Angka Kematian Ibu Tinggi, Masih Ada Ibu Hamil di Kota Kupang yang ke Dukun!

Kota Kupang, medikastar.id

Tingginya Angka Kematian Ibu merupakan salah satu permasalahan kesehatan serius di Provinsi NTT. Kota Kupang khususnya, memiliki 11 Puskesmas dan terdapat 12 rumah sakit dengan berbagai kelengkapan fasilitasnya, termasuk dengan ketersediaan tenaga medis seperti dokter spesialis obstetri ginekologi (SpOG), dokter umum, dan bidan yang memadai, tapi angka Kematian ibu ini ternyata selalu ada dari tahun ke tahun. Diduga masih ada ibu hamil yang enggan memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada dan lebih memilih untuk pergi ke dukun beranak.

Kepala Dinas kesehatan Kota Kupang, dr. I Wayan Ari Wijana S. Putra, M.Si, Sabtu (15/06/19) menuturkan bahwa cita-cita pemerintah Kota Kupang, dalam hal ini Dinas Kesehatan Kota Kupang terkait permasalahan ini ialah menekan angka kematian ibu hingga 0. Artinya tidak ada lagi kematian ibu di Kota Kupang.

Akan tetapi, sejauh ini hal tersebut masih belum dapat diwujudkan, mengingat, pada tahun 2018 lalu, data menunjukan bahwa angka kematian ibu di Kota Kupang mencapai 7 orang. Tahun ini (2019), terhitung sejak Januari hingga Mei ke Juni, angka kematian ibu di Kota Kupang sudah mencapai 4 orang.

“Walaupun kita berada di kota, tetapi ibu hamil yang sudah kita observasi secara rutin, menjelang melahirkan malah (pergi) ke dukun. Ada satu kasus yang pada saat ke dukun tahu-tahu terjadi pendaharan pasca persalinan, kita rujuk ke RSUD Prof. Dr. W Z Johannes Kupang, masuk ICU dan akhirnya meninggal,” tutur dr. Ari.

Terkait kematian ibu tersebut, pihaknya selalu melakukan Audit Maternal setiap kali ada kematian untuk memperoleh kemungkinan-kemungkinan faktor yang berpengaruh terhadap kematian tersebut, apakah itu di lapangan, komunitas, masyarakat atau di petugas Puskesmas.

Ingin Belajar Langsung di Rumah? Klik untuk Terhubung dengan Branded Home Private

Diterangkan pula bahwa dari kasus-kasus yang terjadi, semua ibu akhirnya meninggal di fasilitas kesehatan. Selama kehamilan sudah dilakukan observasi, hanya saja, seperti kasus yang dicontohkan, menjelang kelahiran, ibu yang bersangkutan tidak berada di tempat dan ternyata proses melahirkannya dilakukan oleh tenaga non kesehatan.

“Saya tidak bisa menyimpulkan bahwa penyebab kematiannya karena terlambat rujuk, tetapi yang jelas penyebabnya ialah terjadi pendaharahan pacsa persalinan,” tegas dr. Ari.

“Jadi perlu diingat bahwa 2 kasus penyebab kematian ibu yang banyak terjadi ialah pendarahan pasca persalinan dan pre-eklampsia,” sambungnya.

Terkait upaya penurunan angka kematian ibu yang dilakukan oleh pihaknya, dr. Ari mengatakan bahwa pihaknya terus melakukan apa yang disebut dengan 7H7. 7H7 ini memiliki arti bahwa 7 hari sebelum dan sesudah tanggal kelahiran, ibu harus diobservasi secara ketat.

Baca Juga: Sukarela, 20 Dokter Sp.OG akan Terjun ke Seluruh Puskesmas di Kota Kupang

“7 hari sebelum persalinan harus dilaksanakan observasi ketat sehingga pada saat kelahiran, kelahiran tersebut terjadi di fasilitas kesehatan dan ditangani oleh tenaga kesehatan yang kompeten,” tegas dr. Ari.

“Kalau masyarakat masih perhatian sama dukun, ya dukun sebatas mendampingi saja, sementara tindakan yang dilakukan sebaiknya oleh mereka yang professional, dalam hal ini tenaga kesehatan,” lanjutnya.

Selain itu, untuk tenaga kesehatan, dalam upaya menurunkan angka kematian ibu, ilmu yang dimiliki oleh tenaga kesehatan selalu diupdate dari waktu ke waktu.

“Kepada masyarakat kita terus memberi sosialisasi dan penyuluhan termasuk sosialisasi bahwa pelayanan obstetri ginekologi di Kota Kupang sebenarnya sudah sangat lengkap,” ujarnya.

Ia berharap setelah pihaknya melakukan integrasi Jamkesda ke BPJS Kesehatan, semua ibu hamil yang ada di Kota Kupang yang datang untuk melakukan pemeriksaan di Puskesmas tidak perlu lagi memikirkan anggaran.

“Kuncinya ialah kita di Puskesmas harus bisa mendiagnosa apakah ibu hamil yang datang tersebut berisiko tinggi atau tidak,” katanya.

Jika kondisi ibu hamil tersebut normal maka pertolongan persalinan bisa dilakukan di Poned atau di Puskesmas. Tetapi kalau berisiko tinggi, maka ibu tersebut akan melalui proses rujukan ke rumah sakit.

“Saya kira Kota Kupang sudah maju dalam hal pelayanan kesehatan, baik itu soal promotif-preventif maupun tingkat rujukan, di mana tingkat rujukan kita sudah sampai ke rumah sakit tipe B, yakni RSUD Prof. Dr. W Z Johannes dan RSU Siloam. Selain itu, tenaga kesehatan yang khusus berkaitan dengan ibu hamil sudah sangat tersedia: dokter spesialis obstetri ginekologi ada 21 orang di Kota Kupang, belum lagi dokter umum dan bidan yang juga banyak di Kota Kupang, ada 11 Puskesmas dan 12 rumah sakit,” terang dr. Ari.

“Oleh karena itu, untuk para ibu hamil atau para calon ibu atau para keluarga baru yang tengah menjalankan program untuk memiliki anak,  mari kita sama-sama pada saat sudah dinyatakan hamil, segara langsung berkomunikasi dengan teman-teman di pelayanan kesehatan yang ada,” ajaknya. (*/red)

Baca Juga: POGI NTT Beri Warna Tersendiri dalam Upaya Penurunan Angka Kematian Ibu di NTT

Video:

24 Dokter Ikuti Program Intersip Dokter Muda Indonesia di NTT

[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=9ZuCNt-hNkk[/embedyt]