Kota Kupang, medikastar.id
Stunting merupakan salah satu permasalahan kesehatan serius yang tengah dialami oleh Indonesia saat ini, terutama di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukan bahwa prevalensi stunting di NTT mengalami penurunan jika dibandingkan hasil Riskesdas 2013 lalu. Prevalensi stunting di NTT ini menurun sebesar 9,1 persen, dari 51,7 persen (Riskesdas 2013) menjadi 42,6 persen (Riskesdas 2018). Walaupun menurun, namun provinsi NTT masih tetap berada di urutan atas prevalensi stunting di Indonesia.
Terkait hal ini, Prodi Gizi Poltekkes Kemenkes Kupang secara berkelanjutan terus berkontribusi dalam upaya penanggulangan stunting di provinsi NTT. Memanfaatkan pangan lokal NTT, khususnya kelor untuk mencegah stunting, Prodi Gizi Poltekkes Kemenkes Kupang telah menghasilkan berbagai jenis kudapan, makanan, dan minuman seperti es cream kelor, stik kelor, bakso, mie kelor, lapis kelor, kue putu, green late, naget dan sebagainya.
Selain itu, Prodi Gizi Poltekkes Kemenkes Kupang juga membekali para dosen, calon ahli gizi, dan ahli gizi dengan pemahaman mengenai Penanggulangan Stunting Melalui Sumplementasi Gizi dan Kontribusi Positif Susu untuk Mencapai Hidup Sehat dalam seminar sehari yang dilangsungkan di Hotel Aston Kupang, Sabtu (27/07/19).
“Stunting merupakan sebuah ancaman bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia. Hal ini dikarenakan anak yang mengalami stunting bukan hanya terganggu pertumbuhan fisiknya, melainkan juga terganggu perkembangan otaknya yang tentu akan sangat mempengaruhi kemampuan dan prestasi di sekolah, juga produktifitas dan kreatifitas di usia produktif,” kata Ketua Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Kupang, Agustina Setia. SST. M. Kes dalam seminar yang digelar Prodi Gizi Poltekkes Kemenkes Kupang tersebut.

Seminar yang diikuti oleh sekitar 500 orang peserta ini mengangkat tema yang menarik yakni, “Penanggulangan Stunting Melalui Sumplementasi Gizi dan Kontribusi Positif Susu untuk Mencapai Hidup Sehat.” Hadir sebagai narasumber, Dr. Marudut Sitompul, MPS, dari Poltekkes Kemenkes Jakarta2 yang membawakan topik, “Kebaikan dan Kekurangan Susu serta Mitos Susu dengan Diabetes Mellitus dan Gizi Buruk;” Direktur Poltekkes Kemenkes Kupang, R.H Kristina, SKM., M.Kes yang berbicara mengenai, “Peran Poltekkes Kemenkes Kupang dalam Upaya Penurunan Stunting dan Penggunaan Susu, Hambatan dan Tantangan Konsumsi Susu di NTT.”
Selain itu, narasumber lainnya ialah perwakilan BPOM di Kupang membawakan topik, “Peraturan Perundang-Undangan di Bidang Susu dan Produk Susu,” dan pihak Frisian Flag Indonesia yang membawakan materi, “Proses Produksi Susu.”
Agustina di kesempatan ini menjelaskan bahwa persoalan stunting disebabkan oleh faktor multi dimensi, termasuk praktek pola pemberian makanan dan ketersediaan pangan yang tidak baik, termasuk pemberian sumber protein yang tidak optimal.
“Sumber yang protein yang sangat baik salah satunya adalah susu yang merupakan pangan yang tidak asing bagi ahli gizi dan dikenal sebagai pangan dengan kualitas protein terbaik di antara pangan lainnya dalam konsumsi sehari-hari,” tuturnya.

Terkait hal ini, lanjut Agustina, ahli gizi perlu dibekali dengan informasi yang benar dan terkini berdasarkan hasil penelitian yang berkaitan dengan kesehatan dan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan susu dan produk susu. Pasalnya, ahli gizi sesuai dengan profesinya, banyak berhadapan langsung dengan masyarakat, baik dalam bentuk konseling atau penyuluhan atau konsultasi gizi.
Menurutnya, seminar ini digelar untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terkait susu dengan tujuan khusus yakni memberikan informasi terkini kepada dosen, calon ahli gizi, ahli gizi dan petugas kesehatan lainnya tentang zat gizi yang baru ditemukan di dalam susu dan hubungan positifnya terhadap kesehatan, terutama hubungannya dengan permasalahan stunting. Selain itu, seminar ini bertujuan untuk memperkuat landasan keilmuan calon ahli gizi, ahli gizi dan petugas kesehatan lainnya, serta masyarakat tentang peran positif susu terhadap kesehatan.
Ketua Panitia Kegiatan, Lalu Juntra Utama, SST.M.Si menjelaskan bahwa seminar gizi ini merupakan salah satu wujud pengejawantahan dari Tridharma Perguruan Tinggi, yang bertujuan untuk memberikan informasi kepada khalayak ramai dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan pengetahuan di bidang gizi.
Menurutnya, pertanyaan penelitian yang menjadi dasar pengembangan seminar gizi tersebut, yakni bagaimana upaya menyampaikan informasi yang benar tentang susu dari perspekif gizi, bagaimana menambahkan pengetahuan masyarakat tentang manfaat susu sebagai sumber protein, bagaimana pengetahuan masyarakat tentang penggunaan susu yang tepat, dan bagaimana pengetahuan masyarakat terkait fakta ilmiah susu.

