BNNP NTT Ajak Tokoh Agama Bersinergi Perangi Narkotika di NTT

Kota Kupang, medikastar.id

Dalam rangka pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika di wilayah NTT, Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) NTT mengajak para tokoh Agama di NTT untuk bersinergi bersama BNNP NTT. Ajakan ini diungkapkan oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat BNNP NTT, Hendrik Rohi, Selasa (28/01/20).

Hendrik mengatakan bahwa saat ini, generasi muda merupakan generasi yang dilihat sebagai ladang yang hijau bagi pengedar untuk menjadi korban penyalahgunaan narkotika. Oleh karena itu, pihaknya tengah mengupayakan berbagai langkah pencegahan agar generasi muda di NTT tidak sampai menjadi korban penyalahgunaan narkotika.

“Program pencegahan kita arahkan ke situ, mencegah generasi muda agar tidak terjerumus jerat narkotika dan memberikan kepada mereka pemahaman lebih mengenai bahaya penyalahgunaan narkotika. Bukan saja kepada mereka tetapi kepada orang tua dan seluruh pemangku kepentingan, termasuk di dalamnya tokoh agama dan tokoh masyarakat,” tuturnya.

Terkait program pencegahan tersebut, lanjut Hendrik, para tokoh agama sebenarnya memiliki peranan yang krusial, mengingat suara ataupun ajakan para tokoh agama biasanya selalu didengar oleh masyarakat, termasuk generasi muda. Oleh karena itu, menurut dia, akan sangat efektif jika para tokoh agama di NTT bersuara mengenai betapa berbahayanya penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika.

“Kita akui bahwa masyarakat akan lebih banyak mendengarkan apa kata para tokoh agama, sehingga jika para tokoh agama menjadi role model dan bisa memberikan nasihat serta contoh dan keteladanan, maka tentu yang lainnnya akan mengikuti,” kata Hendrik.

Selain terkait dengan program pencegahan, lanjut Hendrik, para tokoh agama dapat bersinergi bersama BNNP NTT dalam hal rehabilitasi, khususnya merehabilitasi mereka yang sudah menjadi korban penyalahgunaan narkotika.

“Akan sangat bagus jika lembaga agama memiliki layanan rawat jalan maupun rawat inap berbasis masyarakat bagi para korban penyalahgunaan narkotika. Hal ini karena umumnya, orang termasuk para korban penyalahgunaan narkotika lebih merasa aman dan nyaman ketika datang dan mengaku di para tokoh agama,” tutur Hendrik.

Selain itu, dikatakan olehnya bahwa para tokoh agama banyak mengetahui persoalan-persoalan yang ada di masyarakat, sehingga akan sangat efektif jika para tokoh agama ikut berperan mengajak para korban penyalahgunaan narkotika untuk menjalani rehabilitasi.

“Kuncinya ialah para tokoh agama. Paling tidak, melalui para tokoh agama para korban penyalahgunaan narkotika mau untuk direhabilitasi. Bila perlu para korban penyalahgunaan narkotika ini dibawa langsung oleh tokoh agama ke BNNP NTT untuk direhabilitasi. Pintu rehabilitasi selalu terbuka untuk mereka yang mau datang,” lanjut Hendrik.

Baca Juga: Kadis Kesehatan NTT Pastikan Belum Ada Kasus Virus Corona di NTT

Pembinaan Rohani & Mental Pegawai BNNP NTT

Sementara itu, untuk meningkatkan aspek rohani dan mental para pegawai BNNP NTT agar tetap fokus dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika di wilayah NTT, BNNP NTT menggelar Ibadah bersama sekaligus pembinaan rohani dan mental bagi seluruh pegawainya. Acara ini berlangsung di aula BNNP NTT, Selasa (28/01/20).

Usai ibadah menurut kepercayaan Kristen tersebut, Hendrik Rohi menjelaskan bahwa pembinaan rohani dan mental bagi seluruh pegawai BNNP NTT merupakan agenda tetap yang dilaksanakan oleh BNNP NTT setiap tahunnya. Di tahun ini, BNNP NTT akan melaksanakan agenda ini sebanyak 3 kali.

“Kali ini kita ibadah bersama menurut ajaran dan kepercayaan Kristen. Nanti menjelang hari raya Idul Fitri, kita akan melaksanakan agenda yang sama menurut ajaran dan kepercayaan sesama kita yang Muslim. Sementara menjelang Natal nanti akan kita laksanakan menurut ajaran dan kepercayaan Katolik. Semuanya kita sesuaikan dengan jumlah pegawai BNNP NTT,” jelasnya.

Dijelaskan bahwa kegiatan pembinaan rohani dan mental ini bertujuan untuk menggugah seluruh pegawai BNNP NTT agar mau melakukan yang terbaik dalam tugasnya dengan mengacuh kepada ajaran agamanya masing-masing.

“Karena memang semua ajaran agama mengajarkan kita mengenai kebaikan, toleransi dan kesetiakawanan. Tugas kami di BNNP NTT ini ialah tugas panggilan untuk mewartakan kebaikan, sehingga paling tidak kami sendiri harus dibekali,” katanya.

Selain itu, menurut Hendrik kegiatan ini sangat penting bagi pegawai BNNP NTT mengingat ketahanan iman harus dimiliki oleh seluruh pegawai tersebut. Pasalnya, jika tidak memiliki ketahanan iman yang kuat, mereka akan mudah dipengaruhi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, khususnya dalam kaitannya dengan program pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika.

“Penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika ini masuk dalam kejahatan luar biasa, sehingga berbagai cara akan digunakan oleh berbagai pihak untuk melihat celah dan mempengaruhi pegawai BNN. Apabila mental dan rohani pegawainya lemah maka dia akan gempang sekali dipengaruhi oleh paham-paham yang tidak benar, termasuk di dalamnya narkotika,” ungkapnya.

“Oleh karena itu, orang-orang yang bekerja di BNNP NTT harus memproteksi dirinya, termasuk dengan cara pembinaan rohani dan mental seperti ini. Kepala BNNP NTT pun dalam setiap kesempatan dan arahan selalu menekankan mengenai hal ini,” tutup Hendrik.

Terpantau, kegiatan pembinaan rohani dan mental yang dihadiri oleh seluruh pegawai BNNP NTT ini berjalan dengan baik. Usai Ibadah, acara ditutup dengan ramah tamah sederhana. (*/red)

Baca Juga: Antisipasi Virus Corona, RSUD W.Z. Johannes Kupang Lakukan Sejumlah Persiapan