Surabaya, medikastar.id
Mahasiswa semester V tahun ajaran 2019/2020 Akper Maranatha Kupang mengikuti kuliah pakar tentang Komunikasi dan Caring Perawat pada Klien ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) dan Keluarganya, Sabtu (18/01/2020) di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur Surabaya.
Dalam kesempatan tersebut Awaliyah M. Suwetty, S.Kep.,Ns, M.Kep yang mewakili Direktur Akper Maranatha menyampaikan bahwa kegiatan tersebut dapat berlangsung berkenaan dengan kegiatan Praktik Kinik Keperawatan Jiwa yang akan dilaksanakan pada tanggal 20 Januari – 01 Februari 2020 mendatang.
Dikatakan olehnya bahwa perkuliahan yang diberikan langsung oleh dua pakar keperawatan jiwa itu dimaksudkan untuk memantapkan persiapan mahasiswa sebelum memulai praktik klinik. Harapannya, mereka akan lebih percaya diri ketika berhadapan langsung dengan klien yang mengalami gangguan jiwa atau ODGJ.
“Kami menyadari perkuliahan maupun praktik laboratorium di kampus belum cukup. Makanya perlu ditambah lagi dengan praktik klinik yang memungkinkan mereka belajar langsung pada tatanan nyata. Supaya lebih siap menghadapi pasien esok, maka hari dimotivasi lagi lewat kuliah pakar ini sehingga bisa menjalaninya dengan baik,” kata Wakil Direktur I Bidang Akademik tersebut.
Pemateri pertama, Ibu Dr. Rizki Fitryasari P.K, S.Kep.,Ns,M.Kep, berbagi pengetahuan dan pengalaman seputar topik Caring pada Pasien dan Keluarga ODGJ. Dosen Keperawatan Jiwa di Fakultas Keperawatan (FKp) Unair itu menjelaskan kalau caring atau yang diartikan sebagai perhatian perawat dengan sepenuh hati terhadap pasien, merupakan roh utama yang harus dimiliki setiap perawat.
“Aplikasi caring dalam asuhan keperawatan jiwa bila dilakukan dengan menunjukkan sikap bahwa perawat ‘hadir’ dan siap mendampingi pasien; memberikan sentuhan terapeutik; mendengarkan segala keluhan; memahami permasalahan, situasi dan kondisi pasien,” terang Rizki.
Sementara pemateri kedua, Abdul Habib, S.Kep.,Ns yang adalah seorang perawat berpengalaman yang telah lama merawat pasien di RSJ Menur Surabaya, membagikan teknik berkomunikasi dengan klien ODGJ .
Menurutnya, salah satu keterampilan kunci yang harus dimiliki perawat untuk memastikan asuhan keperawatan dapat berjalan efektif dan efisien adalah kemampuan berkomunikasi. Oleh karean itu pada kesempatan itu Habib langsung membicarakan dua topik sekaligus, yaitu tentang komunikasi terapeutik dan komunikasi efektif.
“Memang kegiatan berkomunikasi ini terkesan sepele, sekadar berbicara saja. Tapi, upaya untuk menyamakan persepsi antara pemberi dan penerima pesan bukanlah hal yang mudah ketika dilaksanakan. Apalagi bila berhadapan dengan pasien ODGJ, tentunya butuh latihan yang serius untuk membiasakannya,” tegasnya.
Terkait kuliah ini, Kadek Setiawan, salah seorang mahasiswa yang mengikuti kuliah pakar tersebut mengaku senang karena bisa mendapatkan informasi dan motivasi tambahan dari pakar yang telah berpengalaman.
“Kami bersyukur mendapat tambahan kuliah seperti ini, sehingga semakin menguatkan keyakinan kami dalam melakukan praktik. Pengetahuan dan keterampilan komunikasi dan caring yang didapatkan hari ini menjadi penentu kesuksesan kami dalam merawat pasien. Kalau komunikasinya gagal, bagaimana kami bisa mengenal masalah klien?” tandas Kadek. ( */Saverinus Suhardin/red)

