Sikat dan Sakit Gigi

Oleh: Saverinus Suhardin, S.Kep.,Ns

(Perawat, pengajar di Akper Maranatha Kupang)

Meggy Z dalam sepenggal lirik lagunya mengatakan, “Dari pada sakit hati, lebih baik sakit gigi ini, biar tak mengapa.” Benarkah demikian? Pengalaman rasa sakit atau nyeri memang sangat subjektif sekali, sehingga jawabannya bisa beragam. Tapi, munculnya frasa “Sakit gigi” dalam lirik lagu tersebut menunjukkan kalau sakit gigi juga merupakan pengalaman yang mengerikan, hampir mirip dengan sakit hati. Kalau boleh memilih sesukanya, barangkali kita semua sepakat untuk tidak memilih keduanya.

Sakit gigi merupakan salah satu keluhan yang paling sering diungkapkan orang yang mencari pertolongan di puskesmas atau tempat pelayanan kesehatan lainnya. Saat timbul nyeri yang hebat itulah baru disadari pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut. Bila nyeri kembali reda, persoalan dianggap selesai. Padahal, perawatan gigi dan mulut tidak hanya menunggu saat tanda nyerinya muncul.

Berbagai penelitian memang menunjukkan sebagian besar kita baru memperhatikan kesehatan gigi dan mulut saat mulai terasa nyeri. Hal itu terjadi karena kesalahan persepsi tentang perilaku kesehatan gigi. Banyak yang menganggap kalau semua orang wajar mengalami karies gigi, usia lanjut sudah wajar bila giginya banyak yang tanggal, penyakit gigi bukanlah hal yang berbahaya, dan perawatan gigi justru menimbulkan rasa sakit (Tampubolon, 2005). Padahal, bila tahu-mau-mampu melakukan pencegahan yang tepat, kita bisa mempertahankan gigi geligi asli seumur hidup sehingga berfungsi optimal dan mempertahankan kualitas hidup yang baik.

Data riset terakhir melaporkan kalau masyarakat Indonesia mengalami masalah kesehatan gigi sebesar 25,9%. Dari total yang bermasalah tersebut, hanya 8,1% saja yang dirawat di tempat pelayanan kesehatan. Khusus wilayah kita NTT, dari 27,2% yang bermasalah dengan gigi dan mulut, hanya 7,3% saja yang dirawat di tempat pelayanan kesehatan. Begitu pula dari kebiasaan menyikat gigi sesuai waktu yang disarankan, di Indonesia baru mencapai 2,3% saja (Riskedas, 2013).

Rendahnya tindakan preventif bisa disebabkan oleh banyak faktor. Pertama, tentu saja bergantung pengetahuan/pemahaman masyarakat yang benar tentang kesehatan gigi. Kedua, bagaimana giat dari tenaga kesehatan melakukan kegiatan promotif, yaitu memberikan pemahaman yang benar serta motivasi bagi masyarakat agar aktif melakukan pencegahan. Ketiga, tersedianya fasilitas dan tenaga kesehatan yang memadai. Dan masih banyak faktor lain, termasuk budaya atau keyakinan warga setempat.

Kebiasaan Menginang

Menginang atau kita biasa menyebutnya makan sirih pinang, sudah menjadi suatu kebiasaan masyarakat NTT. Menginang selalu ada dalam ritual adat kita, sehingga tidak heran bila saat ini aktivitas tersebut sudah menjadi sebuah  rutinitas. Menariknya, beberapa kali penulis mendengar perbincangan tentang menginang ini, katanya bermanfaat juga untuk menguatkan gigi. Mereka yang menginang sering berdalih begini: “Kakek-nenek kita dulu yang biasa makan sisih-pinang, tidak pernah mengeluh sakit gigi seperti kita sekarang.”

Benarkah demikian? Ternyata itu hanya keyakinan yang keliru. Beberapa hasil penelitian yang penulis dapatkan, semuanya menunjukkan hasil yang kurang menyenangkan bagi penyuka sirih-pinang. Menginang bisa menyebabkan gingivitis (radang gusi) (Nesi, 2007); memperburuk status/kondisi periodontal atau gigi dan jaringan sekitarnya (Fatlolona, dkk., 2016); menyebabkan karies gigi atau hilangnya bagian gigi yang keras sehingga mudah berlubang (Uamang, dkk.,2017); tingkat kebersihan gigi dan mulut lebih rendah (Siagian, 2012); dan menyebakan gigi tidak utuh bahkan ada yang tidak beraturan, gigi yang tanggal, karies gigi dan warna gigi yang berubah menjadi hitam (Iptika, 2013).

Bila kenyataan demikian, lantas apakah menyirih atau menginang itu dilarang? Tentu saja tidak, apalagi sudah menjadi bagian dari budaya, sudah sulit menghilangkan kebiasaan tersebut. Hal yang bisa dilakukan adalah mengurangi frekuensi penggunaannya, serta membersihkan gigi dan mulut paska menginang.

Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut

Gigi dan mulut yang sehat tentunya idaman kita semua. Kesehatan gigi dan mulut yang terganggu justru menurunkan kualitas hidup penderitanya. Gangguan itu menyebabkan terbatasnya fungsi untuk mengunyah, sulit tidur dan berkosentrasi bila timbul nyeri, merasa rendah diri bila nafas bau dan sebagainya.

Satu-satunya langkah terbaik untuk menghindari itu semua dampak tersebut adalah tindakan pencegahan. Sakit gigi mesti dicegah dengan sikat gigi. Kata “sikat” yang dimaksud tidak hanya mewakili kegiatan menggosok gigi, tapi menyangkut  keseluruhan tindakan pencegahan.

Beberapa cara sederhana ini bisa diterapkan agar kesehatan gigi dan mulut terjaga. Pertama, rutin menggosok gigi dengan teknik yang benar. Frekuensi yang disarakan minimal 2 kali sehari, pada pagi hari dan malam hari menjelang tidur. Kedua, sebisa mungkin untuk menghindari makanan yang manis dan lengket. Kalau pun terpaksan dimakan, sebaiknya segera membersihkan gigi dan mulut. Ketiga, lakukan pemeriksaan rutin ke dokter gigi minimal 6 bulan sekali. Masalah kesehatan gigi bukan hanya menunggu tanda nyeri baru mencari pertolongan. Deteksi dini sangat penting agar cepat melakukan tindakan yang tepat. Keempat, kurangi faktor risiko lain seperi menginang, merokok, dan sebagainya

Kita kembali bertanya soal lirik lagu Meggy Z, “Apakah benar lebih baik sakit hati dari pada sakit gigi?”  Kita malah makin sakit hati bila baru menyadari pentingnya perawatan (sikat) gigi saat munculnya gejala sakit gigi. (*)

Baca juga: Komisioner KPU NTT Terkaget-Kaget Saat Beri Kuliah di Stikes CHMK