Kisah 30 Gadis Belu Putus Sekolah, Diberi ‘Bekal Hidup’ Oleh Dekranasda Belu

Senyum ceria nampak di wajah 30 gadis muda asal Kabupaten Belu. Rabu (13/12/23) di sore hari saat senja merayap pelan menuju sang malam, mereka nampak bahagia memamerkan hasil karya mereka, tenun ikat Belu yang telah mereka hasilkan dari proses yang tak mudah.

30 gadis muda itu adalah peserta program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) Tenun Ikat Belu yang telah menyelesaikan proses pendidikan mereka. Mereka adalah para gadis berusia 15 sampai 25 tahun yang putus sekolah ataupun lulusan SMA yang belum mampu melanjutkan pendidikan ke tingkat selanjutnya. Mereka bahagia karena ternyata masih ada pihak yang peduli dan memperhatikan masa depan mereka. Mereka bahagia karena sebuah bekal untuk hidup yang lebih baik telah mereka terima.

Sore itu di aula gedung wanita Bete Lalenok mereka mengikuti rangkaian acara penutupan PKW yang selama ini mereka jalani. Bupati Belu, dr. Agustinus Taolin, SpPD-KGEH, FINASIM hadir dan menutup secara resmi PKW tersebut. Di moment itu juga hasil tenun mereka dipajang dan beberapa di antaranya langsung ludes dibeli beberapa tamu undangan yang hadir, termasuk dibeli oleh Bupati Belu, dr. Agustinus Taolin dan juga Ketua Dekranasda kabupaten Belu, Dra. Freny Sumantri Taolin.

Dengan mata berkaca-kaca, Dau Densiana Bere, gadis asal kelurahan Manumutin bertutur bahwa menenun adalah tugas seorang perempuan Belu yang sungguh berat. Walaupun berat tetapi tugas ini selalu dikerjakan dengan hati untuk menutupi tubuh orang-orang yang dicintai.

Bupati Belu, dr. Agus Taolin dan Ketua Dekranasda Belu, Freny Taolin bersama salah satu peserta PKW

“Selama ini kita membagikan cerita suka duka di balik pekerjaan tenun dan lupa bahwa pekerjaan tenun dilakukan setelah ibu-ibu Belu mengurus rumah tangga, mengurus suami kerja di ladang, dan merawat ternak peliharaan. Ternyata tenun adalah mahakarya dari ibu-ibu Belu,” katanya.

Densi mengungkapkan rasa bangga karena mendapatkan kesempatan untuk mempelajari langkah-langkah menenun kain tenun Belu.

“Kesempatan menjadi peserta PKW merupakan kado natal dan tahun baru untuk kami yang diberikan oleh bunda Freny,” ungkapnya.

Salah satu peserta PKW saat menerima menerima modal usaha

Ia kemudian berharap kepada bupati Belu, dr. Agus Taolin untuk memfasilitasi pembentukan koperasi untuk para peserta PKW sehingga bisa menjual hasil tenun kepada Dekranasda Belu maupun pihak lainnya.

“Kami selalu mendoakan bunda Freny yang telah membawa kami mengikuti kegiatan ini. Terima kasih kepada bapak bupati Belu dan dinas terkait yang telah membantu kami dalam segala hal. Terima kasih untuk para pelatih dan tim Dekranasda Belu yang selalu setia membimbing kami,” ucap Densi.

Langkah Maju Untuk Para Peserta

Saat menutup kegiatan, Bupati Belu, dr. Agus Taolin mengungkapkan rasa senang dan bangga dengan adanya kegiatan PKW tersebut. Menurutnya pendidikan dan pelatihan Tais Belu dengan pewarnaan alam sangat penting untuk mempertahankan warisan budaya serta meningkatkan keterampilan masyarakat dalam bidang kerajinan tradisional.

“Saya merasa senang dengan kegiatan seperti ini, sehingga pelatihan-pelatihan seperti ini tidak boleh berhenti di pelatihan saja. Ini merupakan hal yang perlu dikembangkan, oleh karena itu saya berkeinginan untuk mengelompokan mereka dalam UMKM tenun Belu,” ungkap dr. Agus.

