Kota Kupang, medikastar.id
Minggu, 8 Desember 2019. Pagi itu matahari belum jauh dari ufuk timur. Bunga-bunga Sepe yang membentang rapih di pinggir jalanan Kota Kupang pun masih basah oleh embun yang enggan menguap. Di halaman depan Lapas Kelas IIA Kupang nampak para dokter, bidan, perawat, apoteker, dan tenaga kesehatan lainnya yang tergabung dalam Persekutuan Doa Oekumene RSUD SK Lerik Kota Kupang mulai berdatangan.
Senyum terpancar dari wajah mereka masing-masing menambah indah pagi itu. Rupanya di hari itu, Persekutuan Doa Oekumene yang dinahkodai oleh Zevanya Kamengmau ini akan berbagi kasih bersama para warga Lapas Kelas IIA Kupang. Selain beribadah bersama, Persekutuan Doa Oekumene ini juga telah berkomitmen untuk mendukung para warga binaan dengan membeli berbagai kerajinan tangan karya mereka.
Usai berkoordinasi sejenak, rombongan kemudian berarak menuju sebuah gerbang besi, satu-satunya akses masuk ke Lapas yang terlihat masih tertutup. Ada puluhan orang di hadapan gerbang itu, menunggu giliran untuk masuk ke dalamnya.
“10 perempuan silahkan masuk,” begitu kata petugas dari balik gerbang sambil membuka sedikit gerbang besi itu.
Beberapa saat menunggu giliran, rombongan Persekutuan Doa Oekumene ini akhirnya diperbolehkan masuk. Di balik gerbang, beberapa petugas telah menunggu. Semua yang masuk lantas diperiksa secara jeli. Barang bawaan diminta untuk ditinggalkan di luar gerbang, mulai dari handphone sampai dompet. Satu dua barang yang boleh dibawa hanyalah Alkitab, uang derma, dan juga KTP. Untuk kaum pria, KTP dikumpulkan oleh petugas di ruangan ini.

Dari ruangan ini, masih ada 2 gerbang lagi yang harus dilewati untuk sampai di Gereja, tempat para penghuni Lapas yang beragama Kristen beribadah. Seluruh rombongan disambut dengan senyum dan sapaan ramah dari para penghuni Lapas ketika melawati gerbang-gerbang itu sebelum akhirnya masuk ke dalam Gereja.
Ibadah pun dimulai. Dalam ibadah ini Persekutuan Doa Oekumene RSUD SK Lerik mempersembahkan 2 buah lagu dan juga instrumen sasando bagi seluruh Jemaat. Tidak ketinggalan, vocal group dan solo dari para warga binaan juga turut tampil dalam Ibadah ini.
Pendeta Yos Boboy, STh yang memimpin ibadah ini dalam khotbahnya berbicara tentang pentingnya pertobatan demi menyambut kedatangan kekasih jiwa, Yesus Kristus.
“Hal utama yang harus dipersiapkan untuk menyambut kedatangan Tuhan ialah hati yang bertobat, bukan cat rumah atau pakaian baru, apalagi kue-kue. Tetapi yang sering kita lakukan ialah kita lebih mementingkan pakaian baru dan juga kue ketimbang bertobat,” katanya.
Olehnya, di moment itu, Pdt. Yos mengajak seluruh Jemaat yang hadir untuk bertobat dan tidak lagi melakukan kesalahan-kesalahan yang selama ini sering dilakukan sehingga semuanya dapat menyambut kedatangan Yesus dengan hati yang bersih.
Di Penutup Ibadah, ketika diberikan kesempatan untuk berbicara, Zevanya Kamengmau berkisah bahwa pengalaman beribadah bersama para warga binaan Lapas Kelas IIA Kupang merupakan sebuah pengalaman yang luar biasa.
“Warga binaan dalam keterbatasan masih dapat melaksanakan ibadah secara baik dan teratur, ini menjadi contoh bagi kita. Kita yang berada di luar yang tidak memiliki keterbatasan ruang dan waktu seharusnya banyak belajar dari sama saudara kita di sini,” tuturnya.
Zevanya juga mengutarakan bahwa dalam bingkai berbagi kasih, sebenarnya Persekutuan Doa Oekumene RSUD SK Lerik ingin melaksanakan penyuluhan kesehatan bagi para warga binaan. Akan tetapi karena keterbatasan waktu dan juga koordinasi, hal ini belum dapat terlaksana.
“Mudah-mudahan ini bisa dikoordinasikan secara lebih baik sehingga ke depan bisa kita laksanakan penyuluhan kesehatan di sini,” harapnya.

Usai ibadah, seluruh jemaat pun saling salam-salaman satu dengan yang lainnya sambil menikmati snack yang telah disiapkan oleh Persekutuan Doa Oekumene RSUD SK Lerik. Semuanya nampak bahagia. Tak ada sekat antara yang datang dengan para warga binaan.
Sebelum meninggalkan Lapas, rombongan Persekutuan Doa Oekumene ini membeli berbagai kerajinan tangan karya para warga binaan yang dipajang di halaman Gereja. Ada ragam kerajinan tangan, mulai dari dompet yang terbuat dari koran bekas hingga hiasan-hiasan unik yang dibuat dengan bahan dasar rak telur.
“Kami sangat senang dikunjungi seperti ini. Tentunya kami mengharapkan agar rencana penyuluhan kesehatan dari RSUD SK Lerik itu nantinya dapat terlaksana untuk kami, mungkin bukan di hari minggu tetapi di hari lainnya. Intinya kami ingin mengucapkan terima kasih kepada persekutuan doa oekumene SK Lerik karena sudah mengunjungi kami di sini. Semoga ini bukan yang terakhir,” tutur salah seorang warga binaan Lapas Kelas IIA Kupang yang enggan menyebutkan nama.
Tepat pukul 11.30 seluruh rombongan keluar dari Lapas tersebut. Cuaca panas, namun semua seolah mengabaikan itu. Kisah kasih yang terjadi di hari Minggu itu bahkan telah membuat semuanya lupa akan teriknya mentari di atas sana. (*/red)
Baca juga: Hari AIDS Sedunia, Kemen PPPA: Jauhi Virus HIV, Bukan Orangnya!

