Memahami Lingkaran Hidup Nyamuk Aedes Aegypti dan Cara Memutusnya

medikastar.id

Memasuki musim penghujan, kasus DBD biasanya makin mengganas di tengah masyarakat. Penyebabnya tentu saja karena kondisi lingkungan yang tidak dijaga secara bersih. Alhasil, nyamuk Aedes Aegypti yang menyebarkan penyakit tersebut bisa berkembang biak dalam jumlah banyak secara mudah.

Upaya pencegahan perlu dilakukan agar kasus DBD tidak terus bertambah atau pun memakan lebih banyak korban. Salah satu cara untuk mencegah perkembangbiakan Aedes Aegypti secara efektif adalah memahami terlebih dahulu life cycle atau lingkaran hidup dari nyamuk pembawa virus dengue ini.

Proses Lingkaran Hidup Nyamuk Aedes Aegypti

Penularan DBD terjadi ketika nyamuk menghisap darah manusia. Saat menghisap darah, virus dengue dari tubuh nyamuk akan masuk ke tubuh manusia. Lebih lanjut, darah dibutuhkan oleh nyamuk sebagai makanan dan pendukung dalam proses memproduksi telur.

Setelah produksi telur berlangsung, nyamuk akan mencari tempat yang terdapat air untuk meletakkan telurnya. Sekali bertelur, telur yang dihasilkan oleh nyamuk Aedes Aegypti dapat mencapai 100 buah. Nyamuk ini pun menyukai air yang bersih untuk meletakkan telurnya. Tempat seperti bak mandi dan penampungan air minum adalah area favoritnya.

Untuk berkembang dari telur menjadi larva, diperlukan waktu selama 2 sampai 7 hari. Selain itu, telur nyamuk juga membutuhkan air yang lebih banyak untuk berkembang. Air tersebut biasanya didapatkan dari air hujan atau saat manusia mengisi penampungan air tanpa mencucinya.

Larva akan hidup selama 4 hari dengan mengonsumsi mikroorganisme dalam air, sebelum berkembang menjadi pupa. Selanjutnya, 2 hari kemudian, pupa akan berubah menjadi nyamuk dewasa. Nyamuk dewasa lah yang akan menghisap darah manusia dan kembali berkembangbiak.

Begitulah lingkaran hidupnya akan terus berputar. Terhitung, perkembangbiakan nyamuk ini membutuhkan waktu selama beberapa hari hingga belasan hari.

Memutus Lingkaran Hidup Nyamuk Aedes Aegypti

Setelah memahami tentang lingkaran hidup dari nyamuk Aedes Aegypti, maka sikap dan perilaku masyarakat pun perlu ditingkatkan dalam upaya mencegah penyakit DBD. Upaya 3M+ tentu saja menjadi cara terbaik untuk mencegahnya.

Tindakan yang sering kali diremehkan adalah menguras, membersihkan, dan menutup penampungan air. Cara tersebut direkomendasikan untuk memutus lingkaran hidup nyamuk ini. Dengan melakukannya, maka risiko anggota keluarga dan masyarakat menderita DBD karena gigitan nyamuk dewasa pun akan berkurang.

Penampungan air sebaiknya dikuras secara teratur seminggu sekali. Tak hanya dikuras, penampungan air juga perlu dicuci. Alasannya karena meski air telah dikuras, telur nyamuk bisa tetap bertahan dalam waktu yang lama dengan menempel pada dinding penampung air. Jadi, ketika air baru dimasukan tanpa dicuci, telur-telur tersebut masih akan terus berkembang.

Selain bak mandi dan penampung air, ada juga beberapa tempat perkembangbiakan nyamuk yang biasanya terluputkan dari perhatian masyarakat. Tempat-tempat tersebut adalah pot atau vas bunga, nampan dari AC atau kulkas, dan tempat lain yang terisi air.

Sampah-sampah seperti gelas dan botol air mineral, kaleng-kaleng, serta plastik juga sering menjadi tempat bertelurnya nyamuk saat musim hujan. Oleh karena itu, selain upaya menguras dan membersihkan tempat penampungan air di rumah, sampah-sampah juga perlu dibersihkan.

Baca juga: Ini Empat Fokus Utama dari WHO di Hari AIDS Sedunia 2020