Kota Kupang, medikastar.id
Kejadian bunuh diri yang dilakukan Adolf Praditno Kia Koli baru-baru ini kembali membuat kita terpekur. Pria asal Adonara, Flores Timur, itu secara tragis mengakhiri hidupnya di jembatan Liliba, Kupang. Dari keterangan keluarga, ia diduga kuat stres karena sakitnya tak kunjung sembuh. Sebelumnya, kasus serupa menimpa YSS, pelajar salah satu SMP di Kota Kupang yang tewas gantung diri di rumahnya di Kelurahan Oebufu, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang, pada Oktober 2019 silam.
Setiap kasus bunuh diri adalah tragedi. Perkiraan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Global Burden Disease, ada 800 ribu orang yang meninggal setiap tahun karena bunuh diri. Itu artinya, ada satu kasus bunuh diri setiap 40 detik di seluruh dunia.
Lalu mengapa orang bisa sampai pada keputusan untuk mengakhiri hidupnya? Jawaban paling umum dikaitkan dengan gangguan mental. Salah satu gejala yang terjadi umumnya pada berbagai kondisi kejiwaan adalah merasa tertekan yang meliputi kecemasan, gangguan bipolar, depresi dan skizofrenia.
Kecemasan dapat menyebabkan rasa takut pada lingkungan sekitar Anda dan mencegah Anda dari beradaptasi dengan perubahan dalam hidup. Dalam beberapa kasus, kecemasan membuat Anda sulit untuk mempertahankan persahabatan, menyelesaikan sekolah, atau mempertahankan pekerjaan tetap. Maka kombinasi dari kesepian dan ketakutan memicu Anda untuk berpikir tentang bunuh diri.
Depresi berat dianggap menjadi penyebab utama bunuh diri di seluruh dunia. Orang yang tidak mampu untuk mengatasi gejala depresi mereka memiliki risiko lebih besar untuk melakukan bunuh diri. 90% dari kasus laporan depresi pernah berpikir untuk bunuh diri.
Depresi berat hampir selalu disertai dengan rasa duka yang meluas serta keyakinan bahwa tidak ada harapan lagi untuk melarikan diri darinya. Kepedihan eksistensial seringkali menjadi terlalu berat untuk ditanggung oleh orang yang mengalami depresi berat.
“Keadaan depresi melemahkan pemikiran mereka, memungkinkan ide-ide seperti, ‘Semua orang akan lebih baik tanpaku’. Mereka tidak seharusnya disalahkan karena menjadi mangsa pemikiran yang menyimpang itu, seperti halnya pasien jantung harus disalahkan karena mengalami nyeri dada; itu hanyalah sifat penyakit mereka,” ujar Alex Lickerman, seorang dokter dan pendiri serta CEO praktik swasta perawatan primer langsung bernama ImagineMD.

Karena depresi hampir selalu dapat disembuhkan, maka, menurut Lickerman, kita semua harus berusaha mengenali kehadirannya dalam teman dekat dan orang yang kita cintai. Seringkali, orang menderita dengan diam-diam, merencanakan bunuh diri tanpa ada yang tahu. Jika Anda mencurigai seseorang mengalami depresi, ajaklah dia bicara. Jangan biarkan kecenderungan Anda untuk menyangkal kemungkinan ide bunuh diri mencegah Anda menanyakannya.
Berikut ini beberapa hal terkait bunuh diri yang perlu Anda ketahui untuk mencegah tragedi ini terjadi lagi.
Pengalaman traumatis
Ketika Anda melalui pengalaman traumatis, Anda mungkin merasa sangat malu atau bersalah dan kemudian berpikir untuk bunuh diri. Pengalaman traumatis tersebut meliputi kekerasan fisik atau seksual, peperangan, dll. Salah satu kondisi terkait ini adalah post traumatic stress disorder (PTSD), yang ditandai dengan kilas balik atau munculnya kenangan terkait pengalaman traumatis. PTSD dapat menyebabkan kecemasan intens yang dapat mengganggu kehidupan normal. Hal ini dapat menyebabkan munculnya pikiran untuk bunuh diri.
