SLE (Systemic Lupus Erythematosus)

Oleh: dr. Felix Sugy

SLE merupakan penyakit inflamasi autoimun kronis yang belum jelas penyebabnya, memiliki gambaran klinis yang luas serta tampilan perjalanan penyakit yang beragam. Faktor genetik, imunologik dan hormonal serta lingkungan yang diduga berperan dalam terjadinya SLE.

Penyakit ini terjadi dalam tubuh akibat sistem kekebalan tubuh salah menyerang jaringan sehat. SLE juga melibatkan multi sistem dimana banyak manifestasi klinis yang didapat penderita, sehingga setiap penderita akan mengalami gejala yang berbeda dengan penderita lainnya tergantung organ apa yang diserang oleh antibodi tubuhnya sendiri.

dr. Felix Sugy

Angka kejadiannya didominasi oleh perempuan, dimana perbandingan antara perempuan dan laki laki adalah 10:1. SLE menyerang perempuan usia produktif, puncak insidennya usia antara 15-40 tahun. Di Indonesia sendiri jumlah penderita SLE secara tepat belum diketahui, di Amerika Serikat  insidensnya berkisar  0,05–0,1% dari populasi penduduk.

Manifestasi klinis SLE sangat luas, meliputi keterlibatan kulit dan mukosa, sendi, darah, jantung, paru, ginjal, susunan saraf pusat (SSP) dan sistem imun . Adapun  kriteria dalam mendiagnosis SLE dapat dilihat pada tabel  dibawah ini:

Bila dijumpai 4 atau lebih kriteria di atas, diagnosis SLE memiliki sensitifitas 85% dan spesifiisitas 95%. Sedangkan bila hanya 3 kriteria dan salah satunya ANA positif, maka sangat mungkin SLE dan diagnosis bergantung pada pengamatan klinis. Bila hasil tes ANA negatif, maka kemungkinan bukan SLE. Apabila hanya tes ANA positif dan manifestasi klinis lain tidak ada, maka belum tentu SLE, dan observasi jangka panjang diperlukan.

Pemeriksaan penunjang untuk diagnosis dan monitoring SLE, meliputi :

  1. Pemeriksaan darah lengkap : meliputi hemoglobin, lekosit  dan  diffensial, LED
  2. Urin rutin termasuk protein kuantitatif 24 jam
  3. Kimia darah (ureum, kreatinin, fungsi hati, profil lipid)
  4. PT, aPTT  pada sindroma antifosfolipid
  5. Serologi ANA, anti-dsDNA, komplemen (C3,C4)
  6. Radiologi:  Foto polos thorax,  sendi, echocardiography, MRI Brain

Edukasi yang penting pada pasien SLE berupa memberikan informasi yang benar akan perjalanan penyakit dan kompleksitasnya. Pasien memerlukan pengetahuan akan masalah aktivitas fisik, mengurangi atau mencegah kekambuhan antara lain melindungi kulit dari paparan sinar matahari dengan memakai tabir surya, payung atau topi; melakukan latihan secara teratur. Pasien harus memperhatikan bila mengalami infeksi dan mengatasi secepatnya, perlu pengaturan diet agar tidak kelebihan berat badan. Mengatasi rasa lelah, stres emosional, dan psikis.

Angka harapan hidup pasien dengan SLE di Amerika serikat, kanada, Eropa dan Cina sekitar 95% dalam 5 tahun dan 90% dalam 10 tahun dan 78% dalam 20 tahun.  Pronosis di negara berkembang lebih buruk daripada  negara maju yaitu dengan angka kematian 50% dalam 10 tahun, Prognosis yang buruk sering didapatkan pada kasus dengan   nilai kreatinin yang tinggi, hipertensi, sindrom nefrotik,  anemia,  hipoalbumin dan keterlibatan sistem saraf pusat. (*)