Panggilan Hati Bupati Flotim untuk Gempur Stunting

Larantuka, medikastar.id

“Kalau di jaman seperti ini masih ada yang meninggal karena gizi buruk, saya tidak mau. Persoalan gizi buruk kita bisa atasi. Kalau bupatinya punya komitmen, maka komitmen itu harus diwujudkan. Ini soal panggilan hati,” tutur Bupati Flores Timur (Flotim), Anton Hadjon, Selasa (18/12/18).

Hari itu, di Hotel Aston Kupang, di hadapan para Bupati se-NTT, para tokoh agama dan lembaga mitra pembangunan yang menandatangani komitmen bersama percepatan pencegahan dan penanganan stunting, Bupati Flotim ini secara khusus membagikan pengalamannya memerangi stunting di Kabupaten Flotim.

Dirinya bercerita tentang Flotim yang telah mendeklarasikan diri untuk menggempur stunting pada tanggal 19 November lalu.

“Kami berjanji dengan sungguh hati untuk: pertama, memerangi sikap tidak peduli terhadap stunting. Kedua, melakukan pembelajaran yang luas kepada semua pihak tentang sebab dan akibat stunting. Ketiga, melalukan gerakan bersama memerangi stunting. Keempat, menurunkan prosentasi stunting di Flores Timur. Kelima, menyatakan tahun 2023 Flores Timur Bebas Stunting. Demikian ikrar kami demi generasi Flores Timur yang sehat, cerdas, tangguh dan berdaya saing.” Begitulah petikan ikrar gempur stunting kala itu.

Kepada Medika Star Anton mengatakan bahwa gizi buruk dan gizi kurang harus diperangi bersama, sembari membangun perilaku dan pola hidup yang sehat menuju bebas stunting.

“Tidak bisa dalam sesaat langsung bebas stunting, tidak. Sehingga jangka pendeknya kita selesaikan kasus yang ada, sementara jangka panjangnya kita bangun perilaku hidup masyarakat,” jelasnya.

“Hal yang paling sulit adalah membangun perilaku masyarakat,” sambung Anton.

Baca Juga: Pemerintah Provinsi NTT Bangun Komitmen Bersama untuk Pencegahan dan Penanganan Stunting

Bupati Flotim, Anton Hadjon bersama Kadis Kesehatan Provinsi NTT

Dirinya menuturkan bahwa kondisi wilayah di Kabupaten Flotim yang terpisah oleh laut bukan menjadi tantangan untuk menggempur stunting. Demikian juga dengan persoalan dana.

Pemerintah Kabupaten Flotim bersinergi dengan berbagai pihak unutk hal ini. Menurutnya, pemerintah Kabupaten Flotim mengalokasikan dana sekitar 10 Miliar untuk menggempur stunting. Sekitar 4 Miliar di antaranya dimanfaatkan untuk pemberian makanan tambahan dan sekitar 2 miliar dianggarkan untuk peralatan.

Pihaknya juga telah mengeluarkan Perbup yang menyatakan bahwa pihak desa akan bertanggung jawab menggunakan dana desa demi menggempur stunting. Dalam hal ini para tenaga kesehatan yang selama ini bekerja sukarela untuk menggempur stunting akan mendapat pembiayaan dari dana desa.

Lebih jauh, Anton menjelaskan bahwa saat ini terdapat sekitar 19 ribu anak balita di Kabupaten Flotim. Dari 19 ribu anak balita tersebut, 8 ribu di antaranya ialah anak di bawah 2 tahun. Hingga saat ini, tercatat bahwa sekitar 400 anak di antaranya mengalami gizi buruk dan sekitar 2 ribu anak mengalami gizi kurang.

Kepada anak-anak yang mengalami gizi buruk, dilakukan intervensi khusus selama 90 hari. Sementara untuk mereka yang mengalami gizi kurang dilakukan intervensi khusus selama 60 hari.

Selain itu, desa ber-STBM pun terus digalakan. Anton yakin bahwa sanitasi yang layak dan pola perilaku hidup bersih dan sehat di masyarakat tentunya akan sangat membantu pencegahan dan penananganan stunting.

Anton, Bupati di kabupaten yang berada di ujung timur pulau Flores ini juga yakin bahwa dengan berpegang teguh pada komitmen dan terus bekerja bersama, Flotim akan terbebas dari masalah stunting. (*/red)

Baca Juga: Wagub NTT: Mulai Januari, ASN Pemprov NTT Harus Pakai Sabun Kelor