Semarak NTT Bangkit: Ketua Puskopdit Swadaya Utama Maumere "Tantang" Gubernur NTT

Maumere, medikastar.id

Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Swadya Utama Maumere terus berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat NTT. Saat ini Puskopdit Swadaya Utama Maumere telah membawahi 39 koperasi kredit yang berada di pulau Flores dan Lembata.

Ketua Puskopdit, Petrus Herlemus yang ditemui Medika Star Sabtu (3/11/2018) “menantang” Gubernur NTT dalam rencana dan upaya mewujudkan NTT bangkit dan NTT Sejahtera.

“Saya atas nama seluruh anggota Koperasi meminta upaya nyata Gubernur NTT,  dalam mewujudkan semarak NTT bangkit,” ungkap Petrus yang adalah salah satu ASN pada Disperindag dan Koperasi Kabupaten Sikka ini.

Bagi Petrus, semarak NTT bangkit tidak hanya menjadi slogan belaka. Perlu adanya indikator untuk mengukur dan mewujudkan itu. Bagi Petrus, upaya NTT bangkit dan NTT sejahtera sudah menjadi  kebutuhan dan kewajiban NTT saat ini.

Sebagai satu kebutuhan, maka Petrus bersama seluruh anggota Koperasi terus mendukung agar upaya NTT bangkit NTT sejahtera dapat terwujud dimulai dari sekarang.

Salah satu indikator NTT bangkit, menurut Petrus adalah menggeliatnya wirausaha baru yang berdaya saing pasar. Menurutnya, jika 10 sampai 20 persen masyarakat NTT berusaha, maka dapat dipastikan NTT akan mandiri secara ekonomi. Untuk mencapai ini, menurut Petrus, butuh penggerak dan juga pelaku usaha.

Pada kondisi demikian, Petrus sepakat dengan beberapa ide Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat. Salah satunya adalah upaya  membuka pola pikir generasi muda NTT agar tidak menjadikan PNS sebagai lahan  pencari kerja. Bahkan lebih dari itu Gubernur NTT telah menawarkan para guru honerer menjadi wirausaha.

“Luar biasa. Saya sepakat dengan permintaan Gubernur NTT beberapa saat lalu agar tenaga honor menjadi wirausaha,” tuturnya.

Tujuan dari itu tentu sangat mulia, lanjut Petrus. Dengan tindakan demikian, maka peluang usaha terbuka luas untuk seluruh warga NTT yang mandiri secara ekonomi.

Dikatakan olehnya bahwa saat ini terdapat banyak upaya nyata untuk mendukung itu. Selain mengubah pola pikir kaum muda, juga perlu mengubah pola pikir ASN dan memberi kesempatan kepada ASN menjadi contoh wirausaha.

“ASN perlu diubah mindset-nya ke pola wirausaha yang siap mendatangkan Passive Income. Selain itu, ASN juga diharapkan dapat menjadi motor penggerak ekonomi NTT,ungkap Petrus.

Perwujudan dari itu, Petrus menggunakan beberapa ilustrasi. Salah satunya, jika setiap Kabupaten memiliki sekitar 6000 ASN kemudian didorong menjadi wirausaha, tentu sangat mudah.

“Berwirausaha semestinya tidak dimulai dari masyarakat. Mulailah dari ASN. Masyarakat akan melihat dan menilai ASN sudah buat apa, kemudian masyarakat akan mengikuti,”pintanya.

Untuk memulianya, menurut Petrus, budidaya Sengon merupakan salah satu kuncinya. Kelor sebagai “emas hijau” di NTT sebagaimana sering diutarakan Gubernur NTT, Sengon pun demikian. Pemberdayaannya ramah lingkungan dan siap mendatangkan air di kemudian hari.

Petrus Herlemus saat berada di penangkaran sengon Waigete, Maumere

“Jika setiap ASN diwajibkan menanam 20 pohon. Berapa banyak pohon sengon di NTT. Jika setiap desa  menanam 1000 anakan pohon, berapa banyak sengon di NTT, sedangkan lahan tidur di NTT banyak,” paparnya.

Petrus juga mengungkapkan bahwa NTT membutuhkan inovator-inovator handal yang tidak biasa terjebak dalam rutinitas. NTT membutuhkaan inovator eksekutor. Jika kebijakan pemerintah mewajibkan ASN dan warga menaman minimal 20 pohon, bisa dibayangkan NTT 3, 4 atau 5 tahun ke depan.

Untuk memicu program ini, lanjutnya, diharapkan kebijakan pemerintah dengan program ASN pulang kampong-pulang desa, sebagaimana yang sering diutarakan Gubernur NTT.

