Pasutri yang Belum Punya Keturunan Ternyata Punya Peluang untuk Miliki Buah Hati

Kota Kupang, medikastar.id

Infertilitas merupakan kondisi pasangan suami istri (Pasutri) yang melakukan hubungan seksual secara teratur (tanpa memakai kontrasepsi) namun belum berhasil mendapatkan kehamilan dalam waktu 1 tahun. Angka kejadian infertilitas ini berkisar antara 10 hingga 15 persen dan cenderung semakin meningkat dari waktu ke waktu. Penyebab infertilitas ini bisa saja karena faktor suami, faktor istri atau keduanya.

Untuk saat ini, berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kedokteran, pasangan yang telah lama menikah dan melakukan hubungan seksual secara teratur (tanpa memakai kontrasepsi) namun belum berhasil mendapatkan kehamilan dalam waktu 1 tahun tidak perlu khawatir lagi. Pasalnya, pasangan suami istri ini ternyata memiliki peluang untuk mempunyai buah hati alias penerus.

Hal di atas merupakan salah satu point yang mengemuka dalam seminar “Teknik Reproduksi Terbantu Meningkatkan Peluang Kehamilan” yang digelar di Milenium Ballroom Kupang, Sabtu (07/12/19). Seminar ini merupakan seminar yang diselenggarakan berkat kerja sama RSIA Dedari Kupang dengan RSIA Puri Bunda Denpasar, khususnya Unit Layanan Reproduksi Wija Insan Nugraha.

Hadir sebagai pemateri dalam seminar tersebut dr. I. Ketut Agus Sunatha, Sp.OG (K) yang membawakan materi mengenai, “Penanganan Infertilitas Dasar,” dr. Putu Doster Mahayasa, Sp.OG (K) yang memaparkan materi tentang, “Penanganan Infertilitas Lanjutan.” Selain itu, ada juga dr Jaqueline Sudiman, GradDipRepSC, MRepSc, PhD., yang membawakan materi, “Perkembangan Embrio pada Bayi Tabung.”

dr. Putu Doster Mahayasa, Sp.OG (K) dalam materinya menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan angka infertilitas cenderung semakin meningkat. Beberapa faktor tersebut ialah karena wanita menikah pada usia yang makin tua, menunda hamil, seks pra nikah, dan juga gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok, obesitas, dan sebagainya.

Khusus untuk kaum wanita, Ia menambahkan bahwa usia reproduksi sehat pada wanita berkisar antara 20 hingga 35 tahun. Kesuburan pada wanita bahkan mulai menurun setelah umur 35 tahun.

“Resiko gangguan kehamilan dan kelainan bawaan pada bayi juga makin meningkat bila wanita hamil pada umur lebih dari 35 tahun. Selain itu, makin lama infertil makin sulit untuk hamil. Ini dipengaruhi juga oleh faktor stress,” jelasnya.

Terkait infertilitas, dr. Putu Doster Mahayasa melanjutkan bahwa ada beberapa jenis teknologi reproduksi berbantu yang dapat dimanfaatkan oleh pasangan suami istri untuk memperoleh keturunan. Teknologi reproduksi berbantu tersebut antara lain Inseminasi, In Vitro Fertilization (IVF-ICSI), Cryopreservasi, Surogasi, Donor Sperma/Oosit, dan Kloning. Namun, Surogasi, Donor Sperma/Oosit, dan Kloning tidak diperbolehkan untuk dilakukan di Indonesia.

Selain Inseminasi dan beberapa layanan lainnya, dr. Putu Doster Mahayasa menjelaskan bahwa In Vitro Fertilization atau yang lebih dikenal dengan sebutan bayi tabung merupakan salah satu layanan yang dapat dilakukan di Unit Layanan Reproduksi Wija Insan Nugraha Denpasar.

