Memperingati Hari Anak Nasional, Sudahkah Anak Indonesia Terlindungi?

medikastar.id

Hari Anak Nasional selalu diperingati setiap tanggal 23 Juli. Di tahun 2020 ini, tema peringatan hari anak nasional adalah ‘Anak Terlindungi, Indonesia Maju’. Tema yang diambil tersebut memiliki kaitan langsung dengan kondisi pandemi Covid-19 yang sedang dihadapi saat ini. Anak mesti dipastikan aman di rumah, serta tetap sehat dan bahagia.

Selain pandemi Covid-19, anak perlu dilindungi dalam setiap aspek kehidupannya, termasuk dari kekerasan. Lantas, apakah anak-anak Indonesia sudah benar-benar terlindungi?

Dilansir dari Lokadata, angka kekerasan terhadap anak terlihat belum mengalami penurunan. Pada tahun 2015, angka kekerasan yang tercatat adalah sebanyak 1.975 kasus, lalu meningkat menjadi 6.820 kasus pada tahun 2016.

Sementara itu, Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja tahun 2018 (SNPHAR 2018) menunjukkan bahwa angka kekerasan terhadap anak cukup memprihatinkan. 1 dari 17 anak lakil-laki dan 1 dari 11 anak perempuan pernah mengalami kekerasan seksual. 1 dari 2 anak laki-laki dan 3 dari 5 anak perempuan pernah mengalami kekerasan emosional dan kekerasan fisik dalam jumlah yang sama.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa 2 dari 3 anak dan remaja di Indonesia pernah mengalami kekerasan sepanjang hidupnya. Angka ini bahkan terus meningkat hingga masa pandemi saat ini. Data dari SIMFONI PPA menunjukkan telah terjadi 3.087 kasus kekerasan terhadap anak pada periode 1 Januari hingga 19 Juni 2020. Angka itu telah termasuk kekerasan fisik, mental, dan sekual.

Kekerasan yang dialami oleh anak bisa dilakukan oleh siapa saja. Contohnya seperti orang tua, keluarga yang berusia dewasa, tetangga, teman sekolah, dan lain-lain. Terdapat beberapa penyebab dari terjadinya kekerasan terhadap anak. Contohnya seperti pengaruh buruk dari alkohol, obat-obatan, serta film porno yang ditonton oleh orang dewasa.

Selain itu, stres dan tekanan yang dialami orang tua, hingga kurangnya pengetahuan tentang mengasuh anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kekerasan. Sering kali, didapati bahwa pelaku merupakan orang-orang yang pernah menjadi korban kekerasan di masa lalu. Alhasil, anak-anak menjadi tempat pelampiasan bagi para pelaku.

Anak-anak yang mengalami kekerasan biasanya sulit untuk mengungkapkan apa yang dirasakannya. Karena itu, pengetahuan mengenai tanda-tanda kekerasan yang dialami anak perlu dipahami. Salah satu tanda yang paling sering nampak adalah perubahan perilaku. Selanjutnya, ketika mengalami kekerasan fisik, sering kali akan didapati luka atau rasa sakit pada bagian-bagian tertentu pada tubuhnya.

Saat mengalami kekerasan mental, emosi mereka akan terganggu. Sedangkan, saat mengalami kekerasan seksual, anak akan mengalami trauma, serta merasakan kesakitan pada bagian-bagian alat vitalnya.

Akibat yang ditimbulkan dari kekerasan yang dialami oleh anak pun tidak main-main. Mereka akan mengalami gangguan kesehatan secara fisik, mental, dan seksual yang parah.

Anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak mudah percaya pada orang lain. Terlebih, jika yang menjadi pelaku kasus kekerasan adalah orang terdekat yang seharusnya memberikan rasa aman dan melindungi mereka.

Korban kekerasan juga cenderung sulit mengekspresikan emosi yang dialami. Kemungkinan, mereka akan memiliki masalah mental yang serius, seperti stres dan depresi. Alhasil, hal-hal negatif seperti alkohol, obat-obatan terlarang, dan lain sebagainya akan digunakan oleh mereka sebagai pelarian.

Rasa kurang berharga dan tidak memiliki masa depan pun akan menghinggapi korban kekerasan. Hal ini membuat banyak korban akhirnya memutuskan untuk melakukan tindakan yang lebih parah, seperti menyakiti orang lain, diri sendiri, bahkan bunuh diri.

Untuk itu, anak-anak perlu mendapatkan perlindungan. Perlindungan dapat dilakukan dalam bentuk penanganan yang benar pada korban, serta pencegahan terjadinya kekerasan.

Saat anak-anak mengalami kekerasan, berikanlah perhatian dan tunjukkan rasa sabar. Ciptakan rasa aman dan nyaman sehingga anak yang menjadi korban dapat terbuka. Jika diperlukan, konsultasikan dengan lembaga perlindungan anak, hingga ambil langkah hukum yang sesuai.

Lebih lanjut, pencegahan terjadinya kekerasan terhadap anak perlu dilakukan. Orang tua dan keluarga adalah salah satu kunci utama pencegahan kekerasan terhadap anak. Karena itu, pengetahuan dan kemampuan mengasuh anak harus dimiliki. Ajarilah mereka tentang kekerasan fisik, mental, dan seksual, serta cara mengatasinya.

Contohnya, saat mengajari tentang kekerasan seksual, jelaskan apa yang boleh dan tidak boleh disentuh oleh orang lain. Atau, saat mengalami kekerasan, kepada siapa mereka harus melapor. Dengan begitu, mereka memiliki pengetahuan yang baik tentang mencegah, menghindar, dan berani bersuara ketika mengalami kekerasan.

Anak-anak adalah calon penerus keluarga dan bangsa. Karena itu, pastikan mereka terlindungi dan mendapatkan hak-haknya secara baik. Selamat Hari Anak Nasional 2020, Healthies. Anak Telindungi, Indonesia Maju!

Baca juga: Achmad Yurianto Tak Lagi Jadi Jubir Covid-19, Beginilah Perjalanan Karirnya