Bullying (Perundungan)
Bullying memiliki efek mendalam pada cara seseorang berpikir dan bagaimana mereka merasa, terlepas dari seberapa sering dan metode bully apa yang digunakan. Jika Anda di-bully, Anda mungkin merasa sangat tertekan, tidak berharga, dan putus asa bahwa situasi Anda akan berubah.
Sayangnya, dalam banyak kasus, bullying (intimidasi) tidak mendapatkan pengakuan cukup dan tidak segera dilaporkan sampai semuanya sudah berada di luar kendali dan bunuh diri menjadi satu-satunya cara bagi korban untuk menghindari rasa sakit yang mereka alami.
Perkembangan teknologi menciptakan fenomena yang disebut “cyber bullying,” di mana korban diintimidasi secara online, sering kali bahkan oleh orang-orang yang mereka kenal. Hal ini biasanya terjadi di situs media sosial, komentar di situs web, dan berbagai blog yang bertujuan untuk merusak reputasi Anda dan membuat Anda merasa malu. Kecuali Anda memiliki solusi untuk mengatasi hal ini, pikiran untuk bunuh diri mungkin akan muncul.
Kematian artis Korea, Sulli pada Oktober 2019 lalu dikaitkan dengan cyber bullying ini. Hal ini dilihat dari beberapa video Instagramnya yang menunjukkan dia menangis dan berkata, “Aku bukan orang jahat”.
Kecanduan narkoba atau penyalahgunaan zat adiktif
Jika Anda kecanduan obat atau penyalahgunaan obat atau alkohol secara konsisten, inilah saatnya bagi Anda untuk berhenti. Ada bukti kuat bahwa kecanduan narkoba atau penyalahgunaan zat dapat membuat Anda menjadi tertekan. Meski obat-obatan atau alkohol dapat memberikan bantuan jangka pendek terhadap rasa sakit, itu tidak membantu memecahkan masalah dalam kehidupan nyata Anda.
Obat-obatan dan alkohol dapat mengubah fungsi otak dan neurotransmitter, sehingga menyebabkan depresi yang mendalam. Anda mungkin merasa tak berdaya untuk mengatasi kecanduan yang Anda hadapi. Gejala kecanduan dan “sakaw” bisa menyakitkan dan tak tertahankan. Pada saat itulah, bunuh diri terasa seperti cara terakhir untuk keluar dari perangkap candu.
Masalah dalam hubungan
Masalah dalam hubungan, misalnya, berada dalam hubungan yang kasar, tidak merasa dihargai, atau baru mengalami perpisahan, dapat menjadi tantangan besar dalam hidup. Hal ini terutama berlaku dalam hubungan percintaan atau keluarga. Masalah dalam hubungan asmara dapat menyebabkan perasaan depresi yang mendalam, kecemasan, rasa bersalah, dan panik. Masalah dalam hubungan juga dapat menyebabkan banyak rasa sakit emosional dan menenggelamkan Anda dalam pikiran untuk bunuh diri. Merasa takut kesepian atau terisolasi, cenderung membuat Anda rela untuk bergabung dengan kelompok teman-teman yang membawa pengaruh buruk, atau mencari bantuan dari obat-obatan dan alkohol.
Ingatlah, perasaan tersebut akan segera berlalu
Bila Anda tidak bisa mengatasi rasa sakit emosional Anda, Anda mungkin merasa putus asa dan ingin bunuh diri. Tapi penting untuk mengetahui bahwa rasa sakit adalah bagian tak terhindarkan dari kehidupan. Setiap orang dapat mengatasi rasa sakit sampai batas tertentu, tapi rasa sakit emosional yang kuat dapat menyebabkan pikiran untuk bunuh diri. Memahami apa yang menyebabkan pikiran untuk bunuh diri muncul akan membantu Anda keluar dari masalah tersebut dan mendapatkan kontrol kembali atas hidup Anda. (ens/ourworldindata)
Baca juga: Dari Sisi Kesehatan, Apakah Rokok Elektrik Lebih Baik dari Rokok Tembakau?

