Di Bawah Pimpinan Paulus Soliwoa, Angka Stunting di Ngada Turun Signifikan

Bajawa, medikastar.id

Salah satu masalah besar di bidang kesehatan yang hingga saat ini dihadapi oleh Indonesia ialah stunting. Meski telah mengalami penurunan, data Riskesdas tahun 2018 menunjukkan bahwa prevalensi stunting di Indonesia adalah sebesar 30,8 persen. Provinsi Nusa Tenggara Timur menjadi penyumbang terbanyak yakni sebesar 42,6 persen.

Stunting atau yang biasa disebut anak kerdil adalah kondisi gagal tumbuh yang dialami oleh seorang anak. Kondisi ini akan mendatangkan berbagai macam kerugian bagi bangsa, khususnya keluarga dan anak yang mengalaminya. Terdapat dampak jangka pendek dan jangka panjang jika seorang anak mengalami stunting.

Masalah kesehatan gizi buruk kronis ini tak hanya mempengaruhi fisik anak, namun juga otak anak yang tidak berkembang secara baik. Alhasil, di masa depan nanti, sang anak akan kesulitan dalam hal akademik dan lain sebagainya.

Terkait stunting tersebut, Kabupaten Ngada di bawah pimpinan bupati Paulus Soliwoa telah berhasil menurunkan angka stunting secara signifikan dalam 2 tahun belakangan ini.

Turunnya angka stunting di kabupaten Ngada secara signifikan tidak terlepas dari peran Paulus Soliwoa. Baginya, stunting merupakan persoalan kemanusiaan, sehingga dirinya kemudian mengambil berbagai langkah untuk menurunkan angka stunting dengan melibatkan berbagai sektor, termasuk PKK.

“Bagi saya, persoalan stunting atau yang biasa disebut anak kerdil adalah sebuah persoalan kemanusiaan. Kita tidak mau masyarakat Ngada ini, khususnya anak-anak Ngada tumbuh dengan kondisi kerdil dan tidak sehat. Karena kondisi gagal tumbuh yang dialami oleh anak ini merupakan persoalan kemanusiaan, maka saya meminta semua sektor, termasuk PKK untuk menggempur stunting secara serius,” ungkap Paulus kepada media ini.

Dengan berbagai langkah tersebut, kondisi stunting  di Kabupaten Ngada pada Tahun 2017 lalu yang adalah sebesar 68 persen mengalami penurunan secara signifikan pada tahun 2018 menjadi 32 persen. Tidak berhenti di situ, pada tahun 2019, secara signifikan angka stunting di Ngada turun menjadi 15 persen.

Paulus menegaskan bahwa ke depan, dirinya berkomitmen untuk terus berupaya menurunkan angka stunting di Kabupaten Ngada.

“Kita akan gempur terus dengan semua sektor, intervensi program dan juga keterlibatan PKK. Target kita, tidak ada lagi anak-anak Ngada yang terkena stunting atau angka stunting kita harus 0 persen,” tegas Paulus.

Selain berbagai program yang telah dilaksanakan, Ia juga mengatakan bahwa program lainnya yang akan dikembangkan untuk menurunkan angka stunting ialah dengan keterlibatan sektor pariwisata.

Ke depan, jika terpilih kembali sebagai Bupati, diri bersama Gregorius Upi akan fokus pada sektor pariwisata sebagai leading pembangunan, tentunya selain sektor pertanian.

“Prinsip kita, ada investasi di pariwisata maka masyarakat harus mendapatkan manfaatnya. Jadi kita akan merevitalisasi rumah-rumah di daerah potensi pariwisata untuk menjadi home stay. Misalnya ada rumah 4 kamar, 2 kamar bisa menjadi home stay,” jelasnya.

Ketika rumah masyarakat menjadi home stay, lanjut Paulus, maka rumah tersebut harus bersih. Ketika rumah bersih, dampak lainnya akan dirasakan pemilik rumah. Pemilik rumah akan terbiasa menerapkan pola hidup bersih dan sehat, sehingga bukan saja aspek ekonomi yang dirasakan, tetapi juga dari aspek kesehatan.

Dengan cara ini, secara tidak langsung angka stunting di Kabupaten Ngada juga akan ikut menurun karena masyarakat telah terpola untuk menerapkan hidup bersih dan sehat.

Selain itu, untuk menurunkan angka stunting, Paulus juga berencana untuk melibatkan sektor perikanan. Dalam perencanannya, nelayan di Kabupaten Ngada akan dibentuk kelompok-kelompok nelayan, yang mana kelompok-kelompok ini akan diberikan pelatihan dan juga diberikan peralatan oleh pemerintah. Perlatan tersebut termasuk kapal yang telah dilengkapi dengan GPS untuk memaksimalkan hasil tangkapan.

“Kalau sudah demikian, maka tentu hasil tangkapan nelayan kita akan banyak. Maka kita butuh pabrik es, sehingga kita akan membangun pabrik es di beberapa lokasi. Ketika ikan kita banyak, maka PKK dapat berperan untuk mengolah ikan hasil tangkapan menjadi produk lain seperti abon ikan dan sebagainya,” jelas Paulus.

Produk hasil olahan dari PKK tersebut akan diberikan bagi masyarakat yang kurang mampu, khususnya para ibu hamil dan juga balita. Menurut Paulus, dengan intervensi semacam ini, maka tentunya target untuk menurunkan angka stunting di Kabupaten Ngada hingga 0 persen bisa tercapai.

““Kita boleh membangun infrastruktur, tetapi jika aspek kemanusiaan ini kita abaikan maka sia-sialah apa yang kita lakukan selama ini. Oleh karena itu kita harus melanjutkan pembangunan yang sudah ada di Ngada. Ini merupakan sebuah tanggung jawab moril bagi saya secara pribadi,” tutup Paulus. (*/Red)

Video: Mengapa Harus Pakai Masker?

[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=xm0shUYhk8s[/embedyt]