FK Undana dan Perjuangannya Menjawabi Kebutuhan Dokter di NTT

medikastar.id

Sejak tahun 2008 silam, Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang hadir dan memberi warna tersendiri bagi dunia kesehatan provinsi NTT. Seiring berjalannya waktu, fakultas ini kemudian mengalami perkembangan yang cukup signifikan dan telah memberikan sumbangsi yang besar bagi masyarakat NTT, terutama dalam menjawabi kebutuhan dokter di provinsi ini.

Kamis (27/07/17), di ruang kerjanya, dr. Bobby M. Koamesah, Dekan FK Undana kepada Medika Star berbagi ceritera tentang FK Undana di bawah kepemimpinannya. Sosok yang pernah berkiprah di Dinas Kesehatan ini adalah salah satu tokoh yang pada tahun 2008 lalu turut terlibat membantu mempersiapkan proses pembukaan FK Undana. Pada saat itu, ia melihat bahwa ada langkah lain yang dapat dilakukan olehnya untuk berkontribusi lebih, khususnya untuk menjawabi kompleksnya persoalan kesehatan di NTT.

Salah satu persoalan yang paling mendasar yang ia lihat adalah persoalan sumber daya manusia. “Kita telah merdeka selama 72 tahun, tetapi dalam hal SDM kesehatan, kita masih terbelakang sampai sekarang. Saat ini FK Undana telah memproduksi 139 dokter. Sebelumnya, kita selalu bergantung pada dokter yang berasal dari luar NTT,” tegas dokter yang pernah berkerja di RSU Ruteng ini.

Dikisahkan bahwa beberapa tahun silam, ketika dirinya masih berkerja di Dinas Kesehatan, NTT sangat membutuhkan dokter spesialis. Tidak tersedianya dokter yang berasal dari NTT, membuat para dokter PTT dibiayai sekolahnya agar setelahnya mereka kembali untuk mengabdi di NTT. Sayangnya, karena bukan merupakan putra-putri daerah, para dokter tersebut biasanya hanya bertahan selama setahun. Setelah itu, mereka kembali ke daerah asalnya. Hal yang sama pun terjadi pada dokter baru yang ditempatkan di wilayah ini. Tidak heran jika hingga saat ini pun NTT masih sangat kekurangan dokter umum dan dokter spesialis.

“Minimnya anak-anak daerah yang tersedia untuk disekolahkan membuat kita menyekolahkan mereka yang berasal dari luar NTT. Oleh karenanya, jika kita membangun FK ini dengan baik dan bisa meluluskan dokter, maka kita akan langsung menjawab dua kebutuhan, yaitu kebutuhan akan dokter umum dan kemudian kebutuhan akan dokter spesialis,” lanjut dr. Bobby.

FK Undana Hadir bagi Putra-Putri Daerah

Untuk dapat menjadi seorang dokter, biaya yang dikeluarkan tidaklah sedikit, tetapi bagaimana caranya agar putra-putri daerah yang mungkin kurang mampu dari segi ekonomi dapat mengeyam pendidikan dokter?

Hal yang dilakukan ialah dengan mencari bantuan dari luar, sehingga ada subsidi yang memungkinkan mahasiswa tidak harus membayar biaya pendidikan yang terlampau mahal. Selain itu, ada juga program beasiswa, seperti beasiswa bidik misi dan beasiswa lainya, termasuk beasiswa dari pemerintah provinsi yang juga sangat membantu mahasiswa. Bahkan ada pemerintah kabupaten/kota di NTT yang menanggung biaya pendidikan dokter bagi putra-putri daerahnya dengan syarat; setelah menyelesaikan pendidikannya, mahasiswa tersebut harus kembali untuk mengabdi di daerah asalnya.

“Bagi saya, hal yang paling ideal adalah mahasiswa dapat kuliah secara gratis. Jika memungkinkan, pendidikan yang mahal ini dapat ditanggung oleh pemerintah, sehingga mereka yang telah lulus langsung direkrut kembali. Dengan begitu, semua anak-anak NTT memiliki peluang yang sama untuk masuk ke FK. Tetapi hal ini masih dalam tahap perjuangan,” papar dr. Bobby.

Hingga saat ini pun FK Undana hanya menerima 10-15% mahasiswa baru yang berasal dari luar NTT. Selebihnya, mahasiswa baru yang diterima di FK Undana adalah anak-anak NTT yang kemudian akan mengabdi di tengah masyarakat di daerahnya.

Berdiri di atas Kaki Sendiri

“Pada saat saya masuk ke sini, persoalan sekaligus tantangan utama bagi saya adalah bagaimana caranya membawa FK menjadi fakultas yang mandiri. Bagi saya, ini adalah perjuangan hidup dan mati, sehingga apa pun tantangannya, akan kita hadapi,” jelas dr. Bobby mengawali pembicaraan mengenai perkembangan FK Undana.

