Labuan Bajo, medikastar.id
Avent Saur adalah seorang biarawan Katolik yang mendirikan organisasi sosial kemanusiaan bernama Kelompok Kasih Insanis (KKI) Peduli Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) pada 25 Februari 2016. Pada tahun 2018, kelompok ini sudah beranggotakan 700 orang dan sedang merawat hampir 1000 pasien gangguan jiwa.
Dalam pergerakannya, kelompok ini tidak hanya membebaskan ODGJ yang dipasung, tetapi juga mengobati mereka dan bahkan memberdayakan mereka.
Contoh nyata, ketika pasien sudah sembuh, KKI memberikan kambing beberapa ekor bagi pasien Muslim. Melaluinya, pasien diharapkan mengeluarkan energi untuk bekerja dan membangkitkan kepercayaan dirinya untuk produktif.
Sementara kepada pasien Katolik, KKI memberikan beberapa ekor babi. KKI mendorong mereka untuk berpikir tentang bagaimana menghidupi ekonomi keluarga dan bersosialisasi kepada masyarakat dengan cara bekerja semampunya.
Keprihatinan yang tinggi pada ODGJ mendorong Avent Saur dan kelompoknya untuk tidak berhenti berjuang. Selasa (26/06/18), melalui akun facebooknya Avent Saur menulis sebuah Nota Terbuka untuk Bupati Manggarai Barat. Isi nota ini berceritera tentang minimnya perhatian pemerintah kabupaten ini pada ODGJ. Menurutnya, program kesehatan jiwa di kabupaten tersebut kurang berjalan dengan optimal dan ODGJ diterlantarkan.
Begini kutipan Nota Terbuka untuk Bupati Manggarai Barat tersebut:
Bapak yang terhormat, sudah dua periode Bapak memerintah di Manggarai Barat (Mabar), Flores.
Sentuhan kebaikan dari pemerintahan Bapak di daerah yang memiliki Komodo sebagai salah satu tujuh keajaiban dunia, belum dirasakan oleh sekian banyak wargamu yang dililit derita gangguan jiwa.
Wargamu yang saya lihat sebagai orang miskin yang tersingkir dalam pelbagai aspek tersebar di mana-mana, baik di kota wisata, Labuan Bajo, maupun di pelosok-pelosok Mabar.
Mereka bergelandang di kota dan di kampung-kampung. Mereka mengurung diri di kamar dalam rumah, atau juga sengaja dikurung oleh keluarganya.
Lebih lagi, mereka dipasung, entah satu kaki, dua kaki, entah juga sekalian dua kaki dan satu tangan, sebagaimana tampak dalam gambar wargamu di Desa Robo, Kecamatan Welak, Mabar.
Warga ini menderita dalam pasungan bertahun-tahun, sementara Bapak selalu berbicara tentang politik kesejahteraan, baik di ruang DPRD maupun di pelbagai tempat termasuk saat berjumpa dengan rakyat.
Warga ini pilu di pondok berdindingkan ujung-ujung bumi, dengan atap dua lembar seng usang dan dengan beralaskan papan kasar, sementara Bapak yang sudah dua periode memerintah nyaman di rumah dan kantor mewah karena dipilih oleh rakyat.
*
Saya membayangkan, Bapak sebagai Bupati dan Ibu sebagai wakil bupati, kurang terlalu sulit jika berkomitmen untuk mewujudkan keadilan sosial bagi warga Mabar, khususnya bagi warga yang selama ini Bapak abaikan.
Tinggal perintahkan Dinas Kesehatan, lalu Dinkes perintah para kepala puskesmas, demikian juga Dinas Sosial, untuk mendatakan warga-wargamu itu, menjadi titik awal keadilan sosial itu.
Kemudian rapatkan keputusan dengan DPRD untuk mengalokasikan anggaran buat pengadaan obat bagi mereka.
Sudah sejak 2016 lalu, pada Dinkes dan puskesmas sudah ada program kesehatan jiwa. Masa program itu sekadar formalitas, dan pegawai yang memegang program itu hanya memegang kaku tanpa bereksekusi.
Entah hingga kapan, Bapak?
Sebagai sebuah Nota, sekian dulu ya. Berharap suatu waktu nanti kita akan berjumpa untuk bersama-sama menyentuh warga gangguan jiwa yang mungkin di mata Bapak, mereka kalah dalam pergumulan hidupnya. Sebaliknya pada mata saya dan relawan Kelompok Kasih Insanis (KKI) NTT mereka sama sekali belum kalah.
Salam keadilan.
Avent Saur SVD
Asal Mabar, tinggal di Ende
Ende, 26 Juni 2018
Baca Juga: Unggul dalam Quick Count, Ini yang Diungkapkan Viktor Laiskodat dan Josef Nae Soi

