medikastar.id
Menjadi penderita Covid-19 merupakan sebuah kerugian bagi pasien. Diperlukan perjuangan dan semangat yang tinggi agar pasien Covid-19 dapat bertahan dan menggapai kesembuhan. Selama berjuang melawan penyakit di dalam tubuh, penderita dapat mengalami perubahan dalam beberapa aspek hidupnya, tak terkecuali dalam aspek mental.
Dilansir dari The New York Times, sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa sepertiga dari pasien Covid-19 mengalami perubahan mental. Perubahan mental dapat disitilahkan dengan sebutan ensefalopati. Penelitian yang melibatkan 509 pasien di 10 Rumah Sakit di daerah Chicago tersebut diterbitkan di Annals of Clinical and Translational Neurologi.
Studi yang dilakukan menunjukkan bahwa perubahan terjadi pada tanda-tanda fungsi neurologis yang menjadi lebih buruk. Contohnya, pasien akan merasa bingung hingga tidak responsif seperti koma. Pasien yang mengalami perubahan neurologis bahkan menjalani perawatan tiga kali lebih lama di Rumah Sakit dibandingkan yang tidak.
Dr. Igor Koralnik, Penulis Senior Studi, serta Kepala Infeksi Saraf dan Neurologi Global di Northwestern Medicine mengatakan bahwa terdapat perbedaan antara pasien yang mengalami perubahan mental dan pasien yang tidak. Perubahan terlihat saat pasien dipulangkan.
Dari semua pasien yang mengalami perubahan mental, hanya 32% dari totalnya yang dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dalam keadaan normal. Di sisi lain, sebesar 80% dari total pasien tanpa perubahan mental dapat menjalankan setiap rutinitasnya tanpa bantuan. Aktivitas-aktivitas tersebut seperti memasak dan membayar tagihan.
Dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari, pasien sembuh yang mengalami ensefalopati mengalami beberapa cakupan masalah. Masalah-masalah yang ada seperti kesulitan dalam hal perhatian dan konsenterasi, kehilangan memori jangka pendek, disorientasi, pingsan, dan sangat tidak responsif.
“Ensefalopati dikaitkan dengan hasil klinis terburuk dalam hal kemampuan untuk mengurus urusan mereka sendiri setelah meninggalkan rumah sakit, dan kami juga melihatnya terkait dengan kematian yang lebih tinggi, terlepas dari tingkat keparahan penyakit pernapasan mereka,” kata Dr. Koralnik.
Meski begitu, Dr. Koralnik menambahkan bahwa hingga kini masih terdapat sedikit bukti yang menyatakan bahwa virus secara langsung menyerang sel-sel otak. Sebagian besar ahli neurologis pun mengatakan bahwa gangguan fungsi mental kemungkinan dipicu oleh peradangan, serta respon sistem kekebalan yang sering memengaruhi organ lain, termasuk otak.
Di sisi lain, Dr. Serena Spudich, Kepala Infeksi Neurologis dan Neurologi Global di Yale School of Medicine mengungkapkan bahwa yang terpenting dari paper tersebut adalah ensefalopati di rumah sakit dapat menjadi prediktor untuk kemungkinan hasil yang lebih buruk.
Dr. Spudich menambahkan bahwa penemuan tersebut memberikan saran dalam hal penanganan. Saran tersebut adalah orang yang mengalami perubahan mental di rumah sakit bisa saja mendapatkan manfaat dari pemantauan atau rehabilitasi pasca keluar yang lebih intensif.
Lebih jauh lagi, terdapat fakta lain dalam studi tersebut. 162 pasien yang mengalami ensefalopati merupakan laki-laki dan berusia tua. Selain itu, mereka memiliki gangguan kesehatan lain seperti riwayat kelainan saraf, kanker, penyakit ginjal kronis, penyakit serebrovaskular, kolesterol tinggi, gagal jantung, serta hipertensi atau perokok.
Perawatan pasien Covid-19 perlu dilakukan secara baik. Para tenaga medis telah dan sedang terus berjuang untuk menangani pasien Covid-19 yang ada. Penyakit yang masih baru ini memang masih memiliki berbagai macam aspek yang perlu terus digali oleh para ahli.
Karena itu, masyarakat perlu terus memberikan dukungan pada para ahli dan tenaga medis yang sedang berjuang. Dukungan yang diberikan dapat berupa menjalankan setiap protokol kesehatan yang diberikan secara disiplin dan taat.
Video: Tetap Optimis, Kita Bisa!
[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=wBggnhBCiOE[/embedyt]
