Waspada Dampak Stunting dalam Jangka Pendek dan Jangka Panjang

medikastar.id

Hingga sekarang, stunting masih menjadi masalah yang cukup mengkhawatirkan di Indonesia. Meski telah mengalami penurunan, data Riskesdas tahun 2018 menunjukkan bahwa prevalensi stunting di Indonesia adalah sebesar 30,8 persen. Provinsi Nusa Tenggara Timur menjadi penyumbang terbanyak yakni sebesar 42,6 persen.

Angka stunting yang tinggi tentu akan mendatangkan berbagai macam kerugian bagi bangsa, khususnya keluarga dan anak yang mengalaminya. Terdapat dampak dalam jangka waktu pendek dan jangka panjang jika seorang anak mengalami stunting. Dampak-dampak tersebut perlu diketahui agar masyarakat dapat memiliki pemahaman dan kesadaran untuk mencegah stunting sedini mungkin.

Stunting atau yang biasa disebut anak kerdil adalah kondisi gagal tumbuh yang dialami oleh seorang anak. Hal ini dapat terlihat dari tinggi badannya yang kurang dari anak-anak sesusiannya atau minus dua dari standar deviasi yang ditetapkan oleh World Health Organization.

Masalah kesehatan gizi buruk kronis ini tak hanya mempengaruhi fisik anak, namun juga otak anak yang tidak berkembang secara baik. Alhasil, di masa depan nanti, sang anak akan kesulitan dalam hal akademik dan lain sebagainya.

Dampak Jangka Pendek

Dalam jangka pendek, anak akan sering mengalami sakit, bahkan terancam kematian bila tidak ditangani. Selain itu, kemampuan kognitif, motorik, dan verbal dari anak tidak akan menjadi optimal. Hal ini dapat terlihat ketika anak-anak lain terlihat bersemangat, aktif dalam belajar, dan cepat berkembang, namun anak dengan stunting mengalami hal sebaliknya.

Tak hanya bagi sang anak, keluarga pun akan mendapatkan kerugian yang sangat besar berupa pengeluaran biaya yang besar. Pengeluaran itu digunakan untuk pengobatan anak yang sakit dan kebutuhan pendukung lainnya.

Dampak Jangka Panjang

Dalam jangka panjang, anak akan memiliki postur tubuh yang pendek dari teman-teman seusianya yang sehat. Hal ini dapat merugikan dirinya ketika hendak mendapatkan pekerjaan yang membutuhkan tinggi badan proporsional sebagai salah satu kualifikasinya. Selain itu, terdapat juga peningkatan risiko obesitas dan penyakit lainnya.

Kemampuan kognitif yang tidak optimal juga akan terus berlanjut hingga dewasa. Hal ini akan mempengaruhi proses belajar saat sekolah dan performa kerja saat bekerja. Tak hanya itu, kesehatan reproduksinya akan terganggu di masa yang akan datang. Lebih jauh, stunting tidaklah dapat diobati. Jadi, kondisinya fisik dan mentalnya yang tidak optimal akan bertahan secara permanen.

Penyebab dan Pencegahan

Penyebab dari stunting adalah tidak diperhatikannya masa 1000 hari pertama kehidupan (1000 HPK) dari sang anak. Masa ini dimulai sejak masa ibu hamil berusia 0 bulan, hingga anak lahir dan berusia 2 tahun. Masa ini sering disebut masa emas kehidupan seorang anak karena berpengaruh sangat besar bagi kehidupannya seumur hidup.

Selama masa 1000 HPK, ibu hamil perlu mendapatkan asupan gizi yang cukup dan seimbang. Selanjutnya, saat anak lahir, anak tersebut harus mendapatkan ASI ekslusif dan makanan pendamping ASI (MPASI) yang baik. Dengan begitu, pertumbuhan dan perkembangannya akan menjadi optimal.

Selain masa 1000 HPK, persiapan pernikahan dan kehamilan juga sangat berpengaruh. Masa ini dimulai di waktu remaja dan pemuda. Remaja yang sering mengalami kurang gizi dan anemia berpotensi besar untuk melahirkan anak yang stunting. Karena itu, remaja perlu mempersiapkan diri dengan menerapkan pola hidup sehat, agar di masa depan anak yang dilahirkan bisa berada dalam kondisi sehat pula.

Dampak stunting sangat berbahaya bagi masa depan anak dan bangsa. Karena itu, kenalilah dampak stunting dan terapkanlah pencegahannya agar anak dapat bertumbuh sehat dan cerdas.

Baca juga: Penggunaan Thermal Gun dapat Merusak Otak, Yuri: Tidak Benar