medikastar.id – Hari Peringatan Autisme Sedunia atau World Autism Awareness Day jatuh pada tanggal 2 April setiap tahun. Peringatan ini dubuat oleh Majelis Umum PBB pada tahun 2007. Tujuan peringatan ini adalah menambah pemahaman dan kesadaran bagi semua orang tentang autisme. Semua orang perlu memahami bahwa pengidap autisme adalah orang-orang spesial yang bisa mencapai mimpi mereka.
Pemahaman tentang autisme diperlukan agar semua orang dapat mengetahui gejala dan cara memperlakukan orang dengan kondisi ini. Oleh karena itu, mari memahami tentang autisme.
Istilah autisme pertama kali diumumkan oleh seorang psikiater bernama Eugen Bleurer pada tahun 1911. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan beberapa gejala tertentu yang dianggap sebagai skizofrenia sederhana.
Autisme juga dikenal dengan sebutan Autism Spectrum Disorder (ASD) yang merupakan kondisi rumit dengan cakupan masalah komunikasi dan perilaku. Penyakit ini dapat menyebabkan masalah kesehatan yang kecil hingga kecacatan yang membutuhkan perawatan medis secara khusus.
Berdasarkan data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), satu dari 54 anak di dunia teridentifikasi mengalami ASD. Penyakit ini dapat terjadi pada semua kelompok ras, etnis, dan sosial ekonomi. ASD umumnya terjadi empat kali lebih banyak pada anak laki-laki dari pada perempuan.
Di Indonesia, berdasarkan data dari auticare.id, jumlah penyandang autisme diprediksi sebanyak 2,4 juta orang. Jumlah ini juga bertambah sebanyak 500 orang per tahun.
Gejala-gejala Autisme
Autisme memiliki beberapa gejala yang perlu dipahami. Gejala autisme biasanya muncul sebelum anak berusia tiga tahun. Sementara beberapa anak menunjukkan gejala sejak lahir.
Gejala-gejala tersebut antara lain kurangnya kontak mata terhadap orang lain, menunjukkan minat yang sempit atau topik tertentu, serta suka melakukan segala sesuatu secara berulang-ulang. Contohnya mengulang kata atau frasa, bergoyang-goyang, atau memutar tuas.
Gejala selanjutnya, mereka memiliki tingkat sensitivitas terhadap suara, sentuhan, bau, dan pemandangan yang lebih tinggi dari pada orang pada umumnya. Saat sedang dalam percakapan, mereka tidak akan mendengar atau melihat pada lawan bicara. Mereka juga tidak akan melihat pada hal-hal yang orang lain tunjuk.
Mereka juga tidak ingin atau cukup sulit dipeluk. Terdapat masalah dalam memahami atau menggunakan kalimat, gestur tubuh, ekspresi wajah, serta nada suara. Dalam berbicara, mereka sering menggunakan nyanyian, gaya robot, atau disampaikan dengan cara yang datar.
Pengidap autisme juga sulit beradaptasi atau mengganti rutinitas yang mereka miliki. Beberapa anak juga mungkin saja menunjukkan gejala seperti kejang.
Artikel terkait: Hari Tuberkulosis Sedunia, Mari Pahami Toss TBC
Tipe-tipe Autisme
Autisme dibedakan dalam beberapa tipe. Tipe tersebut seperti asperger’s syndrome yakni autisme dengan masalah pada bahasa. Akan tetapi, dalam tes kecerdasan, mereka umumnya memiliki skor sesuai atau di atas rata-rata.
Tipe berikut adalah autistic disorder. Autisme jenis inilah yang sering dikenali oleh kebanyakan orang. Jenis ini merujuk pada masalah interaksi sosial, komunikasi, dan bermain. Kebanyakan kasus mulai terjadi pada anak berusia tiga tahun.
Ada juga childhood disintegrative disorder. Anak-anak dengan autisme jenis ini biasanya menunjukkan perkembangan yang khas pada usia mulai dua tahun. Namun, mereka kemudian kehilangan sebagian besar ketrampilan komunikasi dan sosial pada waktu setelahnya.
Tipe yang terakhir adalah pervasive developmental disorder (PDP) atau atypical autism. Para dokter biasanya menggunakan istilah ini jika anak memiliki perilaku autisme. Perilaku yang biasa ditunjukkan adalah keterlambatan dalam ketrampilan sosial dan komunikasi.
Penyebab Autisme
Hingga sekarang penyebab pasti dari autisme belum diketahui. Penyakit ini bisa berasal dari masalah di bagian otak dalam menafsirkan input sensorik dan bahasa proses. Peningkatan risiko terjadinya autisme juga dapat disebabkan oleh kombinasi gen tertentu di dalam keluarga. Risiko tinggi juga terjadi pada anak dengan usia orang tua yang sangat tua saat melahirkan.
