medikastar.id – Masa pandemi Corona (Covid-19) bisa dibilang telah menyatukan semua pihak untuk bahu membahu dalam mengatasinya. Semua pihak mulai dari pemerintah, masyarakat, dan orang-orang yang memiliki keahlian di bidang kesehatan bekerja sama dalam melawan penyebaran virus ini. Salah satu pihak yang patut diacungi jempol adalah para relawan.
Ketika muncul pengumuman mengenai perekrutan relawan, banyak orang yang berbondong-bondong mendaftarkan diri. Menjadi relawan memang bukanlah tugas yang mudah. Meski begitu, menjadi relawan memiliki banyak keuntungan yang bisa didapatkan.
Aktivitas relawan atau volunteering merupakan kegiatan dengan keterlibatan individu atau kelompok yang memberikan layanan tanpa keuntungan finansial. Kegiatan ini sering dihubungakan dengan promosi kebaikan karena bisa menggerakan orang lain untuk berbuat hal baik serupa.
Kata volunteer atau sukarelawan pertama kali digunakan pada tahun 1600. Pada saat itu, ada orang-orang yang menawarkan diri untuk dinas militer dari Prancis Tengah secara sukarela. Konsep ini kemudian terus berkembang hingga pada tahun 1960. Pada saat itu, Ernesto Che Gueavara yang merupakan seorang revolusioner dari Kuba menciptakan konsep kerja secara sukarela. Konsep itu dimaksudkan agar para pekerja di seluruh negeri merelakan beberapa jam kerja untuk melakukan aktivitas sukarela.
Terdapat beberapa jenis aktivitas relawan yang diketahui sampai sejauh ini. Jenis-jenis tersebut antara lain kegiatan relawan untuk pembelajaran, relawan berdasarkan skill atau kemampuan, relawan di negara berkembang, relawan lingkungan, relawan masa gawat darurat, relawan sekolah atau perusahaan, relawan komunitas, hingga relawan pada sebuah kegiatan atau event.
Masing-masing jenis relawan memiliki kriteria tersendiri. Di luar kriteria khusus tersebut, untuk menjadi seorang relawan, seseorang perlu memenuhi beberapa kriteria umum. Dikutip dari Masyarakat Relawan Indonesia, syarat menjadi seorang relawan antara lain harus memiliki komitmen yang tinggi, sehat secara jasmani dan rohani, mengikuti kegiatan tanpa dipaksa, bersedia mematuhi aturan-aturan yang diberikan, dan memiliki ketulusan atau hati yang mau melayani.
Seorang relawan juga harus bersedia menjalankan tanggung jawabnya dengan sungguh-sungguh. Hal ini sering menjadi hambatan. Penyebabnya adalah kesulitan yang sering kali menjadi makanan para relawan selama menjalankan tugasnya. Kesulitan tersebut seperti harus keluar dari zona nyaman, merasa terlalu banyak bekerja, emosi yang terkuras, materi juga terkadang akan terkuras, serta fisik dan mental yang bisa terasa lelah.
Meski memiliki cukup banyak kesulitan, masih banyak keuntungan-keuntungan yang bisa dirasakan ketika seseorang menjadi relawan. Keuntungan yang pertama adalah memperluas jaringan dan pertemanan. Kenalan baru yang dimilikipun kebanyakan adalah orang-orang yang berpikiran luas dan tulus.
Keuntungan berikut adalah meningkatnya kemampuan atau skill bidang keilmuan serta sosial. Contohnya bisa terlihat saat penanganan Covid-19 saat ini. Para tenaga kesehatan yang menjadi relawan bisa menerapkan, mengembangkan, menambah pengalaman, serta mempelajari skill baru. Hal tersebut bisa membuatnya makin berkompeten atau berkualitas. Kemampuan bersosialisasi juga akan meningkat karena telah terlatih bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang yang baru dikenal.
Aktivitas relawan juga bisa membuat tubuh dan pikiran menjadi lebih sehat. Bright Network menuliskan terdapat study yang menyatakan bahwa mereka yang sering terlibat dalam aktivitas sukarela memiliki tingkat kematian yang lebih rendah dibandingkan yang tidak. Kesibukan yang dijalani sebagai relawan juga terbukti dapat mengurangi gejala penyakit jantung dan nyeri kronis.
Bagi kesehatan mental, seorang relawan akan memiliki tingkat kepercayaan diri, penerimaan diri, serta kepuasan yang tinggi. Hal ini dikarenakan saat melakukan aktivitas ini, orang tersebut membantu orang lain. Proses membantu orang lain akan membuat pihak yang memberi dan menerima sama-sama merasa bahagia.
Selanjutnya, relawan sering kali membawa perubahan pada orang atau komunitas yang ia bantu. Perubahan tersebut tercipta sebagai akibat dari rasa kebersamaan dan saling mendorong untuk menciptakan sesuatu yang lebih baik.
Lalu, bagaimana dengan orang-orang yang tidak bisa berpartisipasi sebagai relawan? Dalam masa “perang” melawan pandemi Corona ini, relawan yang dibutuhkan adalah mereka yang memiliki keahlian di bidang kesehatan. Akan tetapi, semua orang tetap bisa berpartisipasi sebagai relawan.
Partisipasi dapat dilakukan melalui ketaatan pada rekomendasi seperti physical distancing, bekerja atau belajar dari rumah, rajin muncuci tangan, dan menjaga pola konsumsi yang Seimbang. Aktivitas sukarela juga dapat dilakukan dengan berdonasi untuk membantu para tenaga medis yang kekurangan alat pelindung diri.
Upaya mengatasi Covid-19 membutuhkan partisipasi semua pihak. Semua masyarakat bisa membantu dengan menjadi relawan atau menjalankan rekomendasi yang diberikan oleh pemerintah. Kedua tugas ini sama-sama memiliki fungsi yang penting untuk menyelesaikan masalah yang ada. (har)

Baca juga: Penggunaan Disinfection Chamber, Aman atau Tidak?