Ia mengutarakan bahwa berkat kerja sama tim dokter, perawat dan juga dukungan teknologi, bayi tabung pertama di RS Puri Bunda Denpasar terlahir pada 3 November 2017 lalu dari pasangan Made Ariani dan Sang Gede Suardiasa. Setelah bayi pertama tersebut lahir, menyusul beberapa bayi lainnya yang lahir melalui proses tersebut. Hingga saat ini, untuk level Indonesia, Unit Layanan Reproduksi Wija Insan Nugraha memiliki persentase keberhasilan tertinggi, yakni sekitar 40 persen.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang yang diwakili oleh Kepala Bidang P2P, Sri Wahyuningsih mengatakan bahwa pemerintah Kota Kupang, khususnya Dinas Kesehatan Kota Kupang sangat mendukung seminar ini mengingat seminar ini sangat mengedukasi masyarakat.

“Biasanya yang terjadi ialah bahwa kalau orang tidak memiliki anak, orang berpikir bahwa itu adalah kutukan atau karma. Dengan adanya seminar ini semua diberi pemahaman bahwa untuk memiliki anak, ternyata membutuhkan proses,” katanya.

“Selain itu, salah satu pihak yang sering disalahkan ialah perempuan, nah dengan  mengikuti seminar ini orang bisa tahu bahwa penyebab pasangan suami istri belum dapat memiliki keturunan bukan hanya karena faktor perempuan, tetapi bisa juga karena laki-laki, atau juga karena keduanya,” lanjut Sri.

Menurutnya, melalui seminar ini RSIA Dedari sudah melakukan suatu hal yang sangat baik untuk masyarakat Kota Kupang. Akan tetapi dirinya juga tetap menyampaikan bahwa KB atau keluarga berencana adalah salah satu hal penting yang juga harus selalu diperhatikan oleh masyarakat.

Di tempat yang sama, dr. DAP. Shinta Widari, SPKJ, Mars menjelaskan bahwa seminar yang digelar tersebut merupakan kerja sama RSIA Dedari Kupang dengan RSIA Puri Bunda Denpasar, khususnya Unit Layanan Reproduksi Wija Insan Nugraha.

“Seminar ini juga terlaksana dalam rangka HUT ke-11 RSIA Dedari yang akan dirayakan pada bulan Februari nanti,” katanya.

Ia menambahkan bahwa seminar ini mau memberikan edukasi kepada seluruh masyarakat bahwa pasangan suami istri yang belum memiliki anak ternyata saat ini memiliki peluang untuk memiliki keturunan dengan adanya teknologi kedokteran yang ada.

dr. Nanin Susanti, Akp.MARS, Direktur RSIA Dedari menambahkan bahwa RSIA Dedari bisa menjadi pilihan bagi masyarakat NTT yang ingin memanfaatkan layanan teknologi reproduksi berbantu ini. Saat ini RSIA Dedari telah memiliki 1 orang konsultan fertilitas yakni dr. I. Ketut Agus Sunatha, Sp.OG (K).

Dalam kerja sama dengan Unit Layanan Reproduksi Wija Insan Nugraha, pasien-pasien yang berasal dari NTT dapat memperoleh penanganan awal di RSIA Dedari sebelum berangkat untuk menjalani tahap lanjutan di Denpasar.

“Ini merupakan sebuah layanan yang baru dari RSIA Dedari dalam kerja samanya dengan Unit Layanan Reproduksi Wija Insan Nugraha,” katanya.

Sementara itu, dokter spesialis kandungan dan kebidanan RSIA Dedari, dr. D.A.A. Shanti Widyasari, SpOG mengungkapkan bahwa selama menjadi dokter kandungan di Kupang, dirinya kerap menemukan kasus infertilitas.

Ia berharap agar dengan adanya seminar ini, pertanyaan-pertanyaan mengenai infertilitas dapat terjawab dan pasangan-pasangan yang belum memperoleh keturunan dapat memperoleh informasi bahwa mereka masih memiliki peluang untuk mempunyai keturunan.

“Dan semoga kami dari RSIA Dedari nantinya bisa melaksanakan program bayi tabung,” tutupnya. (*/red)

Baca Juga: Kisah Kasih di Lapas Kelas IIA Kupang

Video

Kasih dari RSUD SK Lerik untuk Warga Pulau Kera

[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=upR0IP9KXIk[/embedyt]