medikastar.id – Jumlah kasus covid-19 di Indonesia masih mengalami peningkatan setiap harinya. Para tenaga kesehatan sedang sibuk-sibuknya berdiri di garda terdepan untuk menangani penyakit ini. Sebelum pasien corona dirawat, ia perlu terlebih dahulu harus dipastikan telah positif terinfeksi atau tidak. Untuk memastikannya, diperlukan tes laboratorium yang sesuai prosedur.
Lantas, siapakah yang melakukan tes tersebut? Yang bertugas melakukan tes covid-19 adalah para analis kesehatan. Tenaga kesehatan inilah yang memastikan positif atau tidaknya seseorang terinfeksi corona.
Analis kesehatan biasa juga disebut teknologi laboratorium medik. Tenaga kesehatan ini fokus pada penggunaan sarana kesehatan. Tujuannya adalah melakukan penentuan jenis penyakit, kondisi kesehatan, serta faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kesehatan seseorang.
Keahlian dari analis kesehatan antara lain melakukan pelayanan pemeriksaan, pengukuran, penetapan, dan pengujian melalui sampel atau bahan yang berasal dari manusia. Sampel yang diambil biasanya berupa darah, sputum, feses, urin, dan lain sebagainya. Sampel tersebut berguna untuk memperoleh data yang akan digunakan dalam melakukan diagnosa pasti terhadap suatu jenis penyakit.
Data dan diagnosa yang berasal dari tes laboratorium akan digunakan oleh dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya. Fungsi dari data tersebut adalah untuk mengambil langkah pengobatan dan perawatan yang tepat bagi pasien.
Analis kesehatan memiliki cukup banyak spesialisasi. Biasanya di dalam melaksanakan pekerjaannya terdapat pembagian sesuai dengan bidangnya. Bidang-bidang tersebut antara lain mikrobiologi, parasitologi, virologi, hematologi, toksikologi, dan lain sebagainya. Cara melakukan tes laboratorium juga disesuaikan dengan bidang-bidang tersebut.
Dalam kasus pandemi corona saat ini, terdapat beberapa tes yang dilakukan untuk mengetahui seseorang telah terinfeksi atau tidak. Jenis tes corona yang sering didengar adalah rapid tes dan PCR.
Untuk melakukan rapid tes, sampel yang digunakan adalah darah. Tes yang dapat diketahui hasilnya dalam waktu cepat ini berfungsi untuk mengukur antibodi seseorang. Antibodi biasanya akan diproduksi dalam tubuh jika seseorang telah terinfeksi virus corona.
Namun, rapid test masih dianggap tidak terlalu akurat oleh banyak ahli. Alasanya karena virus corona kemungkinan tidak dapat terdeteksi pada masa awal infeksi. Oleh karena itu, setelah melakukan tes cepat ini, seseorang perlu melalui tes dengan metode PCR lagi.
Tes PCR juga sering disebut tes swab. Sampel yang digunakan dalam tes ini adalah droplet atau cairan dari saluran pernapasan. Petugas kesehatan biasanya akan menyeka bagian belakang tenggorokan untuk mendapatkan sampel ini.
Sampel yang didapat kemudian akan dites di laboratorium. Cara melakukan tes PCR adalah dengan mengekstrak asam nukelat dari dalam cairan pernapasan yang diambil. Asam nukleat tersebut mengandung genom virus yang menentukan status positif atau negatif seseorang yang dites. Orang yang bertugas sebagai peneliti menggunakan teknik yang disebut reaksi berantai transkripsi polymerase terbalik.
Tes tersebut tidak diperuntukkan bagi semua orang. Orang-orang yang dianggap berisikolah yang akan melalui proses tes corona. Para tenaga laboratorium atau analis kesehatan juga termasuk dalam orang yang berisiko terinfeksi. Penyebabnya adalah rentannya paparan virus corona yang tinggi pada mereka. Jadi, sangat penting bagi para analis kesehatan untuk dilengkapi dengan alat pelindung diri (APD) yang lengkap.
Menurut World Health Organization (WHO), terdapat beberapa jenis APD yang harus digunakan oleh para petugas laboratorium dalam penanganan covid-19. Jenis APD tersebut adalah masker bedah (surgical mask), pakaian pelindung khusus (gown), sarung tangan, dan pelindung mata.
Para analis kesehatan adalah salah satu tenaga kesehatan yang sedang berjuang dalam memastikan seseorang positif atau negatif terinfeksi corona. Dalam menjalankan tugasnya, mereka sangat rentan untuk terpapar virus tersebut. Oleh karena itu, dukungan bagi mereka juga sangat penting untuk dilakukan.
Dukungan bagi para tenaga medis, termasuk analis kesehatan dapat dilakukan dengan menjalan setiap rekomendasi dan protokol yang diberikan. Tujuannya agar para analis kesehatan yang bekerja tidak terus menerus mengkonfirmasi penambahan jumlah orang yang terinfeksi covid-19 setiap harinya. (har)
Baca juga: Kisah KSP Kopdit Pintu Air yang Rayakan HUT ke-25 di Tengah ‘Perang’ Melawan Covid-19