Sejak tahun 2008 hingga tahun 2016, FK Undana masih berada di bawah bimbingan, karena masih tergolong sebagai fakultas baru dan masih belum memiliki apa-apa. Kondisi ini menyebabkan FK Undana “dicangkokan” di fakultas kedokteran yang sudah mapan, misalnya di FK UNHAS, sehingga dengan sendirinya ada banyak hal yang diterima dari universitas tersebut, termasuk dosen, bahan/materi, dan sebagainya. Tetapi, seiring berjalannya waktu FK Undana terus berbenah dan mempersiapkan diri untuk dapat mandiri secara bertahap.

“Kita patut berbangga, saat ini ketergantungan kita sudah tersisah sekitar 5% saja, sebab kita masih belum memiliki ahli. Sementara, 95% kita sudah mandiri,” pungkas dr. Bobby.

Hal lain yang juga tengah dihadapi adalah bagaimana meningkatkan akreditasi FK Undana dari terakreditasi C menuju B. Ini membutuhkan kerja keras yang luar biasa, sebab ada banyak faktor yang terkait di dalamnya, mulai dari infrastruktur, SDM, manajemen, kurikulum, kelulusan, dan sebagainya. Namun, jika hal tersebut dapat tercapai, maka akan menjadi modal besar bagi FK Undana untuk terus mengembangkan diri.

Pembenahan dan peningkatan yang terus dilakukan oleh FK juga dimaksudkan agar dapat menghasilkan dokter dalam jumlah yang memadai, sehingga persoalan mengenai minimnya tenaga dokter di NTT dapat segera terjawab. Sayangnya, saat ini kuota penerimaan mahasiswa baru FK Undana harus mengikuti kuota nasional. Kuota ini dilandaskan pada perhitungan ration dosen dengan mahasiswa, infrastruktur, kelulusan ujian dokter, akreditasi, dan lain sebagainya. Berdasarkan hal tersebut, FK Undana masih tergolong dalam kelas terbawah yang hanya dapat menerima mahasiswa baru sekitar 50-60 orang.

“Sebenarnya dengan hitungan mengenai persentasi jumlah lulusan dan juga dosen yang ada, kita sudah dapat menerima mahasiswa di atas 50 orang. Kita masih belum lakukan itu karena masih ada beberapa hal lain yang harus dibenahi. Kita proyeksikan 1 atau 2 tahun ke depan kita sudah mampu menerima mahasiswa di atas 100 orang,” jelas dr. Bobby.

Ia lalu melanjutkan, “Menurut perhitungan saya, NTT saat ini masih kekurangan sekitar 1.500 orang dokter umum. Jika kita hanya memproduksi 50 dokter per tahun, maka berapa banyak waktu yang kita butuhkan untuk menjawabi kebutuhan tersebut? Minimal kita harus menerima sekitar 100 atau 150 mahasiswa dalam sekali penerimaan agar bisa menjawab persoalan yang ada sekaligus mengejar ketertinggalan.”

Lebih jauh dijelaskan bahwa mulai tahun depan (2018), sistem pengelolan BLU akan diterapkan sehingga langkah-langkah besar pasti akan diambil oleh FK Undana. Akan ada banyak kreasi dalam rangka membangun institusi tersebut. Memang saat ini telah dilakukan berbagai terobosan serta hal-hal baru, namun masih belum maksimal karena terbatasnya dana yang tersedia. Jika nanti FK Undana diberi kebebasan untuk mengelola dana, maka dana tersebut akan kelola secara maksimal demi kemajuan fakultas, termasuk demi mewujudkan keadilan sosial.

Keadilan sosial yang dimaksud merujuk pada bagaimana mahasiswa yang mampu secara ekonomi yang dapat membayar sebesar 200 hingga 300 juta untuk pendidikannya membantu membangun institusi dan memberikan kontribusi bagi mahasiswa yang kurang mampu. “Jika semua diberlakukan sama, maka akan tidak adil bagi mereka yang kurang mampu,” jelas  dr. Bobby.

Di penghujung perbincangan, dr. Bobby berkata, “Banyak fakultas kedokteran di Indonesia yang menjadi besar dalam kurun waktu yang lama. Ada yang sampai ratusan tahun, atau telah didirikan sejak zaman Belanda. Jika kita mengikuti sejarah yang normal tersebut, maka kita butuh 3 sampai 4 generasi untuk mencapai mimpi kita.”

“Harapan saya, perkembangan FK Undana mengalami loncatan-loncatan terbaik menuju tujuan yang ingin dicapai. Oleh karenanya, kita harus bekerja lebih keras, lebih inovatif dan sebagainya. Kalau bisa, FK ini dapat berkembang menjadi fakultas yang mapan sesuai harapan dalam kurun waktu 20 tahun,” tutupnya. (Red)