Kota Kupang, medikastar.id
Jauh sebelum Demam Berdarah Dengue (DBD) mewabah di NTT, Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi NTT telah mengambil langkah antisipatif. Di mana sejak Oktober 2018 lalu, sebelum kasus DBD dimulai, Dinkes NTT telah memberikan peringatan kepada seluruh kabupaten melalui surat untuk kewaspadaan dini terhadap DBD.
Hal tersebut dijelaskan oleh Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan Provinsi NTT, drg. Dominikus M. Mere, M.Kes kepada Medika Star, Sabtu (16/03/19) ketika dimintai keterangan terkait peran Dinkes provinsi NTT dalam penanganan kasus DBD di Sumba Timur.
Sebagaimana ramai diberitakan oleh media massa, Kabupaten Sumba Timur telah menetapkan DBD sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). drg. Dominikus sendiri menyampaikan bahwa dari angka yang dilaporkan, di Sumba Timur sudah terjadi 675 kasus DBD dengan angka kematian akibat DBD sejumlah 16 orang.

Terkait hal tersebut, selain surat peringatan untuk kewaspadaan dini terhadap DBD, lanjut drg. Dominikus, Dinkes provinsi NTT juga telah melakukan sejumlah langkah lainnya.
“Kepala dinas kesehatan dan staf sudah tiga kali mengunjungi Sumba Timur untuk berkoordinasi dan mengantisipasi peningkatan kejadian sebelum ditetapkan sebagai KLB. Kita juga membawa serta plasma darah dan 1 unit swingfog untuk membantu Sumba Timur. Termasuk berkoordinasi dengan semua pihak, khususnya rumah sakit, seperti Rumah Sakit Umum Umbu Rara Meha, Rumah Sakit Lindimara, dan Rumah Sakit Emanuel,” jelasnya.
Pihaknya juga telah mengirimkan petugas ke Sumba Timur untuk segera berkoordinasi demi mengatasi berbagai macam persoalan berkaitan dengan pelayanan kesehatan. Ini juga demi memberikan dukungan bagi Puskesmas di Sumba Timur, terutama berkaitan dengan ketepatan dan kecepatan merujuk pasien DBD.

Baca Juga: GMIT: Sebagian Besar Pekerja Migran Asal NTT Meninggal Akibat Penyakit Degeneratif
“Kemarin saya juga berkoordinasi dengan wakil bupati Sumba Timur agar menggerakan seluruh ASN, para camat, kepala desa, dan lurah untuk kerja bakti massal, terutama berkaitan dengan peberantasan sarang nyamuk dan pemberian abate. Untuk pemberian abate, saran saya, mereka bisa melibatkan Poltekkes Kemenkes yang ada di Sumba Timur,” lanjut drg. Dominikus.
Lebih jauh, pihaknya juga telah menggelar rapat koordinasi di rumah sakit yang melibatkan seluruh dokter umum di seluruh wilayah Puskesmas di Sumba Timur dan para kepala Puskesmas. Dalam rapat tersebut dibahas hal-hal teknis yang berkaitan dengan diagnosa dini dan penanganan segara untuk penderita DBD.
“Penanganan DBD di Sumba Timur sudah harus dilakukan secara terpadu dengan melibatkan seluruh unsur atau sektor terkait agar penanganan kasus ini lebih komprehensif,” tutup drg. Dominikus. (*/red)
Baca Juga: Gubernur NTT: Pengembangan Peternakan, Upaya Mengembalikan Kejayaan NTT sebagai Lumbung Ternak

