Labuan Bajo, Medika Star.com
Kanker serviks adalah keganasan yang berasal dari serviks atau leher rahim. Serviks ini terletak di sepertiga bagian bawah dari rahim. Penyebab kanker serviks adalah virus HPV ( Human Papiloma Virus ) dengan faktor risiko berupa aktivitas seksual pada usia muda, melakukan hubungan seksual lebih dari satu pasangan, merokok, banyak anak (multiparitas), Infeksi Menular Seksual, dan lain-lain.
Pada saat ini, angka kejadian kanker serviks cenderung meningkat.
Melihat hal tersebut, Ketua Himpunan Onkologi dan Ginekologi Indonesia / President of INASGO (The Indonesian Society of Gynecological Oncology), Prof. Dr. dr. Andrijono, SpOG (K) saat diwawancarai Medika Star di lantai delapan Hotel Jayakarta Labuan Bajo, pada Kamis, (05/07/2018) menjelaskan bahwa, terdapat dua hal yang sudah dijalankan untuk mengatasi kanker serviks adalah melalui vaksinasi HPV dan screening.
“Screening sudah kami kerjakan tetapi hambatannya cukup banyak karena melalui screening pasien harus rutin periksa”, jelasnya.
Pada dasarnya, kata Prof. Dr. dr Andrijono, SpOG (K), “Kebiasan kita orang Indonesia adalah susah sekali untuk memeriksakan diri secara rutin di fasilitas kesehatan. Biasanya setahun sekali baru lakukan pemeriksaan kesehatan, ungkapnya. Hal ini yang menyebabkan sulitnya screening.
“Vaksinasi itu lebih mudah dari screening, vaksinasi dapat memproteksi lebih lama”, jelasnya.
Oleh karena itu, bagi dirinya lebih efektif jika menggunakan vaksin. Hal ini sudah terbukti di beberapa negara, seperti di Australia dan Eropa, angka kejadian kanker serviks turun 50% semenjak ada vaksinasi HPV nasional.
“Oleh karna itu, kami sedang berjuang agar vaksinasi nasional HPV juga menjadi program nasional di Indonesia,” tuturnya.
Pada saat ini, kata dia, pihaknya lagi melakukan uji coba. “Di Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya kami sudah melakukan uji coba. Di sana perempuan yang berusia sepuluh tahun itu mendapatkan vaksin dan itu sudah kami lakukan,” ungkapnya.
Prof. Dr. dr. Andrijono juga mengatakan bahwa tahun ini juga pihaknya akan melakukan vaksinasi di dua tempat, yaitu Makasar dan Manado. “Bila berjalan lancar, maka kami akan lanjutkan ke tahap vaksinasi nasional,” katanya.
Sejauh ini, lanjut Prof. Dr. dr. Andrijono, penderita kanker serviks di Indonesia cukup banyak yaitu 4% dari 120 juta wanita Indonesia. Dari jumlah penderita tersebut, Rata-rata 70% menderita kanker serviks stadium lanjut. Jadi, satu wanita Indonesia meninggal setiap jam akibat kanker serviks.
“Oleh karna itu, bila kita diam maka angka kematian akibat kanker serviks akan terus meningkat,” tuturnya.
“Untuk itu, pihak pemerintah harus mejadikan program vaksinasi anti kanker serviks (Vaksinasi HPV) menjadi salah satu program Nasional,” harap Prof. Dr. dr. Andrijono, SpOG (K). (Mulia Donan)
Baca Juga: Yuk Intip Materi 8th INASGO Biennial Meeting di Labuan Bajo!

