkait Foto & Video Jenazah Mahasiswa yang Ditabrak Kereta Api, ini Himbauan Prodi Gizi Poltekkes Kupang