Ia juga mengutarakan beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh para peserta PKW ke depan, khususnya di bagian kewirausahaan. Menurutnya kelemahan terbesar yang sering ditemui ialah kurangnya pemahaman tentang kewirausahaan sehingga usaha yang dijalankan akhirnya mandek dan tidak berkembang.

Bupati Belu, dr. Agus Taolin berdialog dengan para peserta PKW

“Hari ini wirausaha masih menjadi salah satu kelemahan kita karena banyak yang belum memahami arti penting berwirausaha di jaman sekarang ini. Sehingga dengan pelatihan seperti ini para peserta perlu mengingat secara baik untuk menghitung modal, untuk beli benang, membayar gaji, membeli pewarna, dan sebagainya. Jika sudah jadi, kain itu dijual dengan harga berapa, kemudian bayar utang berapa, untuk anak berapa, tabung berapa. Itu semua harus dihitung terlebih dahulu sehingga bisa mengembangkan hasil karyanya. Untuk bisa menjadi wirausahawan harus bisa menghitung segala aspek dari hulu hingga ke hilir,” jelas dr. Agus.

Selanjutnya Ia mengatakan bahwa pihaknya akan membantu para peserta PKW tersebut dalam proses permodalan dan juga peralatan yang dibutuhkan untuk memproduksi tenun Belu.

“Setelah diproduksi kita harus melihat kualitas dan kuantitasnya. Kualitas ini dalam berbagai hal seperti kualitas untuk adat, baju, pakaian resmi di kantor, maupun dimana saja. Ini untuk bisa membantu meningkatakan pendapatan dari para pengrajin, khususnya dari para peserta pelatihan ini,” kata dr. Agus.

Di kesempatan itu dirinya langsung berbicara mengenai langkah konkret untuk membentuk sebuah koperasi bagi para peserta pelatihan sesuai harapan para peserta. Ia juga mengutarakan bahwa dirinya akan menjadi pembina demi membantu para peserta ini agar bisa terus berkembang maju.

Sementara itu Ketua Dekranasda kabupaten Belu, Dra. Freny Sumantri Taolin dalam laporan panitia menjelaskan bahwa pendidikan dan pelatihan penenun tais Belu dengan pewarnaan alam tahun 2023 adalah hasil kerjasama Dekranasda kabupaten Belu dengan dekranasda Provinsi NTT, Dekranasda Pusat dan Direktorat Khusus dan Pelatihan Direktorat Jendral Pendidikan Vokasi Kemendikbudristek RI.

Bupati Belu, dr. Agus Taolin dan Ketua Dekranasda Belu, Freny Taolin meninjau bantuan modal usaha bagi para peserta PKW

“Kegiatan ini telah dilaksanakan mulai dari 23 oktober 2023 sampai dengan tanggal 2 desember 2023. Selama 200 jam pelajaran, dengan diikuti oleh 30 peserta yang terdiri dari wanita usia 15 sampai 25 tahun  putus sekolah, maupun lulusan SMA yang belum mampu melanjutkan pendidikan ke tingkat selanjtunya,” jelas Freny.

Ia menjelaskan bahwa  ada beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan selama proses Pendidikan tersebut. Kegiatan tersebut antara lain teori, praktek pewarnaan benang dan praktek penenunan. Para peserta juga akan menerima modal usaha dalam bentuk alat dan bahan sesuai juknis program PKW. Adapun alat dan bahan yang diberikan di antaranya 1 set alat tenun, panci, ember, baskom, benang putih dan bahan pewarna.

“Dekranasda Belu telah berupaya menyelenggarakan kegiatan transfer menenun warisan leluhur melalui program PKW di tahun 2021 dan tahun 2023. Oleh karena itu saya harapkan kiranya para peserta yang telah mengikuti pelatihan dan dibekali dengan keterampilan dasar menenun mendapatkan perhatian dari dinas atau lembaga terkait, para camat, kepala desa dan lurah. Semoga berkenan memberikan perhatian kepada peserta PKW yang sudah selesai megikuti kegiatan ini,” tutup Freny. (*)