Juntra mengutarakan bahwa di era keterbukaan informasi seperti saat ini, banyak sekali pemberitaan mengenai susu yang tidak sesuai dengan yang sesungguhnya, yakni tidak sesuai dengan keilmuan dan bahkan informasi yang terkini dari hasil penelitian pun hampir tidak ada. Informasi “miring” yang disampaikan terkait susu cenderung dikemas secara baik dan menarik serta terlihat seperti sebuah kebenaran, sehingga dikhawatirkan dapat membentuk opini masyarakat awam, bahkan ahli gizi, dosen, mahasiswa gizi, dan mahasiswa kesehatan lainnya serta petugas kesehatan.
Ahli gizi, lanjutnya, sesuai dengan profesinya banyak berhadapan langsung dengan masyarakat, baik dalam bentuk konseling atau penyuluhan atau konsultasi gizi, sehingga menjadi ujung tombak pengarusutamaan informasi, termasuk informasi kaitan antara susu dan kesehatan. Oleh karenanya, para ahli gizi perlu dibekali dengan informasi yang benar dan terkini berdasarkan hasil penelitian yang berkaitan dengan kesehatan dan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan susu dan produk susu.
Di kesempatan tersebut, Direktur Poltekkes Kemenkes Kupang, R.H Kristina, SKM., M.Kes menegaskan bahwa stunting merupakan salah satu permasalahan kesehatan serius yang tengah dialami oleh Indonesia saat ini. Provinsi NTT secara khusus, merupakan salah satu dari antara 2 provinsi di Indonesia yang memberikan sumbangan angka stunting tertinggi di Indonesia.
Dalam materinya mengenai peran Poltekkes Kemenkes Kupang dalam Upaya Penurunan Stunting dan Penggunaan Susu, Hambatan dan Tantangan Konsumsi Susu di NTT, Kristina menjelaskan berbagai kandungan dan manfaat susu dalam kaitannya pertumbuhan anak serta kaitannya dengan upaya penurunan stunting.

Selain itu, dirinya juga menjelaskan bahwa Poltekkes Kemenkes Kupang secara berkesinambungan terus berperan dalam upaya penurunan stunting di NTT melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian kepada masyarakat. Peran Poltekkes Kemenkes Kupang dalam upaya penurunan stunting di NTT juga dilaksanakan melalui kerja sama lintas program dan lintas sektor.
“Dalam bidang pengajaran, kami selalu melaksanakan kuliah tamu dengan para pakar dari berbagai institusi dalam upaya pencegahan stunting. Sementara dalam bidang penelitian, telah banyak penelitian yang telah dilaksanakan oleh para dosen dan mahasiswa terkait stunting,” kata Kristina.
Dalam bidang pengabdian masyarakat juga telah dilaksanakan berbagai hal, seperti pemberian makanan tambahan bagi anak usia 6-59 bulan, bumil dan busui berbasis pangan lokal; pemantauan status gizi kelompok rawan gizi yaitu bayi, balita, bumil dan busui; pembagian tablet tambah darah untuk remaja putri (wus) bekerja sama dengan dinas kesehatan; dan beberapa kegiatan lainnya.
Lebih jauh, menurut Kristina, Poltekkes Kemenkes Kupang merencanakan untuk melaksanakan program yang diberi nama one student one family. Dalam program ini, satu mahasiswa akan mendampingin satu keluarga untuk melakukan beberapa kegiatan, seperti, health education, yakni penyuluhan, konseling gizi, dan pemberian makanan tambahan (PMT) berbasis susu, soya (kedelai), dan pangan lokal. Selain itu, mahasiswa juga akan memberikan bimbingan terkait teknik pengolahan PMT berbasis susu, kelor, pangan lokal; serta memberikan bimbingan mengenai teknik pendampingan gizi.
Ditambahkan olehnya bahwa Poltekkes Kemenkes Kupang juga mendukung program pemerintah dengan pengembangan makanan berbasis kelor, seperti es cream kelor, stik kelor, bakso, mie kelor, lapis kelor, kue putu, green late, naget dan sebagainya.
Terpantau seminar ini berlangsung dengan meriah. Selain memperoleh materi-materi yang menarik dalam seminar ini, para peserta seminar juga menikmati suguhan tarian daerah dari para mahasiswa Prodi Gizi Poltekkes Kemenkes Kupang dan juga menerima beberapa door prize menarik dari pihak sponsor. (*/red)
Baca Juga: Gubernur NTT akan Biayai Anak TTS yang Ingin Kuliah di Stikes & Akper Maranatha Kupang

