Penggunaan Disinfection Chamber, Aman atau Tidak?

medikastar.id – Dalam masa pandemi Covid-19 sekarang ini, semua wilayah Indonesia berusaha melakukan upaya pencegahan dengan maksimal. Salah satu cara pencegahan yang diterapkan adalah dengan melakukan disinfeksi untuk membunuh virus. Upaya ini dilakukan dengan membuat disinfektan untuk membunuh virus pada benda-benda yang digunakan sehari-hari.

Proses disinfeksi juga dilakukan dengan menempatkan disinfection chamber di beberapa tempat. Belakangan, penggunaan alat ini menuai pro dan kontra. Lantas, aman atau tidak penggunaan disinfection chamber?

Disinfektan adalah bahan kimia yang bersifat racun, serta dapat membunuh virus dan bakteri yang terdapat pada permukaan benda mati. Disinfection chamber adalah bilik atau ruang disinfeksi yang ditempatkan pada tempat-tempat khusus untuk melakukan disinfeksi.

Dikutip dari The Great Soviet Encyclopedia, terdapat empat jenis disinfection chamber yang dibedakan berdasarkan jenis agen disinfekinya. Keempat jenis alat tersebut antara lain jenis uap, udara panas, formaldehida, dan gas.

Pada ruang disinfeksi jenis uap terdapat aliran uap pada suhu 100°C atau lebih. Biasanya alat ini digunakan untuk mendisinfeksi pakaian, bahan baku industri seperti kain dan wol, dan produk jadi seperti perban dan kapas.

Ruang disinfeksi udara panas biasanya digunakan untuk mendisinfeksi pakaian pada suhu 80 hingga 100°C. Selanjutnya, ruang disinfeksi jenis formaldehida menggunakan uap formaldehida pada suhu 60 hingga 70°C. Formaldehida adalah senyawa kimia yang juga biasa dikenal sebagai formalin. Alat jenis ini biasanya digunakan untuk mendisinfeksi pakaian dan barang-barang yang terbuat dari kulit atau bulu.

Sedangkan, ruang disinfeksi jenis gas menggunakan bahan kimia berbentuk gas seperti formaldehida, belerang dioksida, atau karbon sulfida. Selain jenis-jenis tersebut masih terdapat lagi beberapa jenis agen disinfeksi.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyatakan jenis-jenis metode disinfeksi antara lain ionizing radiation, ozone, cairan kimia, hingga gas klorin dioksida. Metode tersebut digunakan dalam upaya disinfeksi dan sterilisasi pada fasilitas layanan kesehatan. Proses disinfeksipun dilakukan pada permukaan dari benda-benda mati yang memiliki mikororganisme seperti virus dan bakteri.

Disinfection chamber belakangan ini banyak digunakan pada beberapa wilayah. Tujuannya adalah membunuh virus yang terdapat pada permukaan tubuh manusia. Cara penggunaan alat ini pun sangat mudah. Seseorang cukup masuk ke dalam ruang disinfeksi, nyalakan sakelar, lalu memutar tubuh 360°. Sambil memutar tubuh, disinfektan akan disemprotkan ke dalam ruang tersebut.

Dilansir dari Jakarta Globe, semprotan antiseptik yang digunakan di dalam kamar menyerupai cairan pembersih tangan atau hand sanitizer. Cairan tersebut berbeda dari agen yang digunakan untuk disemprotkan pada fasilitas umum. Seperti yang diketahui, bahan antiseptik yang digunakan dalam hand sanitizer adalah alkohol dan beberapa bahan lain.

Penggunaan cairan hand sanitizer akan efektif membunuh virus pada permukaan kulit tubuh, hanya jika antiseptik tersebut menyentuh virus yang berada pada tubuh. Selain itu, CDC juga merekomendasikan penggunaan hand sanitizer pada tangan dengan cara menggosok tangan selama 40 hingga 60 detik. Hal ini berarti, untuk membunuh virus pada tubuh, dibutuhkan waktu yang cukup dan kulit tubuh juga perlu digosok.

World Health Organization (WHO) juga menyatakan bahwa menyemprotkan cairan alkohol atau klorin pada tubuh tidak bisa membunuh virus yang telah masuk ke dalam tubuh. Penyemprotan senyawa kimia tersebut malahan bisa berbahaya bagi pakaian serta mata atau hidung. Untuk dapat mendisinfeksi permukaan tubuh, penggunaan bahan-bahan tersebut harus sesuai dengan rekomendasi yang tepat.

Penggunaan disinfection chamber perlu diteliti lebih lanjut. Penelitian tersebut dapat meliputi waktu kontak efektif dari agen pembunuh virus dari ruang disinfeksi dengan tubuh, serta tingkat keamanannya. Jika terbukti bahwa alat ini aman, penggunaannyapun perlu diawasi oleh pihak terkait agar sesuai dengan pedoman yang benar.

Selain itu, masyarakat juga perlu diedukasi bahwa senyawa dalam alat tersebut hanya berfungsi untuk membunuh virus dan bakteri pada permukaan tubuh, bukan yang telah masuk ke dalam tubuh. Hingga saat ini, cara terbaik untuk mencegah Covid-19 adalah menjalankan rekomendasi yang telah diberikan. Rekomendasi tersebut meliputi rajin mencuci tangan, physical distancing, tidak stres, hingga konsumsi makanan bergizi. (har)

Baca juga: Senin (30/03), NTT Masih Negatif Covid-19. Jumlah Total ODP Jadi 558 Orang