medikastar.id
Setiap tahun, tanggal 1 Desember selalu diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia. Khusus di tahun 2020 ini, tema yang diangkat adalah “Global Solidarity, Resilient Services”. Solidaritas global digaungkan sebagai bentuk kampanye peringatan penting di tengah pandemi Covid-19 yang sedang berlangsung.
Sehubungan dengan hal tersebut, Badan Kesehatan Dunia (WHO) memiliki empat fokus utama dalam upaya penanganan Covid-19 dan HIV. Dengan begitu, diharapkan kedua penyakit tersebut bisa memiliki proses penanganan yang lebih baik di seluruh dunia.
Mengapa penanganan kedua perlu dilakukan dengan serius? Dalam 40 tahun terakhir, tercatat bahwa AIDS telah merenggut sekitar 32,7 juta jiwa. Pada tahun 2019, terdapat 38 juta orang yang hidup dengan infeksi HIV. Dari total tersebut, ada 690 ribu kematian dan 1,7 juta orang yang baru terinfeksi. Sementara sejauh ini, Covid-19 telah merenggut lebih dari satu juta nyawa.
Melihat hal tersebut, maka empat fokus utama dari WHO diharapkan dapat menjadi sebuah komitmen baru bagi penanganan HIV/AIDS di seluruh dunia. Berikut adalah fokus tindakan utama tersebut:
Pembaruan Perjuangan untuk Mengakhiri HIV
Aksi tanggap terhadap HIV di seluruh dunia dinilai telah melambat dalam beberapa waktu belakangan ini. Karena itu, diperlukan upaya yang lebih serius seperti investasi dan inovasi. Kedua hal tersebut dapat membuat pelayanan kesehatan menjadi lebih luas, serta respon terhadap pandemi yang berlangsung bisa kembali ke jalur yang tepat.
Alhasil, HIV bisa diakhiri pada tahun 2030 mendatang. WHO tidaklah menganggap target tersebut sebagai suatu kemunduran, melainkan komitmen baru untuk melakukan yang terbaik.
Memastikan Pelayanan HIV yang berkelanjutan
Untuk memastikan pelayanan HIV/AIDS yang bekelanjutan, dibutuhkan langkah inovatif dari semua pihak. Di masa pandemi ini, terdapat berbagai pendekatan baru perawatan pasien HIV yang diadopsi dari banyak negara. Karena itu, semua pihak terkait di seluruh dunia harus bisa belajar dengan cepat dan memiliki langkah inovasi yang lebih banyak.
Selain itu, WHO pun telah merekomendasikan resep obat untuk beberapa bulan. Resep tersebut bertujuan untuk melindungi pasien, serta mengurangi beban layanan kesehatan.
Perlindungan Tenaga Kesehatan
Dalam komitmennya, WHO pun menaruh perhatian yang sangat besar bagi seluruh tenaga kesehatan yang bertugas. Para pembuat kebijakan didesak untuk memastikan keterlibatan dan keamanan seluruh petugas garis depan seperti dokter, perawat, bidan, dan lain-lain. Perlindungan ekstra perlu diberikan bagi mereka yang berjuang dalam penanganan Covid-19 dan HIV/AIDS.
Prioritas terhadap Kelompok Rentan, Pemuda, dan Populasi Kunci
WHO juga mendorong semua pihak untuk memastikan orang-orang yang termasuk dalam kelompok rentan, pemuda dan remaja, serta populasi kunci untuk tetap berada dalam kondisi sehat. Tujuannya adalah menghindarkan mereka dari gangguan kesehatan yang mengharuskan kelompok-kelompok tersebut mendapatkan perawatan medis selama pandemi Covid-19.
Kelompok rentan terdiri dari lansia dan anak-anak. Sedangkan, populasi kunci terdiri dari pengguna narkoba, LGBT, pekerja seks, transgender, serta orang-orang di lapas yang terkena infeksi HIV.
Solidaritas global yang disuarakan oleh WHO bertujuan agar seluruh kalangan dapat bekerja sama dalam penanganan penyakit ini, tak terkecuali masyarakat. Sebagai bentuk solidaritas, diharapkan diskriminasi pada para pasien HIV dan Covid-19 bisa dihilangkan pada di tengah masyarakat.
Gunakanlah prinsip “tidak ada yang aman, sampai semua orang aman”. Dengan demikian, semua orang dapat memiliki komitmen untuk saling mendukung, serta melindungi diri dan sesama dari HIV dan Covid-19. Selamat memperingati Hari AIDS Sedunia 2020, tetaplah tunjukkan solidaritas kita.
Baca juga: Pemerintah Pastikan Kesiapan Vaksin Covid-19

