Kota Kupang, medikastar.id
Tindakan bunuh diri menjadi masalah kesehatan jiwa serius yang dihadapi oleh seluruh dunia, bukan saja di negara maju yang tingkat kompetisi hidupnya tinggi. Data WHO menunjukkan bahwa 80% kematian akibat bunuh diri terjadi di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah seperti Indonesia.
Data Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) menunjukkan bahwa tindakan bunuh diri masih didominasi oleh masyarakat berusia di atas 70 tahun, meskipun dalam 3 tahun terakhir terjadi penurunan prevalensi.
Terkait bunuh diri tersebut, tahun ini, dalam rangka peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, Pemerintah Kota Kupang melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) menyelenggarakan berbagai rangkaian kegiatan di bawah tema, “Promosi Kesehatan Jiwa dan Pencegahan Bunuh Diri.”
Sri Wahyuningsih, S.KM, M.Kes, Kabid P2P Dinkes Kota Kupang dalam laporannya yang diterima oleh media ini menerangkan bahwa beberapa kegiatan yang dilaksanakan, antara lain Lomba VLOG kesehatan jiwa antar Puskesmas, seminar deteksi dini orang dengan gangguan jiwa, dan pertemuan teknis pengelola program kesehatan jiwa.

Seminar yang digelar tersebut menghadirkan 2 narasumber utama, yakni Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang yang membawakan materi, “Kebijakan dan strategi pemerintah Kota Kupang dalam Meningkatkan Kesehatan Jiwa” dan dr. D.A.P. Shinta Widari, SpKJ,MRS, yang memaparkan materi, “Peningkatan Kesehatan Jiwa Dalam Upaya Pencegahan Bunuh Diri.”
Yang menarik, dalam kegiatan seminar, secara khusus disinggung mengenai stigma negatif masyarakat tentang jembatan Liliba sebagai tempat ‘favorit’ warga untuk mengakhiri hidup mereka.
“Mari kita promosikan (mengenai kesehatan jiwa) agar jangan sampai jembatan Liliba menjadi terkenal bukan karena panjangnya, tetapi menjadi terkenal karena tingginya maka orang bunuh diri di sana,” kata Wakil Wali Kota Kupang, dr. Hermanus Man saat membuka seminar ini, Selasa (29/10/19).
“Moga-moga tahun depan kita dapat jembatan kembar, kembar di sebelahnya, tetapi jangan sampai lebih ramai lagi orang buang diri di sana,” lanjutnya.

Oleh karena itu, dr. Herman mengajak seluruh tenaga kesehatan yang hadir dalam kesempatan tersebut untuk memperhatikan 3 hal terkait kesehatan jiwa untuk mencegah terjadinya bunuh diri, yakni pelayanan, promosi kesehatan, dan juga pemberdayaan.
“Selain pelayanan, hal yang memerlukan kerja banyak orang ialah aspek proteksi atau perlindungan. Jangan sampai orang mulai menarik diri, mengisolasi diri karena gangguan jiwa, sebab kalau orang sudah menarik diri terus mengisolasi diri maka lama-lama dia akan bunuh diri, sehingga penting untuk diproteksi,” katanya.
Untuk itu, dr. Herman menghimbau agar program proteksi, khususnya terhadap kaum muda dapat direncanakan dan dijalankan di rumah sakit, puskesmas, dan juga klinik yang ada di Kota Kupang.
Di samping proteksi, menurutnya, hal yang juga harus diperhatikan ialah pemberdayaan, sehingga mereka yang mengalami gangguan jiwa bisa menemukan cara yang baik untuk mengekspresikan diri. Dirinya kemudian berharap agar kegiatan-kegiatan pemberdayaan juga harus digencarkan oleh berbagai pihak, baik itu pemerintah, tokoh agama, dan juga para stakeholders terkait.
“Moga-moga seminar ini bisa menghasilkan ide-ide yang pragmatis bagaimana kita dalam kebersamaan memerangi gangguan-gangguan jiwa dan terutama memproteksi masyarakat kita, sebab tentu jauh lebih baik kita mencegah dari pada mengobati,” tutupnya. (*/red)
Baca Juga: Begini Kata Mahasiswa Poltekkes Kupang Tentang Sumpah Pemuda

