medikastar.id
Salah satu gejala yang sering muncul pada penderita Covid-19 adalah hilangnya kemampuan indra penciuman atau anosmia. Orang yang mengalami anosmia tidak bisa mencium aroma apa pun, baik aroma bunga atau parfum maupun bau tidak sedap, seperti bau busuk dan bau amis.
Gejala ini umumnya muncul sekitar 2–14 hari setelah tubuh terpapar virus Corona. Mengapa anosmia dapat dialami oleh penderita Covid-19?
Dilansir Alodokter, anosmia umumnya disebabkan oleh pembengkakan atau penyumbatan di rongga hidung yang membuat bau atau aroma tertentu tidak bisa terdeteksi oleh saraf di dalam hidung. Selain itu, anosmia juga dapat terjadi karena adanya masalah pada sistem saraf yang berfungsi untuk mendeteksi aroma atau bau.
Saat melewati rongga hidung, virus Corona dapat menyerang sistem saraf yang berfungsi sebagai indra penciuman di dalam hidung. Gangguan inilah yang diduga dapat menyebabkan gejala anosmia pada Covid-19.
“SARS-CoV-2 mengikat reseptor enzim pengubah angiotensin (ACE) di sel basal, sel pendukung, dan sel perivaskular di sekitar neuron (sel saraf) di epitel olfaktori (reseptor utama indra penciuman di pangkal hidung),” ujar Zara M Patel, ahli bedah kepala dari Fakultas Kedokteran Universitas Stanford, AS, sebagaimana dikutip Kompas.
Meski neuron tidak rusak, semua struktur pendukung di sekitarnya rusak. “Saraf tidak berfungsi dengan baik karena ada peradangan. Tidak mengherankan virus ini menyebabkan disfungsi penciuman,” lanjut Patel.
Menurut beberapa penelitian, anosmia cenderung muncul di masa awal infeksi dan biasanya akan pulih dalam waktu 28 hari. Anosmia pada Covid-19 juga sering disertai dengan dysgeusia atau gangguan indra pengecap, seperti mulut terasa asam, pahit, asin, atau terasa seperti logam.
Saat mengalami dysgeusia, penderita Covid-19 bisa kehilangan nafsu makan, bahkan penurunan berat badan. Semakin parah anosmia yang terjadi, semakin buruk pula gangguan pada indra pengecap.
Berbagai Gejala Covid-19 Lainnya
Selain menyebabkan anosmia, penyakit Covid-19 juga dapat menimbulkan beberapa gejala lain, seperti demam, batuk kering, sakit kepala, mual, muntah, hingga diare.
Tingkat keparahan gejala Covid-19 pun beragam. Ada penderita Covid-19 yang tidak mengalami gejala apa pun, tetapi ada juga yang mengalami gejala berat, seperti sesak napas, lemas, dan tubuh tampak kebiruan.
Gejala Covid-19 yang berat umumnya lebih berisiko terjadi pada orang yang berusia lanjut atau memiliki penyakit tertentu, seperti diabetes, penyakit jantung, asma, dan HIV.
Kapan Harus ke Dokter?
Di masa pandemi seperti saat ini, Anda perlu waspada jika mengalami gejala Covid-19, termasuk hilangnya kemampuan untuk mencium bau. Anda juga patut lebih berhati-hati apabila memiliki riwayat kontak atau sering bepergian ke tempat ramai.
Jika Anda merasakan gejala anosmia tanpa adanya gejala lain yang berbahaya, segera lakukan isolasi mandiri dan cukupi waktu istirahat, minum air putih lebih banyak, serta konsumsi obat penurun panas, seperti paracetamol, jika mengalami demam.
Namun, jika muncul gejala Covid-19 yang berat, seperti sesak napas atau demam tinggi yang tidak kunjung reda, segera hubungi dokter untuk mendapatkan penanganan.
Anosmia pada Covid-19 bukanlah gejala yang berbahaya. Namun, kondisi ini juga tidak boleh diabaikan. Waspadai munculnya gejala-gejala COVID-19 lainnya selama melakukan isolasi mandiri. Bila perlu, periksakan diri ke dokter untuk memastikan apakah gejala anosmia yang Anda alami disebabkan oleh Covid-19. (*)
Baca juga: Dokter Olive Napitulu: 5-7 Persen Pasien Covid-19 Butuh Perawatan di ICU

