Kota Kupang, medikastar.id
Ribuan mahasiswa dari Fakultas Kedokteran Undana, Fakultas Kesehatan Masyarakat Undana, dan berbagai kampus kesehatan lainnya di Kota Kupang secara serempak membagikan abate bagi seluruh warga Kota Kupang. Dikoordinir oleh seluruh Kepala Puskesmas yang ada di Kota Kupang dan dibantu oleh para tenaga kesehatan di Puskesmas, pembagian abate ini dilaksanakan pada Jumat (25/01/19).
Pembagian abate ini tidak terlepas dari kondisi Kota Kupang saat ini yang tengah mengalami KLB (Kejadian Luar Biasa) Demam Berdarah Dengue (DBD). Hingga Jumat (25/01/19), tercatat telah terjadi 134 kasus DBD di Kota Kupang.
“Mereka (mahasiswa) akan dibagi dalam tim oleh masing-masing Puskesmas, dikoordinir oleh kepala puskesmas dan penanggung jawab kelurahan. Sehingga paling tidak hari ini 1000-2000 rumah bisa kita jangkau,” tutur Kepala Bidang P2P Dinkes Kota Kupang, Sri Wahyuningsih, S.KM,M.Kes, Jumat (25/01/19) di Puskesmas Oesapa.
Menurut Sri, jumlah mahasiswa kesehatan yang bergerak membagikan Abate di wilayah Kota Kupang hari ini mencapai sekitar 1200 mahasiswa. Abate yang dibagikan tersebut , lanjutnya, diharapkan dapat digunakan oleh warga secara baik.
“Fungsinya ialah untuk membunuh jentik. Jadi kita pakai ini, sehingga jika ada jentik, dia tidak menjadi nyamuk. Dengan begitu kita setidaknya memutuskan mata rantai perkembangan nyamuk,” lanjut Sri.
Baca Juga: Kasus DBD di Kota Kupang Meningkat Menjadi 134 Kasus

Ia menekankan DBD merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue yang ditularkan dari orang ke orang melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti. Oleh karenanya, penting sekali semua warga memperhatikan lingkungan rumahnya agar bebas dari jentik maupun nyamuk Aedes Aegypti.
“Saat ini hampir semua rumah sebenarnya memelihara nyamuk. Ada banyak kaleng-kaleng bekas, botol bekas, ban bekas dan sebagainya tersebar di lingkungan rumah dan itu kemudian menjadi sarang berkembang biaknya nyamuk,” jelas Sri.
Sri berharap agar pelaksanaan pemberantasan sarang nyamuk dan penaburan abate yang berjalan serentak di seluruh Kota Kupang memberikan dampak positif. Selain itu, diharapkan agar warga Kota Kupang rutin menguras tempat penampuangan air, menguburkan benda-benda yang menjadi tempat perkembangan biakan nyamuk serta menutup rapat tempat penampungan air.
Sementara itu, dr. Trio Hardhina, kepala Puskesmas Oesapa yang turut memonitoring mahasiswa membagikan abate menuturkan bahwa para mahasiswa akan turun ke seluruh RT yang ada di wilayah kerja Puskesmas Oesapa.
“Mereka akan membagikan langsung abate bagi warga di rumah-rumah,” katanya.

Terpisah, Alex Salu, salah satu warga RT 18-RW 07 Kelurahan Oesapa yang mendapat abate dari petugas kesehatan Puskesmas Oesapa dan para mahasiswa mengapresiasi langkah yang diambil oleh pemerintah tersebut.
“Terima kasih dengan adanya pemberian bubuk abate ini. Ini sangat baik bagi kami. Sebagai warga, kami selalu lakukan pembersihan setiap hari demi mengantisipasi,” tuturnya.
Pantaun Media ini, di wilayah RT 18-RW 07 Kelurahan Oesapa, petugas Puskesmas Oesapa bersama para mahasiswa terlihat bersemangat mendatangi rumah warga. Tidak hanya membagikan abate, mereka juga langsung menabur abate tersebut di bak penampungan air milik warga. Bahkan para petugas kesehatan juga menyempatkan diri untuk memberikan edukasi mengenai langkah-langkah mencegah DBD.
Baca Juga: Ini Data Kasus DBD di Seluruh Kelurahan di Kota Kupang
Jumantik untuk Setiap Rumah
Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang, dr. I Wayan Ari Wijana S. Putra, M.Si dalam Rapat Koordinasi Penanggulangan KLB DBD di kantor Wali Kota Kupang, Kamis (24/01/19) mengharapkan agar setiap rumah di Kota Kupang memiliki Jumantik (Juru Pemantau Jentik).

“Setiap rumah harus ada yang namanya Jumantik, juru pemantau jentik. Targetnya ialah setiap rumah harus ada satu jumantik. Di kota Kupang ini ada sekitar 69.000 rumah, jadi kita harus punya jumantik sebanyak itu,” tuturnya.
Menurut dr. Ari, kepala keluarga atau siapa saja di dalam rumah dapat menjadi Jumantik.
“Tugasnya mudah, begitu ada jentik di dalam rumah, infokan ke kita, kita akan datang untuk memberi abate,” jelasnya. (*/red)
Baca Juga: 127 Kasus, Kota Kupang Tetapkan Demam Berdarah sebagai KLB