Saat ibu sedang mengandung dan banyak terpapar terhadap obat-obatan atau bahan kimia, seperti alkohol atau obat anti kejang, anaknya juga cenderung akan mengalami autisme. Faktor risiko lain adalah kondisi metabolisme ibu seperti diabetes dan obesitas.
Belum ada vaksin untuk mencegah terjadinya autisme. Obat khusus untuk menangani autism juga belum ada. Akan tetapi, diagnosis dan perawatan secara dini sangat berguna untuk perkembangan anak dan memberi perbedaan besar dalam hidupnya. Jika para orang tua atau kerabat mengetahui bahwa anaknya memiliki gejala autisme, alangkah baiknya segera menghubungi dokter untuk ditangani.

Penanganan dan Cara Mendukung
Dokter biasanya akan menanganinya dengan dua cara. Cara yang pertama adalah dengan memberi terapi khusus untuk membuat anak memiliki perilaku positif, serta mencegah perilaku negatifnya. Terapi ini juga berguna untuk meningkatkan skill hidupnya, seperti mengganti baju sendiri, makan, hingga berkomunikasi dengan orang lain.
Cara yang kedua adalah dengan pemberian obat. Obat yang diberikan bertujuan untuk mengatasi masalah perhatian, hiperaktif, serta kecemasan.
Pengidap autisme merupakan orang-orang yang spesial. Oleh karena itu, komunikasi atau cara berinteraksi bersama mereka pun harus dilakukan secara spesial. Poin yang paling penting adalah sabar. Selain itu, latihlah mereka untuk mengeluarkan emosi atau kemarahan, tapi tidak agresif. Bersikaplah gigih, tapi tegas dan selalu bersikap secara positif.
Seringlah berinteraksi dengan menggunakan aktivitas fisik, seperti olahraga, games, dan lain-lain. Memberi kasih sayang, kepercayaan, serta sikap menghargai juga sangat penting untuk dilakukan.
Orang tua atau kerabat dari pengidap ASD juga sering kali memiliki tingkat stres yang tinggi. Jadi, jangan lupa untuk mengambil waktu dalam memulihkan emosi. Salah satu cara terbaik adalah bergabung dan berbagi kisah, serta saling memotivasi antar sesama orang tua yang memiliki kondisi ini.
Mereka adalah Orang yang Spesial
Mereka memang sangat spesial. Orang dengan autisme mungkin memiliki masalah dengan belajar. Ketrampilan mereka juga mungkin tidak berkembang secara tidak merata, tapi mereka pasti memiliki keahlian dalam suatu bidang tertentu. Contohnya, bisa saja seorang anak mengalami masalah dalam komunikasi, tapi ia sangat ahli dalam bidang seni, musik, matematika, atau memori.
Karena itu, selama diperlakukan secara baik dan tulus, mereka bisa sangat berkembang. Cara terbaik untuk mengetahui keahlian mereka adalah dengan melakukan tes analisis dan pemecahan masalah. Hal tersebut bisa dilakukan dengan didampingi dokter atau ahli yang dapat membantu.
Banyak kisah inspiratif dan luar biasa dari para pengidap autisme. Contohnya adalah Yasmin Azzahra yang mengidap celeberal palsy. Hal tersebut membuatnya gagap dalam bicara. Anak kelahiran tahun 1999 ini juga harus hidup dengan kursi roda karena fungsi motoriknya yang rusak. Meski begitu, dia telah menulis beberapa buku dan menjadi duta literasi anak berkebutuhan khusus.
Ada juga Katie, putri dari Gina Gallagher yang mengidap sindrom Asperger sejak usia tujuh tahun. Ia memiliki masalah dalam belajar dan tidak terkoordinasi atau memiliki gangguan fungsi yang tinggi. Namun, berkat dukungan orang lain dan kerja kerasnya, ia bisa mendapatkan beasiswa dan lulus kuliah. Ia bisa mengemudi mobil seorang diri dan menjalankan kehidupannya secara normal.
Pemahaman yang benar mengenai autisme perlu dimiliki oleh semua orang. Dengan begitu, orang-orang dengan ASD dapat diperlakukan dan ditangani dengan cara yang tepat. Jika dibantu dengan baik, mereka bisa bertumbuh menjadi orang yang luar biasa. Mereka adalah orang-orang yang spesial. Selamat memperingati World Autism Awareness Day 2020, Heathies! (har)
Baca juga: Ini Penjelasan Karo Humas NTT Soal ODP dari Baumata yang Meninggal di RS Leona Kupang

