Ternyata Bullying Dapat Mengecilkan Ukuran Otak

medikastar.id – Kasus bullying atau perundungan di Indonesia berada dalam kondisi yang cukup gawat. Berbagai survey mengungkapkan bahwa anak sekolah adalah kalangan yang paling banyak mengalami bullying. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim menyebutkan bahwa bullying merupakan salah satu dari tiga dosa Pendidikan di Indonesia.

Selain anak sekolah, semua kalangan masyarakat tentu pernah menyaksikan, mejadi korban, atau bahkan melakukan bullying. Seperti yang diketahui, kasus yang termasuk dalam bentuk kekerasan ini memiliki banyak sekali dampak negatif bagi korban. Salah satu dampak yang sangat berbahaya adalah terjadi pengecilan ukuran otak pada korban. Bagaimana sehingga hal tersebut bisa terjadi?

Perundungan memiliki arti penyalahgunaan kekuatan yang digunakan dalam suatu relasi. Penyalahgunaan yang dimaksud dapat berupa verbal atau fisik sehingga membahayakan fisik, mental, dan sosial dari seseorang.

Jenis-jenis Bullying

Perilaku bullying terdiri dari beberapa jenis yang perlu diketahui. Jenis-jenis tersebut antara lain verbal bullying, physical bullying, relational bullying, dan cyberbullying.

Verbal bullying merupakan jenis perundungan yang menggunakan kata-kata secara lisan dengan kasar atau kejam. Hal ini termasuk dalam memanggil nama dengan tidak sopan, mengancam, memberikan komentar menjatuhkan, menghina, serta tidak menghargai.

Bullying jenis ini biasanya dilakukan pada penampilan seseorang, agama, etnis, kekurangan fisik, orientasi seksual, dan lain sebagainya. Contoh bullying jenis ini adalah saat seseorang mengatakan “badanmu sangat besar sekali, dasar jelek” atau “mengapa nilaimu begini saja, dasar anak bodoh!”

Physical bullying merupakan jenis perundungan yang dilakukan secara fisik. Bullying jenis ini dapat berupa mengintimidasi secara fisik. Bentuk intimidasi atau kekerasan yang dilakukan antara lain memukul, menendang, menghalangi, mendorong, dan menyentuh.

Contoh bullying jenis ini antara lain saat seseorang sengaja menyenggol orang lain yang sedang makan hingga piringnya jatuh ke tanah. Selain itu, seseorang yang melakukan sentuhan atau pegangan pada orang lain tanpa persetujuannya (mengakibatkan ketidaknyamanan) juga termasuk physical bullying.

Relational bullying merupakan jenis perundungan yang bekaitan dengan hubungan sosial seseorang. Hal ini biasanya dilakukan pelaku untuk menghalangi seseorang agar tidak bergabung dalam suatu grup atau komunitas. Termasuk saat melarang orang lain untuk bergabung dalam makan siang bersama, berolahraga bersama, atau aktivitas sosial lain dengan cara yang kasar.

Cyberbullying biasanya dilakukan oleh pelaku menggunakan alat komunikasi. Media yang biasanya menjadi tempat terjadinya kasus ini adalah media sosial, pesan singkat, hingga e-mail. Contohnya adalah memberikan komentar yang negatif, menghina, dan membuat orang lain terganggu.

Baca juga: Di Balik Fenomena Tik-Tok: Menari itu Menyehatkan

Gangguan Otak akibat Bullying

Apapun jenisnya, bullying dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pada otak. Gangguan tersebut dapat berupa gangguan mental dan pengecilan ukuran otak.

Gangguan mental yang dapat dirasakan oleh korban bullying adalah stres berkepanjangan. Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa bullying akan meningkatkan hormon stres dan menganggu fungsi otak.

Klaus Miszek, seorang Psikolog dari Tufts University melakukan percobaan pada tikus. Hasil yang diperoleh adalah bullying akan mengakibatkan hormon stress meningkat lebih tinggi. Dampak dari hal tersebut seperti kecanduan obat-obatan yang membuat korban bullying sulit terlepas dari rasa stres.

Hormon stress yang tinggi secara berkepanjangan akan berefek pada menurunnya sistem imun tubuh. sistem imun yang menurun akan mengganggu kerja otak dan membuat seseorang mudah terserang penyakit.

Tak hanya fungsi otak yang terganggu karena hormon stres yang tinggi, mengecilnya ukuran otak juga dapat terjadi. Erin Burke Quinlan dari King’s College London bersama beberapa koleganya melakukan sebuah penelitian berkaitan dengan hal ini. Mereka menggunakan kuesioner dan scan otak pada lebih dari 600 anak muda dari beberapa negara di Eropa.

Dari hasil penelitian tersebut, dikonfirmasi bahwa bullying dapat mengurangi volume dari beberapa bagian otak seperti caudate dan putamen. Caudate adalah bagian otak yang mengatur dalam proses ketika seseorang belajar. Hal ini berhubungan dengan proses mengingat.

Bagian dari otak tersebut menggunakan pengalaman masa lalu untuk mempengaruhi tindakan yang akan dilakukan pada masa depan dan pengambilan keputusan. Putamen adalah bagian otak yang mengatur gerakan dan juga mempengaruhi proses belajar seseorang.

Turunnya volume dari kedua bagian otak tersebut akan mempengaruhi daya pikir, pertimbangan, sensitifitas, fokus, dan perilaku seseorang. Hal tersebut akan mengganggu proses belajar di sekolah, bekerja, dan melakukan semua aktivitas sehari-hari.

Yang perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya kasus bullying adalah dengan mengenal jenis-jenisnya. Hal ini penting dilakukan untuk mencegah seseorang melakukannya tanpa sengaja. Selain itu ia juga dapat mengidentifikasi jika orang terdekatnya sedang mengalami hal tersebut.

Hal penting lain yang perlu dilakukan adalah mengajarkan dan memberikan contoh pada orang sekitar tentang hal saling menghargai. Kalangan utama yang perlu diberi pengertian adalah anak-anak. Dengan memberikan contoh, anak-anak akan memiliki karakter yang menghargai orang lain.

Selain itu, penting juga untuk memberikan pemahaman mengenai tindakan tegas pada pelaku bullying. Tindakan tegas dapat berupa teguran langsung hingga laporan hukum. Hal ini bertujuan untuk memberikan pelajaran bahwa bullying adalah pelanggaran yang tidak main-main.

Hal lain yang juga perlu dilakukan adalah mengontrol media yang digunakan anak-anak. Pengontrolan penting dilakukan agar mereka tidak terpapar konten yang mengandung kekerasan. Cara melakukan hal tersebut adalah dengan memberikan pemahaman dan mengatur batasan (pengaturan) pada gadgetnya sesuai umur.

Meski terkadang dianggap sebagai hal yang lumrah atau candaan biasa, ternyata bullying sangat berdampak negatif bagi otak seseorang. Langkah pencegahan dapat dimulai dari diri sendiri. Pengetahuan akan jenis-jenis bullying dan akibatnya adalah langkah awal yang baik untuk mencegah terjadinya kasus ini.

Dengan mencegah salah satu dari dosa pendidikan di Indonesia ini, anak-anak dan orang sekitar dapat memiliki otak yang lebih cerdas. Otak yang sehat dan cerdas akan memberi dampak baik bagi kemajuan bangsa. (har)

Baca juga: Gubernur NTT: SP Online Harus Bisa Paparkan Data Riil Terkait Kemiskinan