Mengenal ‘Toxic Masculinity’ dan Bahayanya bagi Kesehatan Mental

toxic masculinity.jpeg

medikastar.id

Toxic masculinity didefinisikan sebagai perilaku sempit terkait peran gender dan sifat laki-laki. Salah satu perilaku toxic masculinity yang paling sering ditemui yaitu saat orang mengatakan “kamu kan laki-laki, jangan menangis ya”.

Dan sebagian besar kaum pria sudah didoktrin dari kecil bahwa mereka harus menjadi pria yang tangguh dan kuat, sehingga pekerjaan “rumah” seperti memasak dan menyapu seharusnya dilakukan oleh perempuan saja.

Simak ulasan di bawah ini tentang toxic masculinity, ya!

Toxic masculinity adalah suatu tekanan budaya bagi kaum pria untuk berperilaku dan bersikap dengan cara tertentu. Istilah ini umum dikaitkan dengan nilai-nilai yang dianggap harus ada dalam diri seorang pria, seperti pria harus selalu menunjukkan kekuatan, kekuasan dan tidak boleh mengekspresikan emosi.

Pasalnya, maskulin adalah sebuah karakteristik yang baik, namun akan menjadi racun atau salah arah saat seorang pria dituntut harus memiliki dan menunjukkan maskulinitas demi menghindari stigma “laki-laki lemah”.

Ciri Toxic Masculinity

Dalam konsep toxic masculinity, emosi cenderung dinilai sebagai kelemahan dan kejantanan identik yang dikaitkan dengan kekuatan, ketangguhan, atau wibawa. Setiap harus mampu untuk menyimpan emosi dalam situasi apapun, khususnya kesedihan dan bersikap dominan, seperti dalam ada patriarki.

Berikut ciri-ciri toxic masculinity:

  • Tidak mengeluh dan menunjukkan emosi
  • Menganggap bahwa pria hanya boleh mengekspresikan keberanian dan amarah
  • Tidak membutuhkan kehangatan atau kenyamanan
  • Tidak perlu menerima bantuan dan tidka boleh bergantung pada siapapun
  • Harus memiliki kekuasaan dan status sosial yang tinggi sehingga bisa dihormati oleh orang lain
  • Berperilaku dominan, kasar dan agresif
  • Cenderung melakukan aktivitas seksual dengan kasar
  • Heteroseksisme dan homofobia

Sikap toxic masculinity dapat tercermin dalam anggapan bahwa pria tidak boleh mengerjakan atau memiliki minat terhadap aktivitas yang identik dengan pekerjaan perempuan.

Kenapa Toxic Masculinity Berbahaya?

Toxic masculinity dapat berbahaya karena membatasi definisi sifat seseorang pria dan mengekang pertumbuhannya dalam bermasyarakat. Pembatasan definisi tersebut dapat menimbulkan konflik dalam dirinya dan lingkungan pria tersebut.

Selain itu, toxic masculinity memberikan beban pada laki-laki yang dianggap tidak memenuhi standar maskulinitas beracun di atas. Jika seorang pria dibesarkan melalui pandangan toxic masculinity, ia akan merasa bahwa ia hanya dapat diterima oleh masyarakat dan lingkungannya jika menunjukkan perilaku toxic di atas.

Ajaran tersebut tentu berbahaya bagi kesehatan mental dan fisik kaum pria bahwa menahan emosi bisa menimbulkan kerentanan untuk mengalami depresi.

Oleh sebab itu, segeralah sadari gejala-gejala tersebut. Setelah itu, jangan dibiarkan saja melainkan cobalah untuk menemui ahli seperti psikolog atau psikiater untuk berkonsultasi dan mendapatkan penanganan. (*/ctr)

Baca juga: Hari Penghapusan Perbudakan Internasional