Media Kesehatan Indonesia Tantang Para Calon Pemimpin Adu Program Kesehatan

Kota Kupang, medikastar.id

Kesehatan adalah salah satu hak dasar manusia. Dalam Deklarasi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pasal 25 dinyatakan bahwa setiap orang berhak atas taraf kehidupan yang memadai untuk kesehatan dan kesejahteraan dirinya sendiri dan keluarga. Karena itu, calon pemimpin diminta untuk mengadu program kesehatan demi mewujudkan hak dasar tersebut.

Provinsi NTT masih menjadi salah satu provinsi dengan tingkat kesehatan yang rendah. Salah satu alat ukurnya adalah tingkat gizi buruk. Berdasarkan hasil Pantauan Status Gizi (PSG) 2017 prevalensi stunting bayi berusia di bawah lima tahun (Balita) Nusa Tenggara Timur mencapai 40,3 persen. Angka tersebut merupakan yang tertinggi dibanding provinsi lainnya dan juga di atas prevalensi stunting nasional sebesar 29,6 persen.

Kondisi ini membutuhkan penanganan serius dengan melibatkan segenap elemen masyarakat. Baik itu dari diri sendiri, keluarga, pemimpin di semua level dari tingkat RT/RW sampai ke tingkat yang paling tinggi, termasuk para wakil rakyat.

Salah satu aspek penting yang harus diperhatikan menurut dr. Yoseph Elkridus Gonang, General Manajer Media Kesehatan Medika Star adalah pemahaman para calon pemimpin dan pemimpin akan masalah kesehatan.

Pemahaman itu pertama-tama harus dimulai dari diri sendiri dengan menjadi pribadi yang sehat melalui penerapan pola hidup sehat. Karena bagaimanapun juga pemimpin adalah public figure yang tingkah lakunya menjadi perhatian massa. Keteladanan, termasuk dalam pola hidup sehat, diharapkan mendorong pengaruh ke lapisan masyarakat yang dipimpinnya.

Kedua, pemimpin harus mampu membuat orang yang dipimpin menjadi sehat. Itu artinya pemimpin harus mampu melakukan pemetaan terkait problem kesehatan di wilayahnya, menganalisis, dan menemukan jalan keluar berupa paket kebijakan atau aturan serta mengeksekusi kebijakan dan aturan itu secara konsisten.

“Pemimpin dalam konteks yang paling kecil adalah bagaimana memimpin diri sendiri. Saat ini banyak kasus serangan jantung, stroke dan lain-lain. Itu karena orang tidak tahu bagaimana menjaga pola hidup sehat. Selanjutnya dalam lingkup keluarga, kepala keluarga (orang tua) sebagai pemimpin harus paham bagaimana anak-anak harus makan yang sehat, bagaimana hubungan suami istri, tidur malam sesuai aturan jam tidur, dan sebagainya,” ujar dr. Eky.

“Dalam ruang lingkup yang lebih luas, seorang kepala desa, camat, kepala daerah, termasuk wakil rakyat harus punya program yang bisa mengangkat mutu kesehatan masyarakat yang dipimpinnya,” sambungnya.

Baca Juga: Sikat dan Sakit Gigi

Karena itu, dr. Eky mengaku siap memberi ruang diskusi dan kontestasi ide, gagasan, dan program kesehatan bagi para calon pemimpin dan pemimpin di segala level melalui Majalah Kesehatan Medika Star dan portal online medikastar.id. Adu program dan gagasan ini penting karena menurut dia, sebab dengan begitu dapat terlihat seberapa besar perhatian dan solusi mereka terhadap berbagai permasalahan kesehatan di NTT. Dengan demikian pastinya permasalahan kesehatan di NTT perlahan-lahan dapat diatasi.

“Kalau program kesehatan kita masih mengikuti pola tempo dulu, itu tidak relevan dengan perkembangan saat ini. Misalnya, dulu orang masih gemar makan di rumah, maka program Empat Sehat Lima Sempurna itu masuk akal. Tapi sekarang, orang banyak makan di luar, bagaimana program kesehatan itu menyentuh rumah-rumah makan supaya mereka juga menyiapkan makanan sehat. Sehingga pemimpin harus menghadirkan program kesehatan yang memberikan solusi dan sesuai dengan perkembangan zaman,” terang dr. Eky.

“Sebagai pimpinan media kesehatan, yang juga punya klinik dan program kesehatan di bidang pendidikan, kami menantang semua calon pemimpin, siapapun dia, untuk adu program kesehatan. Atau pribadi-pribadi yang ingin membagikan ide-ide dan pengalaman atau kesaksian terkait praktek-praktek baik kesehatan kami menyediakan ruang untuk berbagi agar menjadi inspirasi bagi banyak orang. Kami siap melakukan wawancara dan memberitakan program-program mereka,” tegasnya.

Menurut dr. Eky, upaya promotif dan preventif yang digalakan pemerintah saat ini  harus menjadi gerakan bersama yang dimulai dari pemimpin. Dengan demikian, calon pemimpin atau pun pemimpin harus memiliki pemahaman akan kesehatan dan masalah kesehatan yang ada di dalam masyarakat.

Lebih lanjut, Wakil Pemimpin Medika Star, Petrus Laba, menjelaskan, problem kesehatan yang melilit daerah NTT ini harus segera dicarikan solusi. Solusi itu harus lahir dari sebuah urung rembuk semua stakeholder sehingga mampu menjawab persoalan kesehatan di NTT dari hulu sampai hilir. Tentunya ini demi meningkatkan derajat kesehatan masyarakat sesuai visi besar Gubernur Viktor Laiskodat dan Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi, yakni NTT Bangkit dan Sejahtera.

Karena itu, Petrus meminta pemimpin dari tingkat yang paling rendah sampai yang tertinggi untuk menggagas dan mensosialisasikan progam kesehatan, sehingga NTT bisa keluar dari stigma ‘tertinggal’, termasuk dalam bidang kesehatan.

“Melalui ruang yang disediakan Medika Star, kita akan melihat bagaimana program kesehatan dari pemimpin dan calon pemimpin di semua level dari RT sampai kepala daerah untuk menyelesaikan masalah kesehatan di NTT,” kata Petrus Laba.

Hal senada juga diungkapkan oleh Jefry Kolo, pemimpin redaksi Medika Star. Dikatakan olehnya bahwa permasalahan kesehatan yang ada di NTT saat ini sangat butuh perhatian dan komitmen penyelesaian dari para pemimpin.

“Banyak calon pemimpin saat ini tidak melihat problem kesehatan di NTT sebagai sebuah hal yang harus diperhatikan. Isu yang diangkat lebih banyak isu-isu yang di luar bidang kesehatan, padahal kesehatan merupakan sebuah kebutuhan urgen masyarakat,” katanya.

“Oleh karenanya, kami berkomitmen untuk memberikan ruang bagi para pemimpin dan para calon pemimpin, termasuk para calon wakil rakyat untuk mengadu ide dan program di bidang kesehatan. Dengan begitu masyarakat akan melihat dan mengetahui pemimpin mana yang benar-benar memperhatikan rakyatnya, khususnya dalam aspek kesehatan,” sambung Jefry. (*/ES)

Baca Juga: Punya Fasilitas Lengkap, Ambulans RSU Siloam Kupang Siap Layani Pasien 24 Jam