“Saatnya ASN melepas semua atribut cemoohan sebagai Abdi Negara yang tidak produktif, konsumtif dan bermental proyek. Harus menjadi ASN penggerak ekonomi, motivator, pemicu pertumbuhan ekonomi baru. Hingga akhirnya ASN sejahtera, pemerintah bahagia, rakyat diayomi dengan baik. NTT bangkit, NTT sejahtera,” tegasnya.

Petrus melanjutkan, apabila budidaya sengon berhasil, maka  dapat dipastikan bahwa NTT akan menjadi provinsi ternak, sebab daun sengon bisa menjadi pakan ternak kambing, dan terdapat ragam manfaat lainnya dari budidaya sengon.

Pada kesempatan yang sama Petrus mengungkapkan bahwa koperasi kredit di NTT telah menyiapkan 3.200.000 bibit Sengon yang siap didistribusikan ke seluruh anggota koperasi dan juga rakyat NTT.

“Koperasi punya data lengkap. Koperasi punya anggota yang tersebar di seluruh wilayah NTT. Jika kekuatan yang ada digerakkan bersama, masih sulitkah NTT bangkit, NTT sejahtera? Ini baru dari satu indikator, masih banyak indikator lain yang menjadi peluang usaha dalam mewujudkan NTT bangkit NTT sejahtera,” jelas dia.

Baca Juga : Kapus Haekesak Ungkap Persoalan Kesehatan Masyarakat di Perbatasan NKRI-RDTL

Terkait Pasaran

Bagi sang ketua koperasi Mitan Gita ini, untuk pasaran Sengon tidak perlu diragukan. Melalui koperasi, pabrik pengolahan plywood berbahan baku sengon akan ada di NTT. Melalui koperasi pula, bibit sengon sudah tersebar ke daerah-daerah dan siap ditanam tahun ini.

Untuk pasaran sengon dewasa, koperasi telah bermitra langsung dengan pabrik. Pabrik tersebut yakni PT. Mustika Group Lumajang Jawa Timur. Koperasi telah berulang kali memfasilitasi petani sengon mengantar langsung ke Pabrik. Pemberangkatan dengan puluhan kontener sengon dewasa langsung dari petani dengan harga terjangkau tanpa biaya pengantaran.

“Saya menghendaki agar program sederhana namun maha besar manfaatnya ini digerakkan bersama, dengan tujuan bersama yakni menggerakkan ekonomi masyarakat NTT. Ini untuk mewujudkan  NTT bangkit, NTT sejahtera,” pintanya.

Petrus Herlemus bersama masyarakat melakukan pembibitan sengon dalam jumlah besar.

Oleh karenanya, Petrus mengakui bahwa kebijakan Pemerintah sangat dibutuhkan.

“Kebijakan pemerintah sangat dibutuhkan saat ini oleh rakyat, yakni subsidi jalur laut untuk masyarakat, sebab pasar terbuka lebar. Pemerintah tidak perlu melakukan intervensi pasar namun pemerintah diminta memfasilitasi menemukan pasar, selanjutnya masyarakat bersama lembaga yang dibentuknya dapat berproses secara mandiri,” paparnya.

Di akhir kata Petrus mencoba memberi ilustrasi.

“Bayangkan jika dalam satu desa terdapat 400 Kepala Keluarga (KK). Setiap KK mengonsumsi beras 25 Kg selama sebulan, maka dalam waktu sebulan satu desa membutuhkan 10 ton beras. Nah, berapa banyak desa di NTT, berapa banyak beras yang dikonsumsi selama sebulan?” paparnya.

“Jika subsisdi jalur laut dibuka kepada rakyat, maka beras dari pabrik langsung ke desa dan sebaliknya komoditi-komoditi dari desa dan kecamatan langsung ke pabrik dan mendapat harga yang layak. Jika semua sembako dan semua komoditi bergerak dalam pola yang sama, bukankah sangat mudah mewujudkan NTT bangkit, NTT sejahtera dari aspek ekonomi?” sambungnya.

“Koperasi siap mendukung pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Koperasi  mempunyai data, koperasi juga mempunyai massa. Mari bersama-sama membangun NTT, NTT bangkit, NTT sejahtera. Saya tantang Gubernur NTT untuk berdiskusi, sebab urusan eksekusi itu wewenang pemerintah,” ungkap Petrus.

Dirinya juga menginformasikan bahwa pada tanggal 8 November 2018 akan diadakan seminar dan penanaman seribu pohon sengon. Acara ini akan dihadiri langsung oleh pemerintah provinsi Nusa Tenggara Timur, pimpinan perusahaan Mustikatama Group Luamayang Jawa Timur, seluruh ketua koperasi, para kepala desa di Sikka, anggota koperasi dan masyarakat umum. Kegiatan tersebut akan berlangsung di Sikka Convention Center (SCC), Maumere Kabupaten Sikka. (*/Dinho Mali)

Baca Juga : Akper Maranatha Kupang Telah Hadir di Kota Soe