Kota Kupang, medikastar.id
Rumah Sakit St Carolus Borromeus Kupang berhasil meraih penghargaan dari Kementerian Kesehatan RI karena menerapkan konsep Green Hospital (RS Ramah Lingkungan). Penghargaan ini melecut semangat manajemen RS St Carolus Borromeus Kupang untuk menjadikan green hospital ini menjadi sebuah budaya bersama.
Penghargaan yang diterima RS St Carolus Borromeus merupakan salah satu ajang dari rangkaian kegiatan memeriahkan Hari Kesehatan Nasional 2018. Penghargaan ini diberikan kepada rumah sakit-rumah sakit di seluruh Indonesia yang mengimplementasikan konsep Rumah Sakit Ramah Lingkungan. Instrumen penilaiannya adalah dokumen yang sesuai dengan self assessment dan video blogging (vlog) implementasi green hospital.
RS St Carolus Borromeus Kupang merupakan satu-satunya rumah sakit di NTT yang sudah menerapkan konsep ini. Direktur RS St Carolus Borromeus Kupang, dr. Herli Soedarmadji, ditemui Kamis (13/12/2018), mengatakan, sejak awal berdirinya, rumah sakit ini sudah bertekad menjadi rumah sakit yang nyaman bagi pasien dan keluarga pasien. Rumah sakit yang nyaman, lanjut dr. Herli, adalah rumah sakit yang hijau, bersih, dan asri.
Dalam perjalanan, terutama sejak dua tahun terakhir, RS St Carolus Borromeus mulai memperdalam konsep nyaman itu menjadi konsep ramah lingkungan (green hospital). Green hospital, kata dr. Herli, tidak sebatas nyaman, hijau, bersih dan asri. Green hospital menekankan juga asas efisiensi, yakni efisiensi energi (istrik) dan efisiensi air serta daur ulang barang bekas.
Sejauh ini, RS St Carolus Borromeus sudah mulai menerapkan beberapa aspek green hospital, seperti IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) dan pemanfaatan kusen dari bahan non kayu seperti aluminium. Selain itu, RS St Carolus Borromeus juga memakai detergen yang ramah lingkungan, penggunaan lampu jenis LED yang hemat energi, dan pemusnahan limbah menggunakan mesin incinerator.
Penghargaan yang diterima RS St Carolus Borromeus Kupang tidak membuat pihak manajemen membusungkan dada. Penghargaan ini, kata dr. Herli, akan semakin membuat pihak rumah sakit untuk lebih meningkatkan konsep green hospital menjadi sebuah budaya yang dihidupi.
“Memang kita baru mulai dari segi fisik dengan beberapa aspek seperti kebersihan, keasrian, efisiensi energi, dan daur ulang barang bekas. Dan ini pun belum sempurna karena masih harus ditingkatkan lagi. Misalnya menambah beberapa alat pengolahan limbah seperti mesin autoklave yang akan mengolah limbah B3 menjadi non B3 untuk digunakan sebagai bahan batako dan sebagainya,” ujar dr. Herli.
“Ke depan, kami akan mulai lebih serius untuk membangun budaya ramah lingkungan. Karena itu, seluruh elemen di rumah sakit, dari para pimpinan sampai staf harus sudah mulai menerapkan konsep ini. Contohnya untuk hemat energi, lampu yang tidak dipakai dimatikan. Ini memang tidak gampang, tapi harus dimulai,” sambungnya.
Dokter Herli juga mengharapkan agar konsep ini bisa diterapkan di semua rumah sakit. Karena konsep green hospital akan membuat pasien merasa nyaman, dan itu akan sangat membantu proses penyembuhannya. (*/red)
Baca juga: Media Kesehatan Indonesia Tantang Para Calon Pemimpin Adu Program Kesehatan

