Poltekkes Kemenkes Kupang Siap Masuki Revolusi Industri 4.0

Kota Kupang, medikastar.id

Era revolusi industri keempat ditandai dengan penggunaan mesin-mesin automasi yang terintegrasi jaringan internet (internet of things). Menghadapi era yang juga disebut Industri 4.0 itu, Poltekkes Kemenkes Kupang tidak tinggal diam. Kampus kesehatan itu bertekad menjadi bagian dari revolusi tersebut. Karena itu, kampus Poktekkes Kupang mengadakan seminar internasional membahas kesiapan dan tantangan kampus menghadapi revolusi industri tersebut.

Seminar dilaksanakan selama dua hari, Jumat-Sabtu (16-17/11/2018) di Hotel Neo-Aston Kupang. Pesertanya adalah para akademisi, mahasiswa, serta praktisi kesehatan dari RS dan Puskesmas. Para narasumber berasal dari berbagai negara di Asean di antaranya Timor Leste, Thailand,  Malaysia, Filipina, dan Australia serta dari Indonesia sendiri.

Ketua panitia kegiatan, Dr. Mareta B. Bakoil, S.ST,M.PH mengatakan, seminar ini bertujuan menyiapkan pelayanan kesehatan berbasis digital. Untuk para dosen diharapkan bisa melakukan pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat berbasis digital.

“Mulai pengajaran, persiapan, planning, sampai analisis penelitian harus berbasis digital,” ujarnya.

Diharapkan sistem ini mampu melahirkan manusia Indonesia yang mampu menggunakan dan bahkan menciptakan teknologi baru, terutama dalam bidang kesehatan.

Ketua panitia kegiatan, Dr. Mareta B. Bakoil, S.ST,M.PH

Pada hari pertama Jumat (16/11/2018), para narasumber membawakan materi tentang revolusi industri keempat di bidang kesehatan. Di dalamnya diulas implikasi revolusi industri 4.0 dalam bidang kesehatan. Para narasumber juga membahas tentang penerapan industri 4.0 di negara masing-masing beserta tantangan yang dihadapi.

Seminar hari kedua pada Sabtu esok akan diisi dengan presentase hasil penelitian yang sudah dimasukkan ke panitia. Hasil penelitian itu berbentuk poster dan oral presentase. Hasil presentase akan diriview oleh para juri dan kemudian diterbitkan dalam prosiding internasional. Menurut ketua panitia, ada lebih dari 50 oral presentase dan 30-an poster yang siap dipresentasekan.

Baca Juga : Dokter Cilik itu Bernama Klara Bela

Kelor untuk mengatasi stunting

Seminar internasional itu dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT, drg. Dominikus Minggu Mere, M.Kes. drg. Dominikus mewakili Gubernur NTT, Viktor Laiskodat mendukung penuh kegiatan tersebut.

Ia juga mengapresiasi kampus Poltekkes Kemenkes Kupang yang telah mengimplementasikan tri darma perguruan tinggi dengan baik. Terbukti lulusan Poltekkes Kupang telah menjadi pelayan kesehatan yang handal dan profesional di tengah masyarakat.

“Ke depan kita akan mengikutesertakan mereka (para dosen) dalam pengembangan riset-riset di daerah termasuk policy riset (kebijakan kesehatan),” ujar Dominikus.

“Gubernur telah menetapkan kebijakan untuk pencegahan dan pemberantasan stunting. Karena itu, para akademisi di bidang kesehatan harus melakukan riset pemanfaatan kelor untuk penanggulangan stunting di NTT,” lanjutnya.

Direktur Poltekkes Kemenkes Kupang, RH Kristina, SKM.,M.Kes

Sementara itu, Direktur Poltekkes Kemenkes Kupang, RH Kristina, SKM.,M.Kes, menyambut baik tawaran pemprov NTT. Menurutnya, selama ini dosen-dosen di Poltekkes sudah melakukan karya penelitian riset termasuk menjawab problem di NTT seperti stunting.

“Ada beberapa dosen yang sudah melakukan penelitian berbasis kelor. Ada combine makanan berbahan dasar kelor. Makanan itu bernilai gizi tinggi dan diberikan kepada masyarakat.  Ada juga produk minuman berbahan dasar kelor,” ujarnya.

“Dalam pengabdian, kami langsung action di masyarakat dengan membawa program-program ini. Namun, kami masih terkendala dana. Karena itu kami ingin pemprov mendukung kami untuk dapat bersama-sama menangani masalah kesehatan di NTT,” tutur Kristina. (*/Red)

Baca Juga : Pengerjaan Rawat Beton di Dusun Randang Matim Dinilai Tidak Transparan