Tenaga Farmasi Harus Peka Menghadapi Era 4.0

Kota Kupang, medikastar.id

Revolusi industri 4.0 ditandai dengan otomatisasi sistem produksi dengan memanfaatkan teknologi dan big data yang tersambung ke internet (internet of things). Hal ini membawa perubahaan pada sebagian besar tata kehidupan manusia termasuk pada profesi-profesi yang kemungkinan akan tergerus.

Menyadari hal tersebut, Himpunan Mahasiswa Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Kupang menggelar seminar nasional dengan tema ‘Farmasi Digital sebagai Peran Baru Tenaga Kefarmasian Indonesia’. Seminar tersebut digelar di hotel Neo Aston Kupang, Sabtu (14/9/2019). Selain para mahasiswa kesehatan, seminar tersebut diikuti juga oleh para praktisi di bidang farmasi.

“Beberapa tahun ke depan, sekitar 300 profesi akan menghilang akibat perkembangan revolusi industri 4.0. Mengantisipasi hal itu, kami berharap tenaga farmasi bisa menyesuaikan diri. Selain itu, seminar ini juga dalam rangka kami belajar berorganisasi dengan benar, melaksanakan kegiatan, dan manajemen diri dalam sebuah organisasi,” ujar ketua panitia seminar Paulus Boleng terkait tujuan seminar tersebut.

Ketua Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Kupang, Maria Hilaria S.Si,S.Farm.Apt.,M.Si., mengatakan, era revolusi 4.0 yang serba digital perlu disikapi oleh mahasiswa secara bijak. Artinya, mahasiswa harus sanggup memanfaatkan perkembangan teknologi tersebut untuk perkembangan dirinya sehingga mampu menjadi tuan atas teknologi tersebut.

“Mahasiswa sekarang adalah generasi milenial yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. Namun sayang, sebagian besar dari mereka hanya memanfaatkan perkembangan tersebut sebagai hiburan, misalnya bermain facebook, twitter, dan game online. Padahal kalau mau mereka bisa mengembangkan aplikasi dan startup-startup (perusahaan rintisan) untuk menunjang pelayanan di bidang kefarmasian,” tutur Maria.

Menurutnya, ke depan akan ada mata kuliah terkait digital farmasi. Hal itu dilakukan untuk membantu mahasiswa mempunyai kemampuan dalam memanfaatkan teknologi di bidang farmasi. Misalnya bagaimana menggunakan sistem informasi manajemen rumah sakit, sistem informasi manajemen kefarmasian, dan mengembangkan aplikasi baru untuk memperluas dan mempercepat layanan kefarmasian.

Sementara itu, Stefanus Nofa, S.Si.Apt., salah satu pemateri, mengatakan bahwa perkembangan aplikasi dan startup di bidang kesehetan umumnya dan farmasi khususnya cukup tertinggal dibandingkan dengan bidang-bidang lain seperti perdagangan, transportasi, dan pendidikan. Hal ini disebabkan karena regulasi di bidang kesehatan sangat kuat.

“Kenapa harus kuat, ini karena menyangkut jiwa atau nyawa manusia. Contohnya, kalau uang hilang kan tidak terlalu masalah, tapi kalau nyawa hilang, kan repot. Namun sekarang, pemerintah sudah mulai sedikit demi sedikit mengadopsi digitalisasi ini, dalam rangka tugas mereka juga untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat,” ujar pendiri Perhimpunan Informatika Farmasi Indonesia.

Senada dengan Maria Hilaria, Stefanus mengharapkan, generasi muda farmasi di NTT tidak hanya menjadi pemakai teknologi tetapi harus kreatif memanfaatkan teknologi digital untuk memberikan pelayanan kesehatan terutama dalam bidang kefarmasian. Peluang menjadi ‘pemain’ dalam menciptakan aplikasi dan startup di bidang kesehatan dan kefarmasian, menurutnya, masih terbuka lebar.

“Era sekarang adalah era startup. Siapapun anak-anak muda bisa mengembangkan kreativitasnya. Di bidang kesehatan masih banyak masalah. Di NTT misalnya masalahnya adalah aksesibilitas layanan kesehatan. Tenaga farmasi bisa berkolaborasi dengan tenaga TI (Teknologi Informasi). Kalau itu dibuat digitalisasi, itu adalah peluang usaha, bahkan jadi entrepreneur. Kalau itu bisa dipakai dan bermanfaat bagi banyak orang, akan banyak investor yang mau membiayai,” ujar Stefanus. (ens)

Baca juga: Kisah Para Lulusan Terbaik Poltekkes Kupang