Borong, Medika Star.com
Alfianus Hanu balita berusia 3 tahun ini menderita hidrosefalus. Kepalanya terus membesar dari waktu ke waktu. Ia tak pernah mendapat pertolongan medis. Apa daya, orang tuanya tak mampu membiayai pengobatan putra mereka.
Anak kedua dari pasangan Mersiana Dian (31) dan Sonitus Hanu (34), warga kampung Rentung, Desa Benteng Riwu, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur, kini terbaring lemah tak berdaya. Balita bernama Alfianus Hanu yang berusia 3 tahun ini menderita penyakit hidrosefalus.
Hidrosefalus itu sendiri berasal dari kata hydro yang berarti air dan cephalus yang berarti kepala. Hidrosefalus merupakan kondisi penumpukan cairan pada rongga otak atau yang disebut dengan ventrikel yang mengakibatkan ventrikel-ventrikel di dalamnya membesar dan menekan organ tersebut. Cairan ini akan terus bertambah sehingga ventrikel di dalam otak membesar dan menekan struktur dan jaringan otak di sekitarnya.
Tekanan tersebut dapat merusak jaringan dan melemahkan fungsi otak apabila penderita tidak segera ditangani. Penanganan utama hidrosefalus adalah melalui operasi yang bertujuan untuk membuang kelebihan cairan serebrospinal di dalam otak.
Mersiana, ibunda Alfianus saat ditemui Medika Star di kediamannya, Jumat (14/09/18) mengisahkan bahwa pada usia 1 tahun, putranya mengalami sakit berat. Saat itu mereka masih berada di Malaysia.
Sejak sakit tersebut, lanjut Mersiana, kepala putranya terlihat mulai membesar. Setelah diperiksa, dokter menuturkan bahwa putranya menderita hidrosefalus.

“Memang kami sempat mengobati anak kami ke salah satu rumah sakit yang ada di Malaysia. Namun baru satu malam dirawat di rumah sakit tiba-tiba anak kami langsung ditolak oleh pihak rumah sakit dengan alasan sakitnya terlalu berat. Pihak rumah sakit menganjurkan kepada kami waktu itu untuk rawat di rumah. Katanya karena penyakit yang diderita oleh anak sangat berat dan sulit disembuhkan,” kenang Mersiana sambil menangis sedih.
Ia menjelaskan, selama 4 tahun di Malaysia, banyak sekali bantuan yang datang dari orang-orang di sana untuk mengobati putranya. Namun tak ada hasil yang menggembirakan. Walaupun banyak kendala yang dialami oleh keluarga Mersiana selama di Malaysia, mereka terus berusaha merawat anak mereka untuk tetap bertahan hidup.
Dengan semakin sulitnya biaya pengobatan selama di Malaysia ditambah beban hidup yang begitu berat, maka Mersiana bersama suaminya memilih untuk kembali ke kampung halaman.
Hingga saat ini, Mersiana mengakui bahwa dirinya dan keluarga belum membawa anaknya di pelayanan kesehatan setempat, lantaran terkendala biaya pengobatan.
“Dengan biaya operasi yang cukup besar sangat tidak mungkin kami bisa obati anak kami. Suami saya hanya seorang petani dan saya hanya duduk di rumah menjaga dan merawat anak saya setiap hari,” ungkap Mersiana.
Sejauh ini belum ada bantuan yang didapatkan oleh keluarga Mersiana, demi pengobatan anak mereka. Mersiana dan keluarga hanya bisa berharap ada uluran tangan kasih yang peduli dan mau membantu keluarganya dalam hal biaya operasi putranya tersebut.
Ia juga berharap agar Pemdes Benteng Riwu dan Pemda Manggarai Timur dapat tergerak hati membantu biaya pengobatan anak mereka. (Mull)
Baca Juga : Kemen PPPA Terus Berupaya Putuskan Mata Rantai Perdagangan